Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 54 Malu


__ADS_3

Sebenarnya Bara sedang menyambunyikan amarahnya sejak tadi. Akan tetapi Ia tak bisa meluapkanya dengan lisan hingga akhirnya dia memutuskan untuk melahap dengan cepat mie ayam di depannya.


Sedang yang lain saling tatap-tatapan. Jujur mereka merasa aneh dengan sikap Bara yang satu itu. Masalah apa lagi yang sebenarnya sedang Bara sembunyikan dari mereka. Jujur saja banyak hal yang membuat mereka sangat bingung dalam menghadapi tindak tanduk Bara.l dan Miranda.


*****


"Mir, Om keluar dulu ya. Mau mengurus Administrasi dan membeli beberapa pakaian ganti untuk kamu!" Izin Jonathan sebelum pergi karena siang ini mereka akan pulang dari sana.


Sedang Miranda belum memiliki pakaian pengganti. Sebab Jonathan tak sempat lagi untuk pulang dan mengambilnya.


"Iya Om, jangan lama-lama ya Om!" Miranda sedikit takut sendirian disana.


"Iya, Om cari baju disekitar sini aja kok!"


"Om, jangan lupa pembalutnya." Miranda hanya berbisik lirih karena pada dasarnya Ia mlu mengatakah hal itu.


Jonathan segera keluar untuk menemui pihak petugas keuangan untuk membayar biaya mereka selama di rumah sakit.


Usai membayarnya dengan uang tunai, Jonathan segera mencari toko baju terdekat disana.

__ADS_1


Lalu memilih beberapa pakaian yang menurutnya mungkin saja cocok untuk Miranda.


"Buat siapa Pak?" Tanya penjual toko itu.


"Buat istri saya, Bu!"


"Ukurannya?" Tanya penjual itu lagi.


Jonathan sedikit bingung untuo menjawab, jujur Ia tidak sempat bertanya tadi, "Yang pasti tubuhnya kecil Bu, dia masih remaja," jawab Jonathan kemudian.


"Remaja?" Penjual baju itu mengerutkan dahi.


"Oh, kalau begitu. Dress ini aja Pak. Kurasa ini pas untuk istri Bapak. Pasti dia sangat cantik dan merawat tubuhnya dengan baik ya sehingga masih seperti anak remaja!"


Jonathan hanya nyangir, tak perduli apa pun pendapat Ibu itu tentang pemikirannya. Jonathan pun memilih tiga buah dress dengan warna yang cerah. Karena biasanya perempuan seusia Miranda suka yang cerah-cerah.


"O iya maaf Bu, boleh sekalian daleman untuk di bawah?" Tukas Jonathan lagi setelah mendapatkan apa yang di carinya.


"Oh iya ini Pak, silakan di pilih yang kiranya sesuai menurut Bapak!" Ibu itu mengarahkan ketempat tumpukkan kain yang di cari Jonathan. Jujur geli melihatnya tapi Jonathan berusaha berdamai dengan keadaan yang memaksanya melakukan itu.

__ADS_1


Ingat kalau tubuh Miranda tidak gemuk hanya sedang-sedang saja, Jonathan pun memilih asal.


Semoga saja tidak kekecilan...


Setelah melakukan transaksi pembayaran. Jonathan melihat ada supermarket didekat toko itu. Ia teringat dengan pesanan Miranda.


Tak ingin kelamaan meninggalkan Miranda, Jonathan segera melajukan mobilnya lagi dan berhenti disana.


Ia segera masuk dan mencari apa yang di di butuhkan. Bukan itu saja Jonathan juga membeli makanan ringan dan beberapa botol air mineral.


"Udah ini aja, Mbak?" Jonathan menyerahkan apa yang diambilnya tadi pada kasir beserta dengan kredit card di tangannya.


"Wah, pembalutnya banyak banget Om?" Celetuk gadis yang berdiri di kasir itu bersama rekannya.


"Buat persiapan," Jawab Jonathan asal-asalan. Hanya itu senjatanya saat ini untuk beralasan.


"Aduh kasihan banget sih, Om. Berarti seminggu ke depan Om harus puasa dulu ni ye sama istrinya!"


Terdesak oleh keadaan, Jonathan hanya bisa menyunggingkan senyum tanpa bisa memprotesnya sedikit pun.

__ADS_1


Siang hari cahaya matahari semakin tinggi, Jonathan sudah mengemas semua kebutuhan mereka. Dengan kepeduliannya yang besar, pria itu terpaksa harus keluar sebentar untuk membeli beberapa potong pakaian sebagai pengganti karena mereka tidak membawa ganti. Selama di rumah sakit itu, Miranda hanya memakai apa yang sudah di sediakan pihak rumah sakit karena Ia telah menjadi pasien di sana.


__ADS_2