
Jonathan pun meminta Miranda yang setengah sadar, naik keatas punggungnya. Mereka harus pulang karena besok, Miranda masih harus menghadapi ujian di hari kedua.
"Ayo Mir, lingkarkan kedua tanganmu ke leher Om!"
"Kita mau kemana sih, Om? Miranda ngantuk banget ni?" Tanya Miranda, dengan bola mata yang masih enggan untuk terbuka.
"Pulanglah, kita kan masih di kantor sekarang!".
Miranda pun segera menuruti permintaan suaminya itu sampai mereka tiba di depan Lobby di mana Nicho telah menunggu untuk membukaan pintu.
Sesampainya di rumah, Jonathan tak lagi menggendongnya di punggung tapi mempobongnya di depan sampai Mama Mutia yang membukakan pintu makin kesal melihatnya.
"Ya ampun Jo, jangan terlalu memanjakan istri. Nanti dia jadi gak tahu diri lo sama kamu!"
__ADS_1
"Miranda tidur, Ma. Kasihan kalau di bangunin. Ya udah Jo ke kamar dulu ya."
Jonathan pun meninggalkan Mama Mutia yang tak bisa lagi berkata-kata. Meski dalam hatinya Mama Mutia sangat ingin marah pada Miranda, tapi Ia tak akan berdaya jika ada Jonathan di samping perempuan tengil itu.
Jonathan juga tak pernah mau mendengarkan ocehan Mama Mutia. Akan lebih baik jika Ia fokus saja dengan kehidupannya sendiri.
Dulu waktu sama Meilinda pun, Mama Mutia kerap kali ikut campur hingga keributan sering mewarnai pernikahan mereka. Itulah salah satu alasan Jonathan jarang berada di rumah waktu itu. Tapi itu gak akan berlaku lagi sekarang. Jonathan juga harus punya prisip dalam rumah tangganya sendiri tanpa ada yang mengusiknya lagi.
Setibanya di kamar, Jonathan merebahkan bobot tubuh Miranda yang mungkin tak akan lebih berat dari berat karung beras lima puluh kilogram itu ke atas ranjang.
"Mir...!" Jonathan kaget dan ingin melepaskan diri tapi Miranda mempererat pelukankan ke leher Jonathan agar pria itu tak melepaskan ciumannya.
"Apa yang kamu lakukan, Mir? Ayo lepaskan Om?" Jonathan sedikit mengeraskan suaranya, berharap Miranda bisa mengerti.
__ADS_1
Tak ingin Jonathan marah, Miranda pun melonggarkan kedua tangannya.
"Maaf Om, Miranda khilaf. Tapi kan selama ini Om sudah menjadi suami yang baik untuk Miranda. Apakah Miranda gak boleh kalau mau belajar menjadi istri yang baik," ucapnya dengan perasaan bersalah.
Jonathan menatap netra yang sedikit masih menyisakan rasa kantuk itu dengan lekat. Sesekali meleguk salivanya hingga jakun di leher pria itu bergerak-gerak.
"Belum saatnya," jawab Jonathan lirih. Meski sebenarnya Ia sendiri menginginkan hal lebih. Dengan harus kuat menahan sesuatu yang sudah sangat tegang di bawah sana.
Sejak dekat dengan Miranda, Jonathan memang jadi mudah terpancing. Namun Ia tidak bisa melakukan hal itu sesuka hati karena bisa di bilangkan, kalau pernikahan mereka ini terjadi karena terpaksa.
"Om, aku tahu kalau Om menginginkannya. Jadi kalau Om mau, lakukan saja Om, Miranda siap kok lahir dan batin," yakin Miranda lagi.
"Apa kamu lupa kalau Dokter belum mengizinkan kita bersentuhan sampai dua bulan kedepan!" Jonathan takut akan dampaknya.
__ADS_1
"Udahlah Om, jangan dengarkan Dokter. Mereka juga hanya manusia biasa. Belum tentu apa yang mereka katakan itu benar adanya. Om lihat sendirikan kalau Miranda baik-baik saja. Kenapa harus menunggu terlalu lama?"