
"Aduh, maaf banget ya Mir, Tante gak bisa kalau untuk sekarang ini. Soalnya Tante Masih sibuk ngurus butik Tante, sekarang. Lagian kamu juga masih sakit kan?" Timpal Bella yang sebenarnya hanya beralasan saja.
Mana mungkin Bella mau melakukan hal itu di depan Mama Mutia, karena saat ini Ia sedang mencari perhatian dari perempuan itu.
"Iya Tante, gak papa. Kan bisa kapan-kapan saja belajarnya!"
Tidak ingin Miranda banyak bicara, Jonathan menyela perbincangan mereka, "Udah dulu ngobrolnya? makan aja dulu yang bener!"
Jonathan kembali menyuapi Miranda, akan tetapi ada beberapa biji yang belepotan di bawah bibir Miranda hingga Jonathan replek memungutnya dengan tangan.
Pemandangan itu benar-benar memuakkan untuk di lihat. Bara tidak bisa mengendalikan dirinya lantas pergi meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamar.
Jonathan tahu betul, Bara sangat marah dengan sikapnya. Tapi bagaimana pun juga Bara harus belajar menerima kenyataan kalau sekarang ini Miranda telah menjadi Ibu tirinya. Walaupun itu akan terbilang janggal untuk di utarakan secara lisan.
"Tante, Miranda ini anak saudara Tante yang mana?"
Pertanyaan Bella tentu sangat mengejutkan Jonathan dan Miranda saat ini. Begitu juga Mama Mutia. Perempuan itu mengira, kalau Bella sudah tahu akan status keduanya.
__ADS_1
"Aduh, maaf ya Bell, Tante kebelet ni. Mau kebelakang dulu!" timpal Mama Mutia yang tak dapat lagi menahan hajatnya.
"Oh, oke Tante. Kalau gitu Bella pamit aja sekalian ya. Mau ke butik soalnya!" izin Bella yang merasa keberadaanya sudah tidak nyaman lagi disana.
"Buru-buru banget, Bell," sahut Jonathan yang masih fokus menyuapi Miranda.
Dalam hati, Miranda sendiri makin tak enak karena Ia telah menjadi duri yang sudah tega telah menggores hati Bella dan juga Bara.
"Kenapa?" Tanya Jonathan. Saat bella dan Mama Mutia sudah pergi.
"Sepertinya Tante Bella ada rasa deh sama Om Jo?" Miranda sangat kesal jika itu memang benar.
Jonathan rupanya tidak perduli akan pendapat Miranda soal perasaan Bella. Bagi Jonathan, selamanya Bella hanya akan menjadi seorang sahabat. Dimana Ia selalu bersedia mendengarkan keluh kesah dari Bella tentang masalahnya dengan Agung.
Setiap hari, Jonathan membuat Miranda semakin terpesona dengan perhatiannya. Ia selalu saja hadir menjadi suami yang siaga dalam segala hal yang Miranda butuhkan. Baik dalam makan dan minum maupun kebutuhan lainnya.
Hari-hari itu akhirnya terlewatkan dengan begitu cepat, sudah dua minggu berlalu, Miranda akan memulai kegiatannya untuk bersekolah lagi karena Mereka akan menghadapi Ujian nasional serentak se Indonesia. Terkhusus untuk kelas tiga SMA yang akan menentukan kelulusan mereka.
__ADS_1
"Mir, udah selesai belom?" Tanya Jonathan yang sudah siap dengan setelan jas yang di pakainya.
"Bentar Om, Miranda lupa nyimpen dasinya. Dimana ya?"
Perempuan itu masih saja berkutat di depan lemari yang sudah acak kadul karena ulahnya yang konyol itu. Ia sudah mengubek-ubek semua pakaian di dalamnya. Tapi tetap saja Miranda tidak menemukan barang apa yang di carinya.
"Ah, apa mungkin tertinggal di rumah sakit ya?" Timpal Jonathan dalam diamnya.
Pria dewasa itu pun memutuskan menutup laptop lalu menemui miranda di tempat itu. Sesaat Jonathan terpelongo dengan isi di dalam lemari itu.
"Ya ampun, kok jadi kayak kapal pecah begini sih, Mir?" Celetuk Jonathan dengan alis terangkat.
"Habis Miranda kesel nyarinya dari tadi gak
ketemu juga, Om," jawab Miranda sembari cengar-cengir.
"Ya udah tutup aja pintunya, nanti kita mampir ke toko pakaian buat beli. Udah siang ni keburu terlambat," ujar Jonathan dengan bola mata yang memantik kearah arloji yang melingkar di tangan kirinya.
__ADS_1
"Hehehe... Maaf ya Om. Nanti pulang sekolah, Miranda bakal benerin kok."