
Melihat Miranda sedekat itu dengan Jonathan kenapa rasanya sangat menyebalkan sih. Bella berharap rencananya tadi adalah dia duduk di samping Jonathan. Makan satu bungkus popcorn berdua tanpa si tengil itu.
Satu jam berlalu, Jonathan melihat Bella seperti orang menggigil hingga Ia memutuskan untuk membuka jaketnya. Bella berpikir, sikap Jonathan itu pasti berlaku untuknya yang hanya memakai pakaian tanpa lengan. Tapi nyatanya jaket itu berlabuh ke pundak Miranda yang menyunggingkan senyum ke arah Jonathan.
"Makasih, Om!"
Sial, kok jadi ke Miranda sih? Kan yang kedinginan di sini adalah aku?...
Filmnya terlalu romantis untuk Miranda, Ia tidak menduga kalau di sana banyak adegan ciuman yang membuat orang baper di buatnya.
Ya ampun, cowok itu imut banget, jadi inget sama Bara waktu pacaran...
Tak sadar, air mata Miranda meleleh di buatnya, dan itu mampu mengundang perhatian Jonathan yang langsung menyandarkan kepala Miramda ke pundaknya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Kenapa Jonathan sesayang itu sih sama Miranda? Padahal kan cuma keponakan? Kenapa gak sama aku aja sih? Ih, nyebelin banget tu anak. Bisa gagal kan semua harapan indah yang ke impikan tadi...
Mereka pun kembali Fokus untuk menonton. Adegan lainnya saat si Cowok menggendong si cewek yang menikah karena perjodohan ke atas ranjang membuat Miranda meleguk salivanya. Hal itu mengingatkannya lagi pada Jonathan yang sangat sering memperhatikan hal-hal kecil padanya, termasuk menggendong. Tapi apakah mungkin Jonathan akan mencintainya seperti di film itu.
"Ya ampun, Mir. Ayo duduk yang bener dong. Filmnya seru banget kan? Gak asyik ah, nyandar begitu?" Bella merayu berharap Miranda mau mendengarkannya.
__ADS_1
"Gak mau, Tante. Lebih asyik begini kok. Jadi romantis kayak di film itu!"
Is, susah banget sih dibilangin. Seharusnya aku kan yang ada di sana sekarang. Bener-bener ya, biar saja aku kasih pelajaran dia nanti...
Tinggal setengah jam lagi durasi menontonnya yang ternyata sampai jam sembilan malam melebihi perkiraan Jonathan, entah sejak kapan Miranda sudah terlelap di pundaknya. Mungkin itu yang di sebut orang tentang sebuah kenyamanan di dalam pelukan suami.
Melihat wajah yang begitu polos itu, tak sadar Jonathan mengembangkan senyumnya, sembari mengusap-usap lembut pucuk kepala Miranda.
"Tidur Jo?" Bella memantik penuh kekesalan ke arah Miranda. "Kalau kamu pegel, biar aku gantiiin aja Jo!" Tawar Bella, supaya Miranda bisa sedikit menjauh pada Jonathan.
"Gak perlu, biarkan saja dia disini!" Jonathan membenahi kepala Miranda yang tadinya menyandar asal dengan mengalungkan tangan kekarnya ke pundak Miranda.
Setelah film romantis yang di tonton itu selesai. Jonathan sengaja membiarkan semua orang keluar lebih dulu karena Ia akan menggendong Miranda di punggungnya.
"Kenapa gak di bangunin aja si Jo? Ngeribetin tauk! Eh, maksud saya nanti pundak kamu pegel lagi. Diakan udah remaja!"
Bukan tanpa sebab Bella mengatakan itu. Hanya saja Ia tidak terlalu suka dengan kedekatan keduanya. Tapi untuk protes secara terang-terangan untuk memulangkan Miranda saja pada orang tuanya tentu Ia takut Jonathan akan tersinggung mendengarnya.
"Gak papa, tubuhnya ringan kok!"
__ADS_1
Jonathan benar-benar menggendong Miranda dan meminta gadis tengil setengah sadar itu untuk melingkarkan kedua tangannya di leher.
Sesampainya di mobil, Jonathan harus meminta maaf karena dengan sangat terpaksa dia tidak bisa mengantar Bella untuk pulang.
"Tapi Jo...?"
"Maaf ya Bel, Miranda harus sekolah besok. Sekarang sudah jam sembilan lebih!"
"Oke deh, biar aku naik taksi aja nanti!"
"Makasih ya Bel, maaf banget karena akan kelamaan jika harus nganter kamu dulu!"
"Iya, iya, gak papa. Kayak gak tahu aku aja kayak gimana sama kamu!"
"Thank you!"
Jonathan segera masuk ke mobil dan meninggalkan Bella seorang diri. Apa yang bisa di lakukan Bella sekarang selain melepaskan kekesalannya dengan cara menghentak-hentakkan kaki itu.
"Mending ke bar dulu deh sebentar. Ketimbang mikirin hal yang gak penting sama sekali."
__ADS_1