
"Em, anu itu...!"
Miranda garuk-garuk kepala bingung. Tidak tahu mau mengatakan apa. Rasanya akan sangat memalukan jika dia mengaku kalau sekarang ini dia tengah mengandung anak Bara dan menikah dengan Jonathan yang seharusnya akan menjadi calon mertuanya.
"Aduh...!" Pekik Miranda tiba-tiba. Perutnya terasa bergejolak dan ingin muntah. Padahal tadi baik-baik saja.
"Mir, Lo kenapa?" Tanya Salsa khawatir sembari memantik tatapan aneh ke arah Miranda.
Hoek!
Miranda tak dapat lagi menahan hasratnya untuk muntah. Hingga Ia memaksakan diri pergi ke toilet dan memuntahkan segalanya.
"Ih, Miranda kenapa Mar? Ayo kita ikutin! Sepertinya dia beneran sakit deh?" Ajak Salsa yang segera menarik tangan Marry.
"Iya, iya, Ayuk kita lihat."
__ADS_1
Kedua remaja putrinya itu bergegas menyusul dan melihat Miranda nampak begitu pucat dengan mulut yang sudah basah oleh air keran yang tersedia disana yang sengaja di pergunakan untuk mencuci tangan.
"Mir, lo sakit apa sih? Cerita dong sama kita. Kok Gue jadi panik ngeliat lo kayak begini?" Mohon Marry dengan tampang memelas. Berharap Miranda mau berbagi keluh kesah.
Sejak pertama mereka memutuskan menjalin persahabatan. Mereka sudah sepakat untuk saling terbuka dalam hal apa pun. Namun nyatanya Miranda malah mangkir dan tidak mau menceritakan apa masalah yang tengah di hadapinya.
Sesaat tawa Miranda meledak memperhatikan wajah kedua sahabatnya itu sangat mengkhawatirkannya. Lalu memeluk keduanya dengan begitu hangat, "Is, apaan sih? Emangnya siapa yang sakit? Apa kalian gak lihat kalau aku baik-baik saja sekarang? O ya, pasti kalian pengen tahu kan alasannya kenapa aku tinggal di rumah Om Jonathan?"
"Om Jonathan?" Salsa dan Marry menatap kearah Miranda bersamaan.
"Maksud Lo, Om Jonathan itu ngangkat lo jadi anak?" Tanya keduanya lagi bersama. Entah kenapa hal itu kerap sekali terjadi pada keduanya yang sudah seperti satu hati yang terpisah menjadi dua.
"Ya, anggap saja begitu. Udahlah gak penting juga ngurusin hal itu. Yuk ke kelas, kayaknya bentar lagi bel deh!"
Ketiganya bergegas masuk ke dalam kelas 12A berbaur bersama teman-teman yang lain. Sedang asyiknya bercengkrama, Bima yang melihat wali kelas belum masuk memutuskan untuk menghampiri Miranda lebih dulu.
__ADS_1
"Mir, kemaren Bara nelpon," bisiknya dengan nada yang lirih.
Miranda mengernyitkan dahi mencoba untuk mencerna ucapan sahabat Bara itu, "Lantas?"
"Lo gak kangen sama dia?" Sambung Bima lagi.
Miranda mengulum bibir, tidak tahu harus mengatakan apa tapi yang pasti Ia sudah tak lagi merasakan kangen berat seperti saat Bara baru meninggalkannya waktu itu.
"Gak penting, males banget bahas dia lagi. Sudah sana pergi. Nanti Bu Lusi masuk dan ngeliat lo disini, yang ada lo di hukum lagi?" Usir Miranda yang mendorong Bima dengan sikutnya.
"Tunggu dulu dong, aku cuma mau nyampaiin pesan aja dari Bara. Kalau dia akan menikahi kamu setelah lulus sekolah nanti!"
"Apa?" Sentak Miranda dengan suara terkaget-kaget.
"Apanya yang apa?" Sahut Bu Lusi yang baru muncul dari ambang pintu. Hingga semua siswa jadi ikut-ikutan menatap mereka. Sampai akhirnya taring Bu Lusi keluar juga.
__ADS_1
"Bima, ngapain kamu di situ? Cepat balik ke bangku kamu atau berdiri di bawah tiang bendera sampai pelajaran Ibu selesai!" Sentak Bu Lusi yang sudah melotot dan marah-marah lebih dulu.