Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
45 Penyesalan Berikutnya


__ADS_3

"Terserah kamu mau bilang apa? Salah siapa kamu meninggalkan aku begitu saja saat itu?" timpal Miranda dengan berani. Hingga drama tarik menarik terus terjadi.


Namun siapa sangka, hal buruk tak dapat dicegah saat cekalan Bara terlepas. Perempuan itu langsung terlempar kebelakang dan jatuh dengan kuat ke lantai keramik itu.


"Ah...!" Pekik Miranda sangat terkejut. Sejenak kedua bola matanya memerah saat tangan yang memegangi area bokoongnya itu seakan basah.


Bara tak kalah kagetnya. Ia sampai gemetar melihat tangannya yang bodoh itu. Bagaimana mungkin Ia kalah tenaga dengan Miranda hingga lengan perempuan itu terlepas dari pegangannya.


"Miranda...!" Teriak Jonathan yang juga terkejut. Telah mendapati Miranda ada di lantai dengan darah yang mengalir dari pahaanya.


Miranda mungkin merasakan sesuatu. Tapi perempuan itu masin Syok dan linglung dengan apa yang terjadi.


"Bara, apa yang kau lakukan tadi ha? Kenapa Miranda sampai jatuh seperti ini?" Cecar Jonathan yang bingung. Namun Bara hanya mematung di tempatnya dengan air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.


Mendengar suara Jonathan yang tinggi sampai ke dalam. Mama Mutia yang penasaran pun segera memyusul.


"Astaga, ada apa ini?" Tanya Mama Mutia yang jadi ikut-ikutan kaget.


"Aduh... Sakit!"

__ADS_1


Setelah sekian menit lamanya, barulah Miranda merintih kesakitan. Mungkin Ia baru merasakan sakitnya setelah jatuh dan terkejut tadi.


"Ayo kita kerumah sakit sekarang!"


Jonathan yang panik, takut dengan keselamatan bayinya itu segera membopong Miranda masuk ke dalam mobil.


"aduh, perut Miranda sakit, Om. Apa yang terjadi sama Miranda?" Tanya perempuan itu sambil memegangi perutnya yang seolah melilit hebat.


"Tenanglah Mir, semoga kamu dan kandungan kamu tidak kenapa-napa?"


"Ah... Tapi ini sakit banget, Om. Miranda gak kuat," keluhnya masih terus memegangi perut.


"Tetaplah sadar, Mir. Kamu pasti kuat!"


Jonathan segera mempercepat laju mobilnya untuk membantai jalananan agar segera sampai ke rumah sakit.


Tapi sepertinya Miranda sudah tidak tahan lagi hingga perempuan itu tiba-tiba saja sudah pingsan di tempatnya.


"Ya Allah, Bara. Kenapa kamu selalu membuat Papa pusing dengan ulahmu?" gerutu Jonathan semakin tidak karuan. Bagaimana pun caranya Jonathan harus membawa Miranda kerumah sakit tepat waktu.

__ADS_1


Sedang Mama Mutia masih menatap marah pada Bara. Lagi-lagi cucunya itu hanya bisa memperlihatkan sebuah penyesalan yang sangat besar.


"Dasar bodoh, kenapa kamu tidak mau mendengarkan Nenek, Bara? Kalau begini caranya yang ada miranda akan makin benci sama kamu? Dan harapan kamu untuk bersamanya semakin tidak tergapai?"


"Iya Nek, Bara tahu.Tapi Bara harus bagaimana sekaramng, apa anak Bara akan baik-baik saja?"


"Ya mana Nenek tahu, akan lebih baik kita susul mereka sekarang!" Ajak Mama Mutia kemudian.


Setibanya di rumah sakit, Jonathan langsung meminta para Dokter yang bertugas hari itu menyelamatkan Miranda dan bayinya.


Jonathan khawatir Miranda ikut kenapa-napa karena perempuan itu sempat pingsan sekitar lima belas menit lamanya.


"Tolong selamatkan keduanya, Dok. Saya harap mereka baik-baik saja!"


Sesaat Dokter Irma mematut pakaian sekolah yang dikenakan Miranda. Perempuan yang saat ini telah terbaring di atas brangkar menuju ke ruang ICU.


"Iya pak, tenangkan dirimu. Kami akan berusaha untuk melakukan yang terbaik!"


Jonathan hanya bisa pasrah menunggu hasilnya di ruang tunggu. Tapi apa pun itu, Jonathan sangat berharap, baik Miranda mau pun anak itu akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2