Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 20 Kagum


__ADS_3

"Ayo Mir...!"


Jonathan menuntun Miranda kembali keluar dan meminta izin terlebih dahulu pada pihak sekolah untuk membawa Miranda kerumah sakit.


Tentu saja tidak terlalu sulit untuk Jonathan mendapatkan Izin, karena pada dasarnya kepala sekolahnya sudah mengenal Ia jauh sebelum Bara dan Miranda sekolah disana.


"Om, perut Miranda makin sakit ni. Miranda gemeteran dan pusing sekarang!" Rengeknya lagi sambil menyeka keringat yang nampak banjir di dahi gadis itu.


Jonathan yang sebenarnya tidak ingin teman-teman Miranda melihat aksinya terpaksa harus nekat membopong Miranda masuk ke dalam mobil. Sebagai seorang suami, tentu Ia tidak ingin sampai terjadi apa-apa pada Miranda.


"Eh, Miranda kenapa tu? Kok Om nya sampai gendong-gendong dia kayak gitu?" Tanya salah seorang teman Miranda hingga mengundang perhatian Salsa dan Marry.


"Ya ampun, jangan-jangan Miranda beneran sakit lagi. Tapi sakit apa ya? Kok gak pernah cerita sama kita?" Tanya Salsa mulai khawatir.


"Aduh, iya ni. Kok aku jadi takut ya kalau Miranda kenapa-napa. Nanti kita jenguk aja deh kerumahnya?" Usul Marry kemudian.


"Ide bagus Mar, kita pergi bareng ya entar!"


"Oke deh!"

__ADS_1


***


Jonathan makin panik melihat Miranda tiba-tiba sampai mau muntah saat mobil masih berjalan. Beruntung Jonathan cekatan memberikan kantong kresek yang entah sudah sejak kapan sudah ada di sana.


Hoek!


Hoek!


"Aduh, kenapa jadi mual banget ya sekarang?"


Miranda mengeluarkan isi perutnya sampai tuntas, sedangkan Jonathan hanya bisa memperhatikannya saja karena Ia masih sibuk Fokus untuk menyetir.


"Kamu akan sering mengalami hal itu sampai masa kehamilanmu menginjak lima bulan, Mir. Bahkan ada yang sampai melahirkan," tukas Jonathan kemudian.


"Tergantung sih, kadang juga hanya sampai tiga bulan. Tapi apakah kau yakin mau menyelesaikan sekolahmu dalam kondisi seperti ini?" Jonathan balas bertanya dengan nada khasnya yang begitu dingin dan tampang nya yang sangat datar.


Miranda terdiam, mana mungkin Ia keluar begitu saja dari sekolah. Sedang hatinya masih sayang untuk melakukan hal itu.


"Ada tong sampah di sana!"

__ADS_1


Jonathan menghentikan mobil dan mengambil alih kantong kresek dari tangan Miranda untuk membuangnya.


Melihat Jonathan yang tidak jijik sama sekali, Miranda jadi tersenyum dan semakin kagum dengan kedewasaan pria yang seharusnya akan menjadi mertuanya itu.


"Kenapa senyum-senyum begitu?" Seloroh Jonathan dengan alis terangkat sebelah. Saat Ia duduk kembali di samping Miranda.


Perempuan lugu itu menggelengkan kepalanya, mana mungkin Ia mengaku senang atas perhatian Jonathan selama ini.


"Gak apa-apa Om, tapi sebaiknya kita pulang saja dulu kerumah. Miranda tidak mungkin kan pergi kerumah sakit dengan berpakaian seperti ini," tukasnya mengalihkan pembicaraan.


"Ide yang bagus, Om juga ingin mengatakan hal itu padamu!"


Mendengar ada kesamaan, bola mata Miranda sampai membias dengan sempurna, "Benarkah? Apa itu artinya Om Jo memang di takdir kan untuk menjadi suami Miranda?"


Jonathan mengernyit tak mengerti, cukup kaget juga mendengar ocehan tidak masuk akal dari gadis tengil itu,


"Maksudmu?"


Miranda jadi tertunduk malu sambil sesekali menyunggingkan senyum kecil ke arah Jonathan yang tak cukup mengerti akan perangai perempuan di sampingnya.

__ADS_1


Tapi sebagai pria yang sudah cukup berpengalaman, Ia tahu betul kalau sebenarnya Miranda masih sangatlah labil. Bahkan Jonathan tidak yakin kalau Miranda benar-benar mencintai putranya Bara.


Saat mengingat masa-masa di sekolah adalah kisah cinta yang tumbuh belum lah menjurus ke arah yang serius. Bisa di sebut itu adalah cinta Monyet yang sering di alami oleh ABG labil seusia Miranda.


__ADS_2