
Melihat Miranda minum sangat banyak, Jonathan jadi merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu lagi pada Miranda.
Jonathan tidak memiliki maksud apa pun sebenarnya, dia hanya ingin Miranda tidak berpura-pura dalam keadaan baik-baik saja padahal tertekan karena telah memilih hidup bersamanya hanya karena marah dan kecewa pada Bara.
"Mir, Om minta maaf karena harus bertanya lagi soal ini. Tapi tujuan Om hanyalah satu. Supaya kamu memikirkan ulang keputusanmu untuk hidup bersama Om. Agar kamu tidak menyesal di kemudian hari. Jujur saja Om sudah pasti akan lebih cepat tua darimu. Dan Om tidak ingin kamu mempermasalahannya di kemudian hari," terang Jonathan panjang lebar. Sesekali meleguk salivanya dengan perasaan yang sangat kelu. Antara harus mengorbankan perasaannya maupun Bara.
Selama hidup berdua beberapa waktu belakangan ini. Jujur saja Jonathan mulai merasa nyaman pada Miranda. Kelucuan dan tingkah laku Miranda telah berhasil membuatnya merasa hidupnya yang seakan mati itu perlahan-lahan mulai hidup kembali.
"Om, Miranda juga mau minta maaf kalau kehadiran Miranda sudah membebani hidup Om. Tapi Miranda juga sudah yakin kok, kalau Miranda bisa hidup lebih baik jika bersama Om. Bukan karena kaya atau apa pun itu. Tapi Miranda merasa lebih terlindungi jika ada di dekat Om," jawab Miranda seraya mengembangkan senyumnya.
"Kamu yakin tidak akan menyesali ini?" Jonathan perlu memastikan lagi.
Miranda menganggukkan kepala. Tidak perduli apa pun yang akan terjadi pada kisahnya dan Bara. Sebab Miranda sudah belajar melupakan masa lalunya.
__ADS_1
Jonathan mengusap-usap rambut Miranda, lalu mengeluarkan sebuah kotak dari saku bajunya.
"Mungkin ini konyol Miranda, tapi Om sangat berharap perasaan Om ini juga tidak salah. Om mau kamu mendampingi Om sampai nanti ajal menjemput Om!" Jonathan membuka isi kotak itu dan memperlihatkan sepasang cincin dan sebuah kalung berlian berbadul inisial ia dan Miranda J&M.
"Om serius?" Miranda sangat senang melihat hadiah istimewa itu.
Menganggap itu adalah suatu pengikat, Jonathan meminta tangan Miranda untuk memasangkan cincin itu di jari manis sebelah kanan milik Miranda. Dengan senang hati Miranda melakukannya.
"Semoga saja tidak kebesaran ya?"
"Longgar gak? Kalau longgar kita tukar saja nanti?"
"Gak kok Om, ini cincin yang bagus!" Miranda sangat senang mendapatkannya.
__ADS_1
Hadiah kedua kembali Jonathan raih. Lalu meminta Miranda menyibak rambutnya. Sebelum akhirnya Ia bangkit dari duduknya.
Sesaat Jonathan selesai memasangkan kalung itu. Sungguh suatu anugerah bagi Miranda telah mendapatkannya. Seumur-umur Ia tidak pernah memakai perhiasan apa pun di tubuhnya. Paling banter juga perhiasan mainan yang di belinya di tukang mainan pas ada acara orgenan.
"Kamu suka gak dengan hadiahnya?" Tanya Jonathan yang sudah kembali duduk di depan Miranda.
"Suka banget, Om. Ini adalah pengalaman dan hadiah pertamaku memakainya!"
Jonathan mengangguk-anggukkan kepala, lantas mengulurkan jarinya, "Kalau begitu pasangin juga punya Om!" Pintanya dengan senyum yang hangat.
"Oke Om."
Miranda mengambil cincin itu dan segera memakaikannya ke salah satu jari milik Jonathan yang besar-besar itu.
__ADS_1
Sesaat Jonathan tertegun melihat cincin ikatan tersebut telah mereka pakai. Sempat terbersit di benak Jonathan kalau Ia sudah berhasil menjadi Ayah yang jahat untuk Bara. Seakan-akan kalau apa yang terjadi selama ini. Dialah perusaknya. Bagaimana mungkin yang memacari putranya dan yang menikahi malah Ayahnya.