
Di rumah kayu yang telah dijadikan sebagai pesta kemenangan, semua pria dan wanita sama-sama saling bersulang dengan gelas di tangan mereka.
Semalam mereka mendapatkan uang yang sangat banyak dan ini adalah sebuah perayaan, paling tidak ada 30 orang di dalam sini dan diantara mereka seorang pria yang menjadi pemimpinnya bersolonjor kaki dengan beberapa wanita di sekelilingnya.
Hanya dalam waktu singkat mereka akan menemukan sebuah neraka.
Pintu mereka ditendang dengan keras dan dari sana sosok wanita dengan armor gaun pernikahan menatap dengan dingin. Di tangannya sebuah pedang melekat dengan indahnya dengan tetesan darah yang jatuh ke lantai kayu.
Gadis bernama Elizabeth tersebut telah membunuh beberapa orang sebelum datang kemari.
"Kalian membunuh kedua orang yang tidak bersalah maka aku akan membunuh kalian semua."
Udara dingin menyebar ke seisi ruangan, itu begitu mencekam hingga membuatmu muak. Leonardo sempat mengatakan Elizabeth harus membuang dendamnya namun itu malah berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.
"Bukannya dia cantik, apa dia datang untuk memuaskan kita haha."
Seorang yang bodoh telah mencairkan suasana, pria itu mengulurkan tangannya dan dalam sekejap jari-jarinya berjatuhan ke lantai.
Sebelum dia bisa berteriak tubuhnya telah ditebas menjadi dua bagian, semua orang yang tertawa mulai memucat hingga jantung mereka berdegup kencang karena ketakutan.
"Ini adalah momen di mana kalian akan membunuh atau dibunuh, sekarang majulah."
Teriakan menggema di ruangan yang sempit, darah terciprat ke sekelilingnya sementara potongan organ telah memenuhi ruangan ini bercampur bau amis serta cairan darah yang menggenang.
Yang tersisa adalah bos yang kehilangan kedua tangan dan kakinya.
__ADS_1
"Hentikan, aku minta maaf, aku."
Kepalanya terpenggal dan jatuh menggelinding ke sisi meja, para anggota guild bersama petualang lain yang baru datang hanya bisa berdiri gemetaran. Gadis bernama Elizabeth hanya dalam beberapa hari telah membuat namanya terkenal.
Di salah satu ruangan guild, seorang wanita dengan pakaian mirip seragam militer serta mantel yang ditanggalkan duduk di depan Elizabeth.
Dia memiliki rambut merah panjang berponi.
"Apa kau tahu apa yang telah kau lakukan, Elizabeth Highwel."
"Tidak juga."
"Jangan bercanda, kau membunuh 40 petualang peringkat A dalam waktu singkat."
"Mereka hanya sampah, apa kau akan mengusirku atau mengambil kartu petualangku Ciel."
"Kau akan mempekerjakanku dengan keras."
"Benar sekali, kau harus membayarnya atau kerajaan akan bergerak untuk menangkapmu, di antara mereka ada anak bangsawan kau tahu."
"Kau tidak perlu menutupi tentangku."
"Tidak, aku lebih khawatir jika bangsawan itu bergerak mereka juga akan dibunuh olehmu, mari kesampingkan hal itu, kudengar kau tertarik dengan naga."
"Aku ingin membunuh mereka, apa kau bisa membunuh mereka?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak tapi kudengar di kota lain ada beberapa orang yang dikenal sebagai dragon slayer, mereka belajar dari naga dan bertarung melawan naga aku bisa saja meminta salah satunya menemuimu lewat koneksi guild."
Elizabeth menunjukkan ketertarikan.
"Berbeda denganmu mereka belajar dari sihir naga, apa kau bisa melakukannya di mana kau penuh dengan kebencian terhadap naga juga."
"Aku tidak tahu tapi aku akan sedikit berbicara padanya."
"Aku anggap itu persetujuan kau tidak akan meninggalkan kota ini."
"Terserah kau saja."
Elizabeth keluar dari ruangan, saat itu dia melihat Marisa yang berdiri di sana dan terus mengikutinya kemanapun.
"Kenapa kau terus mengikutiku?"
"Aku tidak punya tempat untuk pulang, Alfred dan Esna sudah kuanggap keluargaku jadi aku tidak tahu harus melakukan apa, tolong biarkan aku ikut denganmu."
Elizabeth hendak mengusirnya namun dia melihat bagaimana Marisa gemetaran selagi memeluk tongkatnya.
"Kau takut padaku."
"Tidak, aku tidak takut."
"Baiklah, kau bisa ikut denganku tapi buatlah dirimu berguna."
__ADS_1
"Terima kasih."