Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 24 Periksa


__ADS_3

"Sudah selesai?" Seloroh Jonathan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Udah Om, itu bajunya!"


Miranda menunjukkan pakaian Jonathan yang telah di persiapkannya sedari tadi. Miranda juga sudah imut dengan dandanan ala-ala remaja yang biasa di lakukannya.


Melihat hal itu, Jonathan merasa senang. Rupanya Ia bisa melihat Miranda seceria ini. Sebab saat pertama kali datang kesana, Miranda masih sering murung memikirkan anak semata wayangnya si Bara.


Namun sikap kecil Miranda yang telah menyiapkan pakaian itu mengingatnya pada Wanita yang kini sudah pergi meninggalkannya.


Mengapa kau cepat sekali perginya...


Jonathan jadi melamun, membayangkan masa-masa indah saat sang istrinya masih hidup. Kini kisah itu hanya menyisakan kenangan-kenangan manis yang sangat sulit untuk di lupakan.


"Om...?" Miranda menatap lekat ke arah Jonathan dengan kening mengkerut, "Mikirin apa, Om?" Tanyanya lagi sangat penasaran.


"Gak ada, bukan urusanmu."


***

__ADS_1


Usai berpakaian keduanya langsung meluncur ke rumah sakit. Beruntung Dokter kandungan masih ada di tempat karena ada puluhan pasien yang tengah melahirkan hari itu.


"Gimana dengan bayinya Dok?" Tanya Jonathan. Usai di USG.


"Alhamdulilah sehat, Pak. Usia kehamilannya masih sangat muda ya. Saran saya, mulai sekarang, sebaiknya Mbak Miranda jangan kerja berat dulu. Rajin minum vitamin, dan makanan-makanannya yang segar seperti buah dan sayur, selain baik untuk janin, hal itu juga bermanfaat untuk mengurangi rasa mualnya!"


"Oh, baik Dok. Saya akan memperhatikan makanan yang di konsumsinya!" Jawab Jonathan. Layaknya suami siaga.


Sesuai janji, usai periksa. Keduanya menuju ke toko buah. Dimana buah-buahan yang berjajar di tepi jalan itu nampak segar-segar dan menggugah selera Miranda yang tak sadar meneguk liurnya sendiri.


"Om, aku mau ini!" Pintanya menunjukkan ke arah Buah Mangga.


"Boleh mintak satu lagi, eh gak deng. Dua deh, Om. Boleh kan? Boleh ya?" Rengeknya sambil bergelayut di pundak Jonathan.


Mungkin tidak ada yang mengira dengan jauhnya usia mereka yang terpaut. Sebab wajah Jonathan masih terbilang seperti usia pria dewasa pada umumnya. Usia tiga puluh tujuh tahun tidak membuatnya terlihat seperti orang yang sudah tua pada kebanyakan orang.


Jonathan pun langsung memesan satu kilo dari lima macam buah segar yang menurutnya sangat bagus untuk Miranda.


"Lah kok jadi lima, Om. Kan Miranda mintanya tiga doang?" Oceh Miranda lagi sambil garuk-garuk kepala.

__ADS_1


"Kau pikir, aku juga gak punya kesukaan sepertimu?" Timpal Jonathan dengan tampang dinginnya yang kembali terpancar.


Perempuan tengil itu jadi manyun sendiri. Memang benar yang di katakan Jonathan kalau dia juga punya kesukaannya sendiri.


Setelah menyimpan buah-buahnya di jok belakang. Keduanya pun masuk ke dalam mobil, "Adakah yang masih kamu inginkan?" Jonathan tidak ingin ribet jika Miranda meminta sesuatu lagi saat mereka telah sampai di rumah.


"Gak ada, Om. Itu udah cukup kok. Makasih ya Om?"


Jonathan tidak menimpali dan mulai melajukan mobilnya. Tak lama ponsel Jonathan berdering. Siapa lagi kalau bukan telpon dari sahabatnya Bella.


"Jo, temanin aku nonton yuk!" Ajak Bella tanpa basa-basi. Saat tahu Jonathan sudah menghubungkan jaringan keduanya.


"Kapan?"


"Sekarang, ada film romantis bagus banget kamu pasti suka. Mulainya jam enam sore ini!"


Jonathan menelisik ke arah jam di lengannya yang masih menunjukkan pukul setengah lima.


"Oke deh, nanti kita ketemuan aja di bioskop!"

__ADS_1


"Siap, aku tunggu ya Jo!"


__ADS_2