
"Selamat atas kenaikan Rank kalian menjadi peringkat D."
Dengan senang resepsionis guild memberikan kartu petualang baru pada keduanya.
"Terima kasih, aku dan Elizabeth akan mengambil quest lagi sekarang."
"Bukannya kalian terlalu terburu-buru."
"Kami perlu naik ke peringkat S untuk masuk gurun pasir merah."
"Tempat itu sangat berbahaya, banyak petualangan yang tidak kembali setelah memasukinya."
"Kami akan baik-baik saja, benarkan Elizabeth."
"Tentu, yang harus dikhawatirkan guild ini jika kami berhasil mungkin akan jatuh miskin."
Resepsionis tertawa.
"Hal seperti itu tidak mungkin, lagipula setiap guild dibiayai oleh ratu terkadang kami juga menjual dua kali lipat dari barang yang diberikan petualang."
"Senang mendengarnya."
"Bukannya kau terlihat seperti penjahat, ngomong-ngomong aku tidak melihat Glacies?"
"Dia ikut ibu kandungnya."
"Ara, Ara, itu pasti mengejutkan."
"Ah iya, kalau begitu sampai nanti."
"Berhati-hatilah."
Keduanya keluar dari guild sebelum melanjutkan ke luar kota.
"Kita telah memecahkan rekor sebagai petualang paling cepat menaikan rank guild, bukannya itu luar biasa."
"Aku tidak terlalu memikirkannya, lebih dari itu quest seperti apa yang kau ambil?"
"Quest dengan bayaran tinggi dan bisa menaikan rank kita dengan cepat."
__ADS_1
Elizabeth melirik ke isi dalam quest yang dipegang oleh Marisa yang menunjukkan permintaan untuk mengalahkan Lich yang bersembunyi di dalam dungeon, beberapa waktu para monster dan Undead keluar dari sana dan mulai menyerang penduduk sekitar.
"Itu pasti sulit dilakukan."
"Meski tidak punya sihir suci, mereka lemah terhadap api juga."
Ketika keduanya memasuki hutan wajah mereka memucat saat melihat sebuah pantat montok tertuju pada mereka.
"Apa ini? Apa ini bagian dari adegan mesum."
Pemiliknya adalah seorang gadis kecil dengan pakaian pendeta, ia memiliki rambut pirang pendek dengan tongkat di tangannya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku baru jatuh dari pohon desu, sakit sekali."
"Pohon ini cukup tinggi seharusnya gadis kecil sepertimu jangan naik."
"Aku bukan anak kecil desu, aku sudah berumur 20 tahun"
Entah Marisa atau Elizabeth menatap dengan simpati.
"Ugh, berhenti menatapku seperti itu desu."
"Karakter loli sangat disukai banyak orang, jangan khawatir."
Elizabeth menatap ke dahan pohon di mana di sana banyak diisi oleh buah-buahan berwarna merah terang.
"Kau ingin apel itu?"
Loli itu duduk selagi memegangi perutnya.
"Aku tersesat dan belum makan apapun."
"Tak masalah biar aku yang urus ini."
Alih-alih memanjat, Elizabeth bersiap untuk menebangnya namun Marisa dengan sigap menghentikannya.
"Jangan lakukan itu, kalau begitu pohonnya tidak akan tumbuh lagi, biar aku yang memanjat."
__ADS_1
"Jika kau mengatakan itu, silahkan."
Marisa melepaskan sepatunya dan ia mulai menjatuhkan buah-buahan untuk ditangkap kedua orang yang di bawah.
"Buahnya cukup manis."
"Enak sekali."
"Kurasa sudah cukup Marisa, kau bisa turun."
"Baik."
Elizabeth melirik ke arah loli.
"Jadi siapa kau?"
"Namaku Shina, aku seorang pendeta... aku datang kemari ingin bergabung dengan guild tapi malah tersesat."
"Dia benar-benar tersesat jauh, tapi ini kebetulan bukannya bagus jika memasukan Shina ke dalam kelompok kita Elizabeth, dia seorang pendeta."
Elizabeth diam memikirkannya.
"Apa kau bisa membunuh naga?"
"Sudah jelas mana bisa aku melakukannya."
"Kau tidak lulus."
"Heh?"
"Elizabeth, tidak banyak orang yang bisa menghadapi naga tapi aku yakin dia bisa cukup membantu melawan Undead maupun Lich."
"Jika itu aku bisa desu."
"Aku mengerti, kami memang kekurangan orang, mau bergabung."
"Benarkah, aku mau."
"Ugh... dia sangat berkilauan, karakter loli sangat mempesona."
__ADS_1
Elizabeth pun mengangguk mengiyakan.