
Shina berjalan paling depan, di belakangnya Elizabeth, Marisa dan juga Noel mengikuti.
Areanya sendiri tidak mudah seperti yang terlihat, di mana mereka harus melewati rawa-rawa serta semak belukar.
"Ngomong-ngomong kenapa aku yang harus berada di depan?"
"Yang kecil mudah hilang, jadi kami perlu posisi dimana semua orang bisa melihatmu," balas Marisa.
"Menyebalkan sekali," teriakan Shina memutuskan kejengkelannya.
Semakin menembus hutan maka semakin minim cahaya yang masuk dari atas, mereka menemukan sebuah reruntuhan yang sebelumnya adalah bangunan tempat tinggal, tanaman Ivy juga sudah tubuh subur di sini.
"Aku masih penasaran apa yang membuat suku di sini musnah?" pertanyaan Noel mewakili perasaan yang lainnya, sebelum datang kemari hanya Elizabeth yang diberitahukan soal rinciannya dari Lulu sang arkeologi jadi sudah sepantasnya dia memberitahukan kepada yang lainnya juga.
"Menurut Lulu ada semacam hewan buas yang membunuh mereka, beberapa arkeologi yang memeriksa tempat ini juga tidak tahu apa terjadi namun dari semua orang yang datang hanya sebagian kecil yang bisa selamat."
"Dengan monster laut dimana-mana sudah jelas datang kemari juga pasti sulit," tambah Marisa.
__ADS_1
Mereka naik ke sebuah tempat semacam tangga di mana di puncaknya ada sebuah altar yang dijadikan sebagai tempat pemujaan, ada patung wanita yang sudah terkikis di sana dan di bawah patung itu tempat dimana artifak itu berada.
Noel menarik pedangnya selagi mengitari sekitarnya dengan pandangan waspada.
"Ada sesuatu yang mendekat."
Shina dan Marisa juga ikut waspada sementara Elizabeth sudah tahu apa yang tengah mendekat.
"Semuanya menghindar."
Di saat dia menyeruakan hal demikian sebuah kepala meluncur pada mereka. Shina ditangkap oleh Elizabeth dan sisanya bisa menghindarinya dengan baik.
"Besar sekali, jangan bilang bahwa dialah makhluk yang membunuh seluruh suku?" Shina mengatakan apa yang dipikirkan semua orang. Sementara sang ular menjulurkan lidah dengan niat membunuh sebelum mengejar Shina dan Elizabeth yang berlari memanjat.
Tidak aneh hal ini terjadi karena Shina selalu menarik untuk menjadi korban dari siapapun termasuk hewan buas.
Noel dan Marisa mengejar dari belakang sembari menembakan sihir yang mereka bisa namun itu sia-sia.
__ADS_1
Elizabeth menciptakan dinding es dan itu hancur berserakan dengan hanya disundul oleh kepalanya.
Elizabeth menurunkan Shina dan memintanya untuk naik lebih dulu demi mengambil artifaknya, saat ular itu meluncur pada Elizabeth dia dengan mudah menendangnya hingga tubuhnya berguling-guling jatuh ke bawah.
Noel dan Marisa menundukkan kepala mereka saat tubuh ular melewati atas mereka. Ular tersebut bangkit kemudian memanjat kembali.
Marisa dan Noel berlari melewati Elizabeth yang menyentuhkan tangannya di tangga, tepat saat ular mendekat dia langsung membeku seutuhnya kemudian hancur berkeping-keping.
"Kita sebaiknya cepat kembali ke kapal, aku mencium banyak aroma ular yang lainnya," atas pernyataan Elizabeth keduanya mengangguk mengiyakan sebelum akhirnya menyusul keberadaan Shina yang sedang berusaha mendorong patungnya.
"Berat sekali, tolong bantu aku."
Mereka bersama-sama mendorongnya dan dengan itu mereka bisa melihat artefak yang dimaksudkan yaitu sebuah benda berbentuk lingkaran pipih.
Elizabeth mengambilnya sebelum akhirnya berubah menjadi naga dan terbang menuju tempat dimana kapal mereka berada.
Dari atas punggung Elizabeth, semua orang mengalihkan pandangan ke bawah dan melihat bagaimana ular-ular raksasa mulai bermunculan dari segala arah.
__ADS_1
Di sana ular dan di atas, Elizabeth harus menghindari petir yang mengincarnya.