
"Apa kau juga yang menghasut Wisteria untuk berperang dengan kami."
"Jangan salah paham mereka sendiri yang ingin melakukannya, kami hanya membantu sedikit."
"Dan naga, apa kalian yang mengendalikannya?"
"Kenapa kau ingin tahu semua itu, aku sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk mengatakannya."
"Kalau begitu akan kupaksa agar kau membuka mulutmu."
"Aku ingin lihat kau bisa melakukan apa."
Pria itu memunculkan tongkat besi dengan ujung runcing ke tangannya sebelum melesat maju, Elizabeth pun melakukan hal sama hingga keduanya saling tertahan satu sama lain.
Dengan jarak dimana bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain keduanya saling memoloti.
"Apa yang kalian inginkan hingga melakukan ini semua?"
"Mudah saja, kami ingin semua ras di dunia ini musnah dan hanya menyisakan ras kami."
Keduanya melompat mundur, Elizabeth menciptakan bongkahan es raksasa yang dia lesatkan pada pria tersebut.
Dengan sedikit ayunan tongkat, es itu terbelah dua bagian.
"Sihir es sangat menarik, lalu bagaimana dengan ini?"
Beberapa boneka besi muncul di atas Elizabeth untuk menyergapnya, mereka menyerang dengan pukulan serta tendangan yang cepat, Elizabeth memenggal beberapa dan sisanya dia bekukan dengan sihirnya.
"Yang kuinginkan sudah selesai, aku ingin tahu seberapa banyak petualang kuat di kerajaan ini tapi kurasa jumlahnya sedikit karena sebagian besar sudah dibunuh."
"Kau."
"Siapa namamu?"
"Elizabeth Highwel."
"Elizabeth kah, aku yakin suatu hari kita pasti akan bertemu lagi. Namaku Linus Cornelius, lain kali aku akan membunuhmu."
__ADS_1
"Memangnya akan kubiarkan kau pergi."
Elizabeth melesat maju untuk menembuskan pedangnya, namun yang dia tusuk bukan tubuh aslinya melainkan hanya boneka.
"Ini jelas lebih buruk dari yang kubayangkan."
Pagi berikutnya Elizabeth menjelaskan semuanya, dia ingin mengatakannya kemarin malam namun ia memilih untuk melakukannya keesokan harinya.
"Mustahil? Para elf memiliki kebencian besar pada semua ras."
"Aah, itulah yang kudengar darinya. Aku juga yakin dia sangat membenci manusia, apa yang sudah terjadi?"
"Aku belum mengetahuinya tapi aku akan melaporkan ini semua pada kerajaan termasuk bahwa Wisteria sendiri yang mencoba menyerang kita."
"Hal itu tidak bisa dijadikan acuan, kita tidak boleh sepenuhnya percaya dengannya."
"Aku tahu."
"Karena sudah selesai, kami harus pergi sekarang."
"Baik, terima kasih banyak Elizabeth kedepannya aku akan selalu mengandalkanmu."
Elizabeth keluar dari guild dan melihat Marisa, Noel dan juga Shina sudah siap melakukan perjalanan.
Ketika di luar kota mereka bertanya.
"Jadi apa kita akan pergi ke sana dengan berjalan kaki?"
"Bukannya itu melelahkan."
Marisa sudah tahu jawabannya jadi dia hanya mengangkat bahunya ringan dan melanjutkan.
"Kita akan terbang."
Dalam sekejap tubuh Elizabeth berubah jadi naga putih raksasa, keduanya terkejut dan bersama-sama berteriak di waktu bersamaan.
"Elizabeth seekor naga." x2
__ADS_1
"Aku akan menjelaskannya, cepat naik ke punggungnya."
Agar tidak mencolok Elizabeth terbang di atas awan memungkinkan semua orang di bawahnya tidak terkejut dengan penampakan naga.
"Jadi begitu, ada cara seperti itu juga," ucap Shina.
"Kurasa hanya Elizabeth yang bisa melakukannya."
Keduanya mengangguk mengiyakan selagi merasakan hembusan angin membelai rambut mereka.
"Tak kusangka pemandangan di atas ini sangatlah indah."
"Aku juga berfikiran sama."
"Sekarang aku akan menjelaskan keadaan kerajaan kita dan termasuk para naga."
"Kami siap mendengarkan."
Sebagai anggota party mereka harus tahu semuanya, tentang apa yang akan mereka hadapan termasuk rahasia yang diketahui Elizabeth semalam.
Saat Elizabeth kembali ke penginapan Shina dan Noel sudah tertidur, saat itu hanya Marisa yang berjaga jadi dia orang pertama yang diberitahukan soal kebencian elf dan konspirasi tentang semuanya.
"Aku mengerti, jadi apa kita akan membantu kerajaan?" tanya Noel.
"Elizabeth bilang sebelum ratu sendiri yang mengunjunginya, kita tidak akan membantunya sedikipun soal Wisteria."
"Bukannya itu keterlaluan."
Shina juga mengangguk sebagai persetujuan.
"Jika ratu datang sendiri pasti hal itu urusan yang mendesak dan saat itu Elizabeth bisa bernegosiasi soal harga, lagipula kita masih petualang."
Keduanya menatap dengan tatapan berbinar.
"Sesuai yang diharapkan dari ketua kita, dia jenius."
"Aku akan kaya raya."
__ADS_1
"Kalian benar-benar mata duitan," ucap Noel yang dibalas dengan suara tawa.