
Elizabeth mendarat setelah menyarungkan pedangnya kembali dimana Marisa yang menyambutnya dengan pelukan.
Elizabeth sungguh merasa kurang nyaman terus-menerus dipeluk tapi dia juga terkadang merasa nyaman jika seseorang melakukannya.
"Sudah cukup Marisa."
"Sebentar lagi."
Shina dan Noel memperhatikan bersama yang lainnya.
"Tadi pertarungan yang cukup menegangkan, meskipun aku tahu High Elite Demon bukan apa-apa untukmu."
"Yang dikatakan Noel benar, aku sebenarnya paling tidak ingin menyembuhkanmu tapi kurasa kau bisa melakukannya sendiri."
Elizabeth pikir dia mengambil peran penting untuk dirinya hingga tak menyisakan sedikipun untuk dilakukan anggota partynya. Lain kali dia mungkin harus menahan diri juga .
Elizabeth memberikan tiga surat yang masing-masing dikirimkan pada Venuzuela, guild master Ciel dan juga kediamannya.
"Jika kalian memberikan ini pada Ratu, dia akan mengurus semua keperluan kalian bahkan jika perlu dia juga akan mengembalikan kalian ke rumah jika kalian mau."
"Benarkah?"
"Iya, kami berteman baik dengannya."
"Syukurlah."
Mereka sekali lagi berterima kasih dan pergi ke ibukota.
"Aku sedikit tidak enak dengan Mariabel serta para pelayan karena tidak akan kembali dalam waktu dekat."
"Jangan khawatir Elizabeth mereka pasti akan mengerti, tapi Ciel kurasa akan memarahimu" ucap Noel dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Mereka singgah di sebuah kota yang tidak terlalu besar ataupun kecil namun memiliki suasana yang damai layaknya di pedesaan.
Noel mengetuk pintu salah satu rumah, terdengar bunyi sesuatu yang keras dari dalam kendati demikian pintu masih terbuka untuk mereka.
"Siapa yah?"
Dari pintu itu sosok wanita berkacamata muncul dengan terkejut, rambutnya tampak berantakan dan terlihat baru saja terjatuh dari tangga.
"Ah, Noel."
"Lama tak bertemu Lulu, kau tidak berubah."
"Kau juga, lalu mereka?"
"Mereka adalah anggota partyku.. kami ingin menanyakan soal Desa Fury, meski sebelum kita tidak menemukan petunjuk, kami akan mencoba mencari tahu kembali karena itu kami perlu bantuanmu."
Lulu tersenyum senang dengan caranya sendiri selagi membetulkan bingkai kacamatanya.
"Sepertinya sudah terjadi sesuatu, ini pasti menarik... masuklah."
"Terima kasih."
"Iya."
Hampir seluruh ruangan itu terisi oleh buku-buku yang tebal, dan itu langsung membuat kepala Shina sakit saat mengintip salah satu isinya.
"Aku sama sekali tidak mengerti."
"Beberapa ditulis dengan tulisan kuno jadi sulit dibaca, Lulu adalah ahlinya dalam hal seperti ini."
"Aku tidak sehebat itu, silahkan minum tehnya."
__ADS_1
"Terima kasih."
"Jadi apa yang kalian ingin ketahui?"
"Sebenarnya..."
Noel menjelaskan semua kejadian yang terjadi sebagai perwakilan sikapnya yang tenang sangat bisa diandalkan dalam berbagai situasi, hal itu memberikan gambaran besar pada penelitian yang sebelumnya pernah dikerjakan oleh Lulu selama hidupnya.
"Jadi begitu."
"Apa kau tahu sesuatu?"
"Aku yakin kemungkinan besar, yang terjadi adalah bahwa Shina tanpa sadar berada di dimensi yang berbeda."
Semua orang terkejut.
"Apa maksudnya? Marisa bertanya.
"Aku tidak tahu bagaimana hal ini terjadi tapi ada sebuah kejadian tertentu yang membuat para penduduk terjebak di tempat lain, itu semacam sebuah cermin yang meniru keadaan di luar cermin sama persis kecuali makhluk hidup."
Semua orang bingung kecuali Elizabeth yang bisa sedikit mengambil intinya dan memperjelas.
"Mari anggap saja itu adalah dunia cermin, jadi maksudmu tanpa disadari Shina sebenarnya bukan masuk ke desa yang sesungguhnya melainkan desa di dunia cermin yang dibuat dari aslinya," ucap Elizabeth yang mendapat anggukan puas Lulu.
"Benar sekali, itu membuktikan bahwa Shina sebenarnya berasal dari luar desa."
Shina akhirnya mengingatnya.
"Ah jadi begitu, ketika umurku empat tahun aku tersesat dan aku tiba-tiba berada di sebuah desa dan mereka semua membesarkanku sebagai bagian dari keluarga, itu masuk akal."
Air mata mengalir di wajahnya dan ia melanjutkan.
__ADS_1
"Aku sangat lega, fakta bahwa mereka masih hidup aku sungguh bersyukur desu."
"Gaya bicaranya berubah," ucap Lulu dan semua orang membalas dengan senyuman kecil.