Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 18 Jangan Sampai


__ADS_3

"Loh, emangnya Asty kemana Pak?" Tanya Marry yang menjadi salah satu anggota tim.


"Tadi Ibunya nelpon Bapak, kalau Asty gak bisa ikut lomba karena sedang sakit typus hingga harus di rawat di rumah sakit. Jadi mau gimana lagi, masak iya Bapak paksa sih? Kesimpulannya gimana? Apa Miranda bisa? Soalnya gak ada yang lebih pintar dari kamu untuk menggantikan posisi Asty?" Tanya Pak Rudy lagi menunggu kesanggupan anak


didiknya itu.


"Ya udah Mir, ikut aja. Toh kamu cuma ikut cheer leaders kan?" Desak Salsa yang ingin sahabatnya bisa ikut ambil bagian.


"Gak tahu sih, beberapa hari ini aku gak pernah lagi ikut latihan juga soalnya."


Lama menimang-nimang hingga tak punya alasan tertentu untuk menolak, mau tidak mau Miranda pun menyetujui permintaan Pak Rudy.


"Ya udah deh Pak biar Miranda yang gantiin."


"Beneran ni?"


"Iya Pak, semoga saja tim kita bisa menang."

__ADS_1


"Aamiin, Bapak percaya sama kalian!"


Tak berapa lama beberapa siswa dari sekolahan lain pun mulai berdatangan. Mereka unjuk kebolehan dalam setiap aksi perlombaan hingga keseruan dan sorak sorai tercipta.


Lagi-lagi melihat aksi teman-teman cowok yang sekelasnya membuat hati Miranda menjadi gerimis. Andai Bara tetap ada di sana. Sudah pasti dia akan menjadi salah satu yang menunjukkan kehebatannya di sana.


"Mir, bengong aja lo? Inget sama Bara ya?" Goda Marry yang menyenggol lengannya.


"Is, apaan sih? Aku udah gak perduli lagi dengan dia. Lagian masih sekolah juga kan? Lebih baik aku fokus aja menuntut ilmu supaya bisa secepatnya lulus? Gak ada gunanya juga kan mikirin orang yang belum tentu mikirin kita?"


"Iya sih, tapi tetep aja Mir. Rasanya kok aku gak rela ya kamu putus dari Bara," Tukas Marry yang paling baper dengan kisah cinta keduanya.


***


Di sebuah kantor besar dalam sebuah ruangan utama di kursi kebesarannya, Jonathan yang masih terus terngiang-ngiang dengan keadaan Miranda saat ini pun tak bisa duduk dengan tenang.


Ia sangat tahu betul kalau yang namanya olahraga pasti akan beresiko dengan kehamilan Miranda yang masih seumur jagung.

__ADS_1


Bagaimana kalau Miranda harus ikut aturan sekolah dengan melompat-lompat, lari atau hal yang mungkin lebih fatal dari itu.


"Ah, Jonathan. Ayolah, kenapa kamu diam saja sih? Ayo pergi sekarang dan cegah itu terjadi?"


Jonathan yang gelisah pun langsung bangkit dan menyambar jasnya menuju kelantai bawah. Ia harus melihat sendiri apakah Miranda baik-baik saja saat ini.


"Nick, tolong handle kantor ya. Aku ada urusan mendesak sekarang!" Ujarnya pada orang kepercayaan Jonathan.


"Oh iya siap Pak, tapi bagaimana pertemuan kita dengan Perusahaan Kosmetik nanti siang, Pak?"


"Kamu cancel aja dulu, karena ini menyangkut nyawa seseorang!"


"Baik Pak, akan saya sampaikan dengan segera."


***


Tak lama, Miranda dan kawan-kawan rupanya sudah mendapat giliran untuk main. Hingga keseruan dari tim mereka yang cukup tangguh membuat Miranda lupa kalau dia sudah jingkrak-jingkrak mengejar bola.

__ADS_1


"Mir, servis Mir!" Teriak Joko dari tepi lapangan saat melihat posisi Miranda sangat bagus.


__ADS_2