
Tak hanya kelompok Elizabeth, petualang lain dari kota berbeda juga telah mengunjungi pelabuhan untuk pergi ke pulau monster, mereka bahkan memiliki kelompok yang begitu lengkap berjumlah 6-8 orang, ini jauh lebih banyak dari kelompok Elizabeth.
Semua orang dipandu naik ke perahu sebelum akhirnya berangkat.
Itu perjalanan empat jam yang cukup melelahkan, sesampainya di sana semua orang diturunkan dan perahu akan kembali lima hari lagi.
Bagi siapapun yang datang terlambat mereka akan ditinggalkan dan harus menunggu ujian selanjutnya 6 bulan berikutnya, dengan persyaratan seperti itu mereka jelas akan mati hanya karena tidak tepat waktu.
Shina mengayunkan tongkatnya saat beberapa pria mengerumuninya.
"Menjauh dariku, aku bukan wanita murahan."
"Dadamu sangat indah, apa kau mengenakan pakaian dalam imut di sana."
"Hentikan."
"Ayolah, lebih baik kau ikut dengan kami."
Sebuah tendangan menghantam wajah salah satu pria hingga dia tak sadar diri di tanah.
"Shina itu maskot kami, aku jelas tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya."
"Marisa, tapi bukannya lebih baik kau memanggilku rekan saja desu."
"Tak apa kan, karena Shina sangat imut."
"Sialan, kami ini petualang penggemar loli... jangan remehkan kami."
"Mungkin kau ingin berbicara dengan ketua kami."
Mereka semua melirik ke arah Elizabeth kemudian menggigil saat melihatnya.
"Ugh... maafkan kami," mereka berlarian ke dalam pulau.
__ADS_1
"Kenapa mereka lari?"
"Aku tidak mau mengatakannya tapi Elizabeth, aura yang kau berikan sudah mirip seekor naga."
Elizabeth bisa mengerti hal itu.
Ketiganya melangkahkan kaki semakin dalam saat segerombolan Flying Monkey bermunculan selagi melemparkan kelapa pada mereka
Elizabeth menebas mereka sementara dua rekannya memberikan sihir andalan mereka.
"Mereka terlalu banyak."
"Tak apa, biar aku urus."
Elizabeth menghentakkan kakinya dan es meluncur membekukan seluruh kawasan di sekelilingnya.
"Benar-benar kekuatan yang luar biasa," gumam Shina demikian, mengikuti keduanya semakin menjauh dari pantai. Baru saja tiba di pulau mereka sudah mendapatkan beberapa mayat petualang yang mati.
Tubuh mereka seolah dipotong-potong dengan sesuatu yang tajam, tepat mereka melihat ke atas tampak seekor belalang sembah dengan ukuran raksasa tengah memakan daging salah satu petualang.
"Apa-apaan pulau ini?" teriak Marisa.
"Dengan ini kita tahu bahwa tidak akan banyak orang yang kembali ke perahu nanti."
"Perkataannya sangat menakutkan."
Ada seekor Boar keluar dari semak-semak mengarahkan dua taringnya ke arah ketiganya.
"Akan kuatasi dengan sihir apiku."
"Jangan sampai gosong loh, itu mungkin makan malam kita satu-satunya."
"Aku tahu."
__ADS_1
Elizabeth duduk di atas batu selagi melihat bagaimana Marisa menciptakan lingkaran sihir di atas langit.
"Meteor Strike."
Bersamaan dengan perkataannya sebuah meteor api dijatuhkan kemudian meledak saat menghantam targetnya, Boar dengan mata x rubuh ke samping dengan kulit gosong.
"Karena serangannya belum sempurna aku yakin tidak menggosongkannya."
Shina memeriksa.
"Ini bagus, tapi kita harus memanggangnya lagi agar matang merata."
"Sejak kapan kau ahli masakan."
"Aku pernah mencuri makanan di restoran, saat mereka memergokiku mereka malah mempekerjakanku beberapa bulan untuk membayar setiap makanan yang kucuri."
"Kau benar-benar penuh dosa Shina."
"Apa maksudmu aku cuma gadis kecil jadi tidak dihitung kejahatan, hanya kenakalan remaja."
"Kau ini."
Ketiganya mengelilingi api unggun dengan Boar yang ditaruh di atasnya.
Suara gagak mewarnai perubahan langit.
"Walau terlihat kecil, ternyata tempat ini luas juga."
"Benar, paling tidak kita bisa ke tengah pulau besok hari.. ini memang ujian untuk Rank S."
Elizabeth memotong.
"Kalau begitu aku akan jaga lebih dulu kalian bisa beristirahat pertama."
__ADS_1
"Baik."