
Tak ingin suasana bertambah kaku, Miranda buru-buru mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk seadanya agar bisa pergi dari tempat itu.
"Em... maaf Om. Miranda makan di kamar aja ya sambil ngerjain PR dari sekolah. Jadi Om dan Tante ngobrol aja sepuasnya!"
"Loh, kok gitu?" Jonathan ingin mencegah Miranda akan tetapi Bella malah menghalanginya.
"Udah Jo, biarin aja. Mungkin itu akan memudahkan Keponakan kamu kalau belajar sambil makan!"
"Oh gitu ya?"
Miranda berusaha menyunggingkan senyum pada keduanya lalu masuk ke dalam kamar. Tapi sesampainya disana Miranda tidak mengerjakan PR karena sebenarnya itu tidak ada. Tapi Miranda hanya mengindari keduanya agar tak melihat sesuatu yang tidak seharusnya Ia lihat.
Sesaat Miranda teringat dengan Bara. Ia pun mengambil kalung pemberian mantan kekasihnya itu dari dompet yang ada di dalam tas sekolahnya.
"Bara, aku kangen sama kamu. Tapi kenapa sih kamu malah jahat banget ninggalin aku dan anak kita hanya karena gak mau nikah?"
Tak sadar air mata Miranda meleleh sambil mengusap-usap perutnya yang masih datar. Dulu Ia menaruh cinta yang sangat besar pada Bara, namun semuanya telah hancur dalam sekejap. Kehadiran anak untuk sebagian orang mungkin adalah sebuah anugerah tapi tidak tepat bagi Miranda yang saat ini masih sangat belia dan juga punya harapan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi dari sekarang.
Rasa perih yang dialami Miranda, rupanya menjadi perhatian Jonathan yang sudah berdiri di depan pintu. Ia juga melihat kalau nasi yang di bawa Miranda tadi masih utuh di meja makan.
__ADS_1
"Higs... Bara, aku benci sama kamu. Kenapa kamu tega sih Bar, biarin aku kayak gini sendirian?" Kesal Miranda lagi sambil terus terisak-isak.
"Gak ada gunanya menangis?" Sahut Jonathan dengan nada sedingin salju.
Pria itu mendekat dan mengambil alih kalung pemberian putranya itu dari tangan Miranda, agar perempuan itu belajar melupakan Bara.
"Balikin Om?"
"Biar kenangan kamu sama Bara, Om yang simpan. Karena akan lebih baik jika kamu makan sekarang?"
"Tapi Om_?"
Jonathan tidak perduli dan kembali meninggalkan Miranda yang terpaku di tempatnya. Entah apa maksud pria itu Miranda sendiri tidak mengerti.
Keesokan harinya, Miranda kembali berangkat ke sekolah. Seperti biasa Ia kembali diantar oleh Jonathan yang harus rela mengantar jemput Miranda setiap hari.
Saat baru saja sampai sekolah, Jonathan melihat teman-teman Miranda yang menunggunya kemaren memakai pakaian olahraga dan itu membuat Jonathan sedikit mengkhawatirkan kehamilan perempuan belia itu.
"Apakah hari ini ada jam pelajaran olahraga?" Tanya Jonathan lirih.
__ADS_1
"Iya Om, nanti saat jam pelajaran kedua," jawab Miranda dengan santai.
"Olahraga apa?" Jonathan ingin memastikan apakah itu berdampak bahaya atau tidak nanti bagi kehamilan Miranda.
Perempuan belia itu hanya menggidikkan kedua bahu tanda tak mengerti, lalu berpamitan pada Jonathan agar segera pergi saja untuk bekerja.
"Makasih ya Om!"
Jonathan hanya mengangguk kecil lalu melajukan mobilnya meninggalkan kawasan sekolahan itu. Ia memang bekerja di sebuah perusahaan yang besar. Jadi dia harus selalu memantau dan mengendalikan perusahaan agar terus maju di kemudian hari.
"Hei Mir, kok belum ganti baju?" Tanya Salsa heran.
"Loh, emangnya harus sekarang ya? Bukannya nanti jam kedua?" Tanya Miranda yang tidak mengerti maksud kedua sahabatnya.
"Oh kamu lupa ya kalau hari ini kita ada lomba, dari pagi hingga siang?" Tukas Marry kemudian.
"Oya? Aduh kok kalian gak kasih tahu sih?" Miranda jadi kelabakan dan langsung mengeluarkan seragamnya dari dalam tas.
"Mir...!" Panggil Pak Rudi yang melihat mereka ada di dekatnya.
__ADS_1
"Iya Pak," jawab Miranda yang segera menghampiri Guru olahraganya itu.
"Kamu ikut lomba bola voli ya?"