
Pagi-pagi sekali Miranda di buat kaget saat mengetahui kalau Jonathan sudah tidak ada di samping tempat tidurnya lagi.
Miranda pikir Jonathan mungkin sedang mandi di dalam ruangan lembab itu saat ini hingga Ia kembali meringkuk.
Akan tetapi baru saja berbaring, Miranda malah di kagetkan oleh kedatangan Bara.
"Mir, aku perlu bicara sekarang ayo bangunlah!"
Tak asing lagi dengan suara itu, Miranda langsung bangkit dari posisinya, "Bara, ngapain kamu disini?"
Pemuda itu tak bergeming dan buru-buru duduk di dekat Miranda, "Beri tahu aku sekarang, apa kau benar-benar sudah tak cinta lagi samaku. Tolong jawab yang jujur, Mir?"
Bagaimana Miranda akan menjawabnya, Ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini. Tapi yang pasti, Miranda sudah sangat yakin kalau keputusannya untuk bersama Jonathan adalah pilihan terbaik.
__ADS_1
"Udahlah Bar, aku males bahas itu lagi. Bukankah ini yang kamu mau, saat kamu tidak punya perasaan sedikit pun untuk meninggalkan aku di hari pernikahan kita?" Tukas Miranda dengan berani. Tak sadar air mata meluncur begitu saja mengingat ulang kejadian hari itu.
"Aku sadar aku salah, Mir. Saat itu aku benar-benar dalam keadaan kalut. Tapi setelah aku pikirkan ulang. Aku baru sadar kalau anak itu butuh Ayahnya!"
Bara ingin menyentuh perut Miranda, akan tetapi perempuan itu dengan keras menepisnya, "Tolong jangan ganggu aku lagi, Bar. Akan lebih baik kalau anak ini tidak punya Ayah cemen sepertimu!" Hardik Miranda dengan suara melengking.
Akan tetapi Bara tidak mau mendengarkan, Ia tidak perduli apa pun soal kemarahan Miranda terhadapnya karena yang Ia mau Miranda harus segera mengubah keputusannya untuk bercerai dengan Jonathan.
"Aku harap kamu pikirkan ini lagi, Mir. Papaku itu sudah tua. Jadi sangat tidak pantas rasanya kalau kamu tetap bertahan dengan Papaku!" Bara meyakinkan lagi kalau perkataannya adalah bebat.
"Akan lebih baik, jika itu yang terjadi," timpal Miranda dengan tegas hingga membuat Bara sedikit melebarkan bola matanya.
Sesaat kedua remaja itu saling menatap, mereka tidak menyadari kalau sebenarnya Jonathan sudah ada di ambang pintu. Pria itu baru saja keluar mencari sesuatu yang di butuhkannya.
__ADS_1
"Udah lah Bar, Sana pergi. Aku gak mau Om salah paham sama aku nanti!" Usir Miranda sambil sedikit mendorong-dorong tubuh Mantan kekasihnya yang masih duduk di dekat Miranda.
"Oke, iya. Tapi aku gak akan nyerah buat ngedapetin kamu lagi, Mir!"
Bara segera beranjak dan hal itu membuat Jonathan memilih untuk bersembunyi di balik pintu. Biar saja Bara tidak tahu kalau dia telah mendengar semuanya.
"Apa Bara menyakitmu?" Tanya Jonathan setelah yakin Bara sudah menjauh dari kamarnya.
"Tidak, Om. Maaf kalau pagi-agi Miranda sudah buat keributan!"
Jonathan menganggukkam kepala, "Mandilah sekarang, karena kita akan berangkat lebih pagi hari ini. Sebab Om ada meeting pukul delapan nanti, di kantor!" Titah Jonathan. Masih seperti biasa. Nadanya begitu dingin tapi selalu penuh perhatian dan kepedulian.
Miranda yang melihat jam weker di atas nakas menunjukkan pukul lima lewat lima puluh menit pun segera bangun dari ranjang lalu pergi ke kamar mandi.
__ADS_1