Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 47 Marah


__ADS_3

"Jadi sebenarnya kamu sudah sadar dari tadi?" Seloroh Jonathan sembari menggeret kursi dan duduk di dekat Miranda.


"Apa setelah ini Om akan menceraikan Miranda?"


Pertanyaan itu membuat dahi Jonathan mengkerut, "Kenapa bicara begitu?"


Miranda tersenyum getir, sungguh Ia ingin menertawakan dirinya sendiri yang teramat bodoh dan tidak mengerti apa pun.


"Bukankah Om menikahi Miranda karena terpaksa? Om juga tidak mencintai Miranda? Selain itu Miranda juga sudah tidak sempurna lagi kan, Karena Miranda akan sulit punya anak lagi setelah ini?" Ucap perempuan itu dengan suaranya yang masih sangat lemas.


"Tidak usah memikirkan hal itu, akan lebih baik jika kamu memikirkan kesehatanmu lebih dulu!"


Bagaimana mungkin Miranda bisa tenang untuk itu. Jujur saja Ia merasa kalau tak ada lagi alasan untuk Jonathan mempertahankan pernikahan mereka.


"Om, tolong beri tahu Miranda secepatnya ya kalau Om sudah tak mau lagi terikat pernikahan dengan Miranda?" Sambungnya lagi dengan tatapan dalam.


Jonathan tidak mau mendengarkan. Ia malah meraih segelas air putih lalu memberikannya pada Miranda.


"Apa kamu bisa duduk?"

__ADS_1


Miranda hendak mencobanya, akan tetapi tubuhnya masih sangat lemas, dan hal itu membuat Jonathan tidak tega. Lantas Jonathan berinisiatif untuk membantunya meninggikan setengah ranjang pasien itu.


"Apa ini terasa nyaman?"


"Iya, Om."


Setelah itu Jonathan kembali membantu Miranda untuk minum. Sesaat perempuan itu melamun.


Seharusnya Ia ada di sekolah sekarang, tapi kenyataannya kecelakaan itu tidak bisa di hindari. Miranda harus pasrah saat dirinya di nyatakan keguguran.


"Om, apa Ayah dan Ibu tahu soal ini?"


"Tidak usah memasang tampang begitu, Om. Akan lebih baik jika mereka tidak mengetahuinya!"


"Tidak bisa begitu, Miranda. Nanti apa kata mereka jika sampai tahu belakangan!"


Jonathan segera merogoh ponselnya dan menelpon Mbak Lilis karena hanya nomor ponsel kakak perempuan Miranda itu yang Ia punya.


"Siang, Pak!" Jawab Mbak Lilis. Seperti biasa sangat judes pada Jonathan.

__ADS_1


Pria dewasa itu tidak perduli, lantas segera menceritakan apa yang sudah terjadi pada Miranda.


"Apa? Keguguran? Kok bisa?"


"Tolong maafkan saya Mbak Lilis, tapi saya sangat mengharap akan kedatangan Mbak dan keluarga untuk mensupport Miranda sekarang ini!" Pinta Jonathan dengan nada yang hormat.


"Iya baiklah, akan kami usahkan. Kemungkinan malam kami baru bisa datang kesana!"


Jonathan mematikan ponselnya dan mendapati Bara dan Mama Mutia ikut masuk ke dalam sana. Namun sesuai perkiraan Bara, kalau Miranda tidak akan menyambutnya dengan baik disana.


"Mau apa lagi sih kamu kesini? Bukankah kamu sudah puas telah membunuh anak kita hari ini!" Kecam Miranda dengan sangat marah.


"Tidak, Mir. Aku tidak sengaja tadi. Tolong mengertilah, kalau aku sangat menyayangi kamu dan anak kita. Makannya aku memaksamu tadi. Tapi kamu malah menolakku hingga musibah itu terjadi," timpal Bara sedikit menjelaskan.


"Apa? Jadi kamu mau bilang kalau yang salah itu adalah aku, Bar? Apa kamu tidak ingat kalau aku sudah menolakmu untuk ikut?" cecar Miranda lagi.


Jonathan yang kebingungan pun menanyai mereka, "Apa yang kalian bicarakan, ha?"


"Dia memaksa Miranda untuk kabur, Om. Makannya Miranda menolak hingga akhirnya Miranda terjatuh tadi?"

__ADS_1


"Apa? Jadi kamu berancana hendak membawa Miranda pergi, Bar?" Jonathan terkejut dengan hal itu.


__ADS_2