
Jonathan sempat bingung harus bagaimana, akan tetapi Miranda nampak sudah sangat siap untuk malam ini.
"Om...!" Miranda menatap bola mata pria di depannya itu dengan berani.
"Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu sama kamu?" Jonathan tak mau jika harus kehilangan lagi. Sudah cukup kesalahan terbesarnya yang kurang perhatian membuat Mailinda pergi.
"Percaya sama Miranda, Om. Semua akan baik-baik saja kok. Miranda juga janji akan tetap ujian dengan khusuk besok," timpal Miranda lagi meyakinkan.
Tak dapat menahan diri lagi, Jonathan pun memenuhi keinginan Miranda yang juga menjadi keinginannya sejak lama.
Pria itu mengecup lembut bibir Miranda, dan memuja perempuan itu dengan kemampuannya.
"Ya ampun, besar banget Om?" Miranda tak percaya kala melihat milik pria itu mampu memenuhi genggaman tangannya.
"Apa kamu sudah siap?" Jonathan menanyakan lagi. Dimana Ia sudah memuja dua nuasa di depannya agar sedikit membentuk. Karena kata orang sih hal itu sangat berpengaruh.
__ADS_1
"Iya Om, lakuin aja. Gak usah ragu!" Miranda siap lahir dan batin.
Entah bagaimana ceritanya, malam indah itu akhirnya terjadi juga. Dimana milik Jonathan berhasil masuk kedalam sana. Jujur itu terasa sangat mengikat. Mungkin karena ukurannya yang kecil atau memang karena masih serat.
Setengah jam bertarung dengan nafas dan keringat. Miranda merasakan sesuatu yang maha dahsyat bergejolak disana.
"Makasih, Om!" Perempuan itu akhirnya lega juga bisa menyenangkan Pria tersebut dengan cara yang sebenarnya sangat sederhana.
"Tidurlah, ini sudah larut malam!"
Jonathan menyelimuti tubuh yang masih polos itu hingga Miranda tertidur dengan nyenyak. Tapi berbeda dengan Jonathan yang jadi merasa gelisah karena menganggap sudah berkhianat telah melakukan penyatuan tersebut dengan Miranda yang jelas-jelas adalah cinta dari putranya sendiri.
Tak ada perbincangan sedikit pun antara Jonathan dan Miranda karena ada Bara disana.
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Jonathan pada anaknya itu.
__ADS_1
"Baik-baik saja, Kok. Emang kenapa?" Bara menimpali dengan dingin.
"Gak ada, semoga saja kamu mengikutinya dengan baik karena ini akan menjadi ujian terakhir di SMA." Jonathan menegaskan.
Bara hanya tersenyum getir akan ucapan Jonathan yang menurutnya hanya basa-basi semata. Nyatanya Bara sangat yakin kalau Jonathan tidak sayang padanya. Terbukti dari cara Jonathan yang egois mempertahankan Miranda.
"Emang kenapa, Pa? Apa Papa berharap setelah aku lulus dari sekolah, aku akan meninggalkan kota ini?" Bara berkata sesuai pemikirannya.
Jonathan mengelak hal itu, "Kau anakku Bara, berhak bagiku menanyakan ini."
"Ck, anak? Tapi sayangnya aku tidak merasakan hal itu darimu? Kau sudah menjadi musuhku sekarang?" Timpal Bara dengan kasar.
Mama Mutia yang sejak tadi diam saja tidak tahu mau berkata apa. Tapi yang pasti Ia tidak ingin keduanya terus saja bersi tegang saat bertatap muka.
"Sudah Jo, Bar, ini masih terlalu pagi untuk ribut. Akan lebih baik jika kalian habiskan dulu sarapannya, baru kemudian terserah kalian mau apa. Mama udah capek soalnya!"
__ADS_1
Miranda juga jadi bisu disana. Bukan salahnya Ia tak lagi mau kembali dengan Bara karena pria itu sudah membuatnya terpaksa menikah dengan orang yang jauh lebih tua darinya.
Tapi setelah lama tinggal bersama Jonathan, Miranda merasa sangat bersyukur karena telah menjadi istri dari pria itu. Dimana Jonathan jauh lebih peka dan perhatian ketimbang Bara sendiri yang masih terlalu egois dalam segala hal.