
Dari dulu Jonathan selalu konsisten dengan pilihannya. Jika Ia sudah menikahi seorang perempuan. Jonathan tidak pernah ingin ada perceraian diantara mereka, sehingga itu masih akan di terapkannya dalam pernikahan bersama Miranda.
Tak ingin larut dalam prasangka negatif, Jonathan menggeret kotak nasi yang ada di depan Miranda, lalu mengulurkan sendok yang sudah terisi itu ke mulut istri kecilnya, "Kalau begitu ayo dimakan lagi nasinya sampai habis."
Miranda menurut dan melahap nasi itu. Sesaat sebuah ketukan pintu berhasil mengganggu kebersamaan mereka.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk...!" Jawab Jonathan dari dalam. Tak lama Nicko pun masuk untuk menghadap kepadanya.
"Maaf Pak, acara untuk iklan kita akan segera di mulai. Apakah Bapak bisa menyaksikan proses Shootingnya?"
"Baiklah, tunggu sepuluh menit lagi!" Tukas Jonathan dengan tegas.
"Baik Pak!"
Nicko berpamitan kembali, sedang Jonathan melanjutkan untuk menyuapi Miranda.
__ADS_1
"Om, kalau buru-buru, biar Miranda makan sendiri saja gak papa kok." Tak tahu diri saja rasanya kalau Miranda terus menyusahkan Jonathan.
"Gak papa, ini jauh lebih penting buat aku saat ini," jawab Jonathan, yang masih saja terus menyuapi Miranda.
"Ih, Om Jo. So sweet banget deh, pasti Mama Bara bahagia banget punya Suami pengertian kayak Om!"
Itu tidak benar, Mir. Aku memang mencintai Meilinda. Tapi aku dulu tak seperti ini dengannya karena aku selalu sibuk dengan bekerja dan bekerja tanpa ada waktu buat dia...
Miranda sedikit menelisik wajah Jonathan yang terlihat menyimpan luka di hatinya. Merasa bersalah telah membahas hal itu, Miranda pun mengembangkan senyum lalu menggapai tangan kiri Jonathan yang tergeletak di meja.
"Maafin Miranda ya, Om. Sudah kembali mengingatkan Om sama masa lalu. Hal itu pasti gak mudah kan buat Om Jo!"
"Ya udah, habisin dulu aja makananmu!" Jonathan meraih laptopnya dan sibuk dengan sesuatu. Berbeda dengan Miranda yang langsung cepat-cepat menghabiskan nasi itu agar tidak menghalangi Jonathan untuk pergi.
"Kenapa makannya kayak kesetanan gitu?" Tegur Jonathan yang ternyata menyadari aksi Miranda.
"Hehehe...!" Miranda hanya nyengir dengan nasi yang sudah penuh di mulutnya.
"Pelan-pelan saja, itu tidak baik buat pencernaanmu!" Ujar Jonathan lagi.
"Iya, Om." Terpaksa Miranda pasrah dan megunyahnya pelan-pelan atau pria itu akan terus memperingatkannya.
__ADS_1
****
Usai menghabiskan nasi kotak itu, Jonathan mengajak Miranda ikut ke ruang dimana acara shooting iklan sedang berlangsung.
"Ayo ikut, Om. Biar gak bosen disini sendiri!"
"Oke, Om!" Miranda berjalan mengikuti Jonathan sampai kesebuah tempat.
Melihat ada banyak orang disana yang sebagian lelaki semua membuat Miranda jadi sedikit tidak nyaman. Apalagi saat Jonathan mendekati seorang perempuan yang akan menjadi bintang iklannya itu terlihat sangat cantik dan seksi dengan pakaian kurang bahan itu, mengapa hati Miranda menjadi tidak rela melihatnya.
Ya ampun, kenapa pakaian sempit begitu di pakai sih? Bikin kesel aja ngeliatnya...
Usai berbincang-bincang dan mengarahkan bagaimana cara artis yang kini sedang naik daun itu berakting. Jonathan kembali menghampiri Miranda.
"Kenapa diam aja disitu, duduk di sofa sana!"
"Iya, Om."
Dari kejauhan dimana dia benar-benar duduk di sofa, Miranda makin kesal jadinya saat Jonathan ikut turun tangan membantu akting artis itu sambil pegang-pegang karena selalu saja salah.
Astaga, kenapa artis itu bodoh sekali sih? Atau cuma alasan dia lagi biar di pegang-pegang sama Om Jo...
__ADS_1