
"Tapi mereka bisa di percayakan?" Jonathan tampaknya tak mengkhawatirkan hal itu.
"Semoga aja sih, mulut mereka gak ember," timpal Miranda lagi sembari menggerus bumbu pindang tadi sampai halus.
Setelah selesai, Jonathan segera menumisnya sejenak lalu memasukkan ikan tersebut kedalamnya di susul dengan air satu gayung.
"Om, Miranda boleh tanya lagi gak?"
"Soal apa?" Timpal Jonathan tanpa menoleh sedikit pun hingga tiba-tiba Miranda memeluknya dari belakang.
"Soal pertanyaan Miranda tadi siang, kenapa Om memilih jadi duda selama delapan belas tahun?"
Jonathan terdiam sejenak, tentu saja tak mudah baginya untuk jatuh cinta lagi. Karena cintanya yang sangat besar pada Meilinda. Jonathan mengira kalau Meilinda akan menjadi cinta pertama dan terakhirnya sampai tua nanti. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain dengan mengambilnya lebih cepat dari perkiraan Jonathan.
"Mungkin karena aku tidak bisa jatuh cinta lagi," jawab Jonathan asal.
"Apa? Jadi Om cinta mati sama Tante Meilinda?" Tanya Miranda lagi.
"Bisa di bilang seperti itu. Tak ada yang sedewasa, setulus dan selembut dia selama aku mengenal perempuan!" Tukas Jonathan dengan lenang.
Mendengar hal itu, Pikiran Miranda mulai berkelana. Jadi dirinya juga tidak akan bisa menggantikan posisi Mama Bara itu sekalipun sekarang Ia telah menjadi istri Jonathan.
__ADS_1
"Kenapa diam?" Jonathan mematut wajah itu menjadi mendung.
Miranda mengembangkan senyumnya, Ia tak bisa berkata-kata lagi karena jawaban Jonathan mematahkan keinginannya untuk meminta perhatian lebih dari pria itu.
Apa lagi Miranda juga sadar kalau anak yang di kandungnya adalah milik Bara. Jadi mana mungkin Jonathan akan memperlakukannya seperti seorang istri yang hamil saat mengandung anaknya sendiri.
"Om, Miranda ke kamar dulu ya!" Pamit Miranda kemudian. Perempuan itu bergerak pergi sembari mengusung wajah yang tertekuk lesu ke arah kamar.
Sesampainya di sana, Miranda duduk di tepi jendela sambil mengamati dedaunan yang bergoyang oleh tiupan angin tak jauh dari tempatnya berada.
Bunga-bunga indah itu sudah tumbuh tinggi dan subur. Di waktu tertentu bunga-bunga itu akan mengembang dengan sangat indah di sana. Hingga bisa memuja bola mata saat berada di dalam kamar.
Tapi nyatanya keindahan itu tak dapat mengubah situasi hati Miranda yang benar-benar merasa sedih sekarang. Ia memikirkan akan seperti apa nasib Ia dan anaknya nanti Jika tiba-tiba Jonathan menceraikannya.
"Mikirin apa?" Jonathan rupanya sudah menyusul dan berdiri di samping Miranda.
"Eh, Om. Gak ada kok. Cuma ngeliatin Kupu-kupu itu berterbangan." Miranda menunjuk kearah hewan kecil nan lucu dan indah itu berterbangan kesana-kemari.
"Oh... ku pikir apa. Ayo...!" Ajak Jonathan kemudian membuat bola mata Miranda terlonjat.
"Kemana, Om?" Tanya Miranda yang jadi lupa ingatan dengan permintaannya sepulang sekolah tadi.
__ADS_1
"Bukan kah kamu ingin tidur di pangkuanku?" Jonathan mengingatkan ulang, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang.
Miranda terpaku dalam bingung, kenapa perasaannya menjadi kacau. Ia jadi ragu mau melanjutkan keinginannya atau tidak. Sebab Ia tidak mau membebani laki-laki itu setiap waktu.
Apa lagi mengingat ucapan Jonathan tadi kalau Ia tidak punya keinginan menikah lagi sejak Mama Bara meninggal. Itu berarti Sudah di pastikan kalau Jonathan menikahinya hanya karena merasa kasihan dan perlu bertanggung jawab untuk menggantikan Posisi Bara.
"Ayo...!" Desak Jonathan lagi tidak sabar.
"I- iya, Om," jawab Miranda ragu-ragu. Tapi apa mau di kata. Miranda segera membaringkan diri dan memposisikan kepalanya di pangkuan Jonathan.
Sesaat tangan kekar itu membelai pucuk kepalanya dan sentuhan itu benar-benar membuat Miranda merasa sangat dilindungi.
"Apa kau juga menginginkan sesuatu?" Jonathan memastikan lagi supaya ngidamnya Miranda terpenuhi.
Miranda menggeleng kecil, "Gak ada, Om. Terima kasih sudah mau mengabulkan keinginan Miranda?"
"Gak masalah, itu sudah menjadi kewajiban Om bukan? Jadi istirahatlah sekarang?" Timpal Jonathan lagi yang memindahkan tangannya ke perut datar Miranda.
Sesaat tubuh perempuan itu mengejang.
Ada getaran aneh yang tiba-tiba menyengat tubuhnya. Ia berharap Jonathan sedang tidak bermaksud menggoda dirinya.
__ADS_1
"Om, maaf ya Miranda jadi membebani hidup Om Jo sekarang?" Tukas Miranda lagi tak enak hati.
"Berhenti meminta maaf, karena itu gak akan mengubah apa pun sekarang," Ujar Jonathan yang ternyata tak mau Miranda merendah kan dirinya terus-menerus.