Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 10 : Sebuah Perjalanan


__ADS_3

Keberadaan sosok naga di punggung Marisa telah membawa perhatian pada party mereka, Elizabeth menerima uang dari pembasmian Orc kemarin sementara Marisa dikelilingi para petualang untuk bergantian saling menyentuh naga putih bernama Glacies


Dibanding Elizabeth naga tersebut lebih imut dan bersahabat dan semua orang melupakan keganasan dari makhluk tersebut.


"Naga yang imut, apa kalian akan membesarkannya bersama?"


"Marisa yang membesarkannya."


"Jadi begitu nona Elizabeth mengambil peran ayah dan Marisa ibu, apa kalian saling jatuh cinta."


"Hah."


"Aku hanya bercanda, aku minta maaf, aku pikir karena nona Elizabeth tidak tertarik pada pria jadi kamu lebih suka gadis lagi."


"Konyol, aku hanya tidak memiliki waktu untuk hal seperti itu."


"Sifat Elizabeth sekali, apa hari ini kalian mau mengambil quest?"


"Aku rasa tidak, kami memutuskan untuk berlibur beberapa hari ke depan ke luar kota."


"Mau pergi kemana?"


"Belum tahu juga."


"Kalau begitu bagaimana kalau mencoba mata air panas Geoville, itu adalah tempat yang paling populer dikunjungi para petualang, mereka memberikan penginapan murah dengan fasilitas mewah dan juga selalu diadakan festival satu tahun sekali untuk merayakan hasil panen, pergi sekarang kalian pasti tidak akan melewatkannya."


"Kalau begitu kami akan mencobanya."


"Pulang nanti aku ingin mendengar ceritanya."


Elizabeth melambaikan tangan selagi berjalan melewati Marisa.

__ADS_1


"Kita pergi."


"Baik."


Aura di sekeliling Elizabeth selalu gelap dan semua orang selalu menghindarinya sebisa mungkin. Mereka berdua menumpang naik ke dalam kereta karavan pedagang menuju kota bernama Geoville.


"Terima kasih paman karena mau membawa kami ke sana."


"Jangan khawatir, aku senang jika memiliki teman perjalanan dibandingkan aku, semua pedagang di sini memiliki keluarga yang mereka bawa kemana-mana."


"Memang benar, apa Anda tidak menikah?"


"Aku suka ke rumah bordil jadi tidak tertarik dengan hal itu."


Elizabeth dan Marisa tersenyum masam atas kebenaran tersebut, paling tidak dia masih baik menawarkan tumpangan pada mereka.


Karena reputasi dimiliki Elizabeth tidak ada yang mau menerima permintaannya karena itulah mereka harus ikut kereta yang berasal dari luar kota. Tiba-tiba kereta berhenti membuat tubuh Marisa terdorong menghantam armor dada Elizabeth.


"Sepertinya ada bandit, tapi jangan khawatir kita sudah menyewa pengawal aku rasa mereka bisa mengatasinya."


Beberapa saat menunggu para pengawal telah dibantai habis.


"Mu-mustahil... mereka petualang rank-A bagaimana bisa dikalahkan."


"Mau bagaimana lagi, aku yang akan mengurusnya."


Elizabeth menarik pedangnya lalu turun ke bawah untuk berjalan ke rombongan kereta paling depan, ada wanita yang sedang di peluk oleh seorang bandit dan telah dilepaskan roknya, tanpa menunggu. Elizabeth menarik rambut pria itu lalu menusukan pedangnya menembus tulang tengkoraknya.


"Itu.. terima kasih."


"Aah."

__ADS_1


Elizabeth sangat acuh dengan siapapun dia hanya berjalan selagi menyeret mayat di tangannya lalu melemparkannya ke kawanan mereka. Saat mayat itu jatuh kepalanya lebih dulu menghantam tanah dan berputar ke belakang.


"Sialan... apa yang kau?"


Seorang pria lain menyerang dari Elizabeth menggunakan pedang, dengan mudah dia menghindarinya setipis rambut lalu membalas dengan tebasan yang memotong tangannya selanjutnya membelah tubuhnya dengan noda darah yang terciprat ke wajahnya.


"Kalau menyerang jangan berteriak."


Marisa yang muncul dengan seekor naga dari belakangnya memekik takut saat Elizabeth membawa tangan tersebut untuk menjulurkannya ke arah Glacies.


"Ini makanan Glacies."


Marisa tentu saja langsung memeluknya seolah menolaknya.


"Kau ingin menjadikan Glacies sebagai pemakan manusia bukan, dan nantinya akan kau bunuh."


"Ketahuan kah?"


"Sangat jelas."


Para bandit yang tersisa merasakan keringat dingin membasahi punggung mereka namun hanya sesaat sebelum sebuah motivasi terdengar dari belakang mereka.


"Jangan gentar dia hanya wanita, jika kita bersatu kita bisa mengalahkannya."


"Hehe itu benar."


"Mari ambil keperawanannya juga."


Elizabeth hanya memandang dengan datar.


"Pria memang selalu dipenuhi hawa nafsu."

__ADS_1


__ADS_2