Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 39 : Kristal Bulan


__ADS_3

Elizabeth dan Leviathan saling memandang beberapa saat sebelum keduanya melesat maju. Menggunakan pukulannya Leviathan melompat di tengah pertarungan memaksa Elizabeth mundur sedikit sebelum menebas, bilah terayun dan 'prang' itu tertahan oleh punggung tangan Elizabeth yang dipenuhi sisik kebiruan.


Leviathan mengirim pukulan yang lain dan itu membuat tubuh Elizabeth terdorong.


"Melawan naga memang tidak perlu setengah-setengah."


"Mari lihat seperti apa kau bertarung."


Hawa dingin keluar dari tubuh Elizabeth yang melakukan pertarungan tanpa henti melawan Leviathan. Sementara itu, Venuzuela hanya memperhatikan dari belakang dengan rasa kekaguman.


Es menyembur memenuhi ruangan dan itu hancur dengan satu pukulan Leviathan, ketika dia menerjang ke depan Elizabeth menyeringai.


"Tarian Pedang es."


Beberapa tebasan pedang di terima Leviathan, hingga dia terlempar ke udara dengan pakaian yang compang-camping yang menampilkan seluruh tubuhnya yang terselimuti sisik.


Darah menyembur dari mulutnya dan ujung pedang diletakan di lehernya.


"Aku yang menang sekarang berikan kristalnya."


"Aku kalah."


Elizabeth menyarungkan pedangnya kembali sementara Venuzuela melompat dari belakang.


"Kau hebat Elizabeth."


Pakaian Leviathan kembali terbentuk sedia kala.


"Kenapa dia bisa melakukannya?"


"Dia hanya roh."


"Dengan kata lain dia sudah mati dari awal."

__ADS_1


"Begitulah."


"Kau menyadarinya, demi mengalahkan saudaraku aku merubah diriku menjadi kristal bulan. Aku selama ini bertanya-tanya kenapa aku masih ada di dunia ini meski dia sudah dikalahkan kurasa mungkin ini maksudnya, karena itulah aku tetap berada di sini dan mengurung diri di menara air."


"Dari awal kau pasti akan membantu."


"Aku hanya ingin tahu seberapa kuat dirimu."


Leviathan bersinar terang berubah menjadikan kalung dengan kristal biru indah sebelum melayang dan terikat di leher Elizabeth.


"Ini sangat indah, aku juga mau."


Ratu banyak permintaan.


"Sudah selesai kita kembali."


"Um."


Elizabeth berubah menjadi naga lalu membawa Venuzuela kembali ke kota, Elizabeth pernah berfikir mungkin saat dia melawan naga itu, ia akan terhipnotis namun sekarang hal itu tidak perlu ditakutkan lagi.


Mereka akan membantu mengalahkan pasukan dari Wisteria namun sebelum itu mereka harus pergi ke istana untuk melakukan beberapa persiapan.


"Kalau begitu Naya, tolong jaga rumah."


"Serahkan pada kami Nona Elizabeth"


Mariabel menatap bagaimana mereka menghilang dari balik awan.


"Apa Anda tidak ikut?"


"Aku tidak ingin melibatkan diriku dalam hal merepotkan lagipula aku ingin membaca beberapa novel baru saat ini."


"Itu pasti sangat menyenangkan."

__ADS_1


"Kau bisa mampir juga Naya untuk membaca yang lainnya juga."


"Kalau begitu saat kami selesai dengan pekerjaan di sini kami akan menerima tawarannya."


"Tentu saja."


"Apa anda punya novel dewasa."


"Tentu saja, aku membaca beberapa juga."


"Saya tidak sabar untuk melihatnya."


Angin berhembus melewati mereka yang terbang dengan kecepatan sedang, cukup butuh waktu lama untuk sampai di ibukota karenanya mereka bisa lebih santai di perjalanan.


"Elizabeth apa kita bisa mampir dulu sebentar?"


"Mampir kemana?"


"Di depan ada sebuah desa indah yang sekelilingnya ditumbuhi pohon apel, aku yakin mereka sedang panen sekarang."


Shina menatap dengan pandangan bersinar.


"Apel pasti rasanya sangat enak."


"Mereka tidak hanya menjual apelnya tapi membuat olahan lainnya seperti Pai apel, selai apel, jus apel serta sirup apel dan lainnya."


"Itu terlihat enak," tambah Noel disusul Marisa.


"Aku juga ingin mencobanya dan membawa sebagian untuk perjalanan kita."


Elizabeth memasang wajah bermasalah.


"Sebentar saja."

__ADS_1


"Yeay."


Para gadis memang menyukai hal yang manis yang tidak bisa mereka lewatkan.


__ADS_2