Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 49 Keputusan


__ADS_3

Mbak Lilis mencoba berdamai dengan keadaan. Lalu masuk untuk menemui Miranda dengan mendahului yang lainnya.


"Mir...!" Mbak Lilis langsung memeluk Miranda. Sebab semarah-marahnya dia karena adiknya itu hamil di luar nikah. Mbak Lilis tetap menyayanginya.


"Mbak, Bapak, Ibu, hei keponakan onty?" Sapa Miranda pada Dedek Sheina.


"Halo nty, nty lagi atid ya?" Tanya Dedek Sheina dengan suara cedalnya. Menampakkan betapa lugunya anak itu.


"Iya, atid dikit," jawab Miranda yang ikut-ikut meniru gaya bicara Sheina. Anak kecil yang masih berusia sekitar dua setengah tahun itu.


"Epat cembuh enty, Dedek Chena angen?"


"Iya Onty juga kangen sama Sheina!"


Melihat keakraban keduanya, Jonathan tertegun sesaat. Ia tidak menyangka kalau ternyata Miranda sangat menyukai anak kecil. Bahkan mereka terlihat sangat akrab.

__ADS_1


"Pak, Bu...!" Jonathan segera berdiri dan menyalami mertua dan kakak iparnya itu.


"Gimana ceritanya Jo, kok Miranda sampai jatuh seperti itu?" Tanya Pak Syamsul penasaran.


"Miranda kepeleset Pak," sahut Miranda, berbohong.


Ia tidak mau sampai orang tuanya tahu kejadian sebenarnya. Atau mereka tidak akan mengampuni kesalahan Bara. Lalu menuntutnya ke polisi.


"Ya ampun, dek. makannya hati-hati dong. Kok bisa sampai keguguran begini. Anak itu kan gak berdosa!"


Sebenarnya Jonathan ingin jujur saja tadi, tapi melihat Miranda melindungi posisi Bara. Jonathan merasa takjub dengan perempuan remaja berstatuskan istrinya itu.


"Mungkin ini yang terbaik, Mbak. Allah lebih sayang sama anak Miranda ketimbang lahir dengan memikul dosa orang tuanya," jawab Miranda sangat bijak.


"Iya kamu benar, itu artinya kamu tidak perlu lagi menutupi aib kamu!"

__ADS_1


Sesaat kedua orang tua Miranda menatap dalam ke arah Jonathan yang masih menyimak obrolan mereka.


"Jo, apa setelah ini kamu punya rencana untuk menceraikan Miranda?" Tanya Pak Syamsul. Blak-blakan saja. Karena Ia tahu betul Jonathan menikahi Miranda karena demi status anak yang ada di perut putrinya itu.


Jonathan mengamati mereka satu persatu dengan tatapan bingung. Ia heran mengapa semuanya jadi menanyakan hal itu padanya.


"Iya Jo, jika memang kamu mau menceraikan Miranda. Kami sebagai oramg tua hanya bisa menerima. Toh tak ada lagi yang harus kamu pertanggung jawabkan," sambung Ibu Miranda pula.


Karena mereka berpikir dengan kejadian itu, Miranda bisa meneruskan hidupnya untuk melanjutkan menuntut ilmu.


"Maaf Pak, Bu, saya pikir kegugurannya Miranda tidak ada hubungannya dengan sebuah ikatan pernikahan. Jadi rasanya saya akan sangat egois jika Menceraikan Miranda karena hal itu. Sebab bagaimana pun masalahnya. Miranda tetaplah istri saya sekarang. Jadi saya juga tidak punya alasan sedikit untuk menceraikan Miranda. Dan untuk cita-citanya. Saya tidak akan menghalangi Miranda. Banyak kok orang yang bisa kuliah walaupun dia sudah menikah dan hamil!" Timpal Jonathan seraya tersenyum.


Jawaban itu membuat keluarga Miranda sangat terkesan mendengarnya. Bagaimana mungkin mereka mendapati kalimat bijaksana itu dari mulut Jonathan. Apa karena kedewasaan Jonathan jawabannya tentu tidak. Karena dewasa belum tentu bijaksana. Tapi Jonathan sangat menghormati sebuah pernikahan. Bahkan Jonathan tidak punya niat sedikit pun akan ada perceraian di dalam pernikahannya.


"Jadi, apakah kamu tidak akan melakukan itu, nak?" Ulang Pak Syamsul lagi meyakinkan dirinya.

__ADS_1


Jonathan menggeleng, lalu menoleh kearah Miranda, "Kecuali jika Miranda yang ingin lepas dariku. Maka aku bisa apa, Pak?" Ujarnya dengan perasaan yang gamang.


__ADS_2