Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 68 : Yang Masih Tersisa


__ADS_3

Berkat Shina dia telah disembuhkan dengan baik, pria itu mengambil makanan perbekalan dan memasukannya ke dalam mulutnya seperti seorang yang kesurupan.


"Enak sekali."


"Kau terlihat mengerikan ya," kata Shina.


"Aku belum makan selama dua hari."


"Jika begitu wajar jika kau jadi seperti ini."


Kelompok Elizabeth memutuskan untuk membiarkannya dulu sebelum memberikan pertanyaan ringan setelahnya, khususnya bagaimana keadaan semua orang yang telah datang kemari.


Pria itu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja sampai mereka diserang oleh seekor naga berwarna merah terang yang membantai manusia sebagai makanannya.


Ciri-cirinya tepat seperti apa yang selama ini dicari oleh Elizabeth.


"Selama ini aku sudah mencarinya, ternyata dia di sini."


"Kau membuatku takut," kata pria itu terhadap Elizabeth yang menunjukan senyuman mengerikan.


"Dan lalu kenapa kau berakhir di sini?" tanya Marisa.


"Orang-orang yang selamat bersembunyi di celah batu namun sesekali harus ada yang keluar untuk mencari makanan, aku tadinya berlima namun sekarang hanya aku yang tersisa."


"Kau beruntung karena bertemu dengan kami, sejujurnya kami diminta untuk membawa kalian keluar dari sini."


Pria itu melirik ke arah Elizabeth dengan pandangan penuh harapan.


"Jika sekarang kita bisa menghindari sang naga."


"Apa maksudmu menghindari aku akan membunuhnya."


"Kau serius?"

__ADS_1


"Aku tidak pernah seserius seperti sekarang ini."


Beberapa kadal mulai bermunculan untuk mengepung mereka, pria itu lebih tahu dari siapapun di sini.


"Mereka Wizard, merekalah yang membunuh rekanku."


"Sekarang kita yang membunuh mereka."


Elizabeth menebas kadal yang menyerang ke arahnya, dari mereka bisa menyemburkan api juga.


Sebuah kepala dengan cipratan darah meluncur ke udara.


"Elizabeth terlihat sangat bersemangat, kita juga tidak boleh."


"Tentu saja... Fire Bolt"


Pria itu terkejut, bagaimanapun ini pertama kalinya ia bertemu dengan petualang sekuat ini, mereka mempermainkan para Wizard seperti hewan rumahan.


Pria itu menjelaskan.


"Karena keberadaan naga mereka harus hidup sejauh ini, aku sekarang sedikit khawatir dengan yang lainnya."


"Jika demikian cepat tunjukan jalannya," ucap singkat Elizabeth.


Mereka dibawa semakin dalam di mana di sana tampak sebuah celah yang hanya bisa dilewati oleh satu orang, semakin berjalan masuk tampak para petualang hanya duduk dengan aura suram di wajahnya.


"Apa itu kau?"


"Aku kembali."


"Mana yang lainnya?"


"Mereka sudah tiada."

__ADS_1


"Begitu."


Dilihat dari reaksinya kematian terlihat sudah wajar di sini, ada lima orang yang terbaring karena luka dan enam orang lagi duduk bersandar pada dinding, dengan si pria total jadi 12 orang terdiri dari pria dan wanita.


Shina buru-buru merawat orang yang terluka sementara Marisa dan Noel mulai membagikan makanan.


"Terima kasih."


"Pelan-pelan saja."


Marisa berkata selagi mengalihkan pandangan ke arah Elizabeth.


"Jika kita kembali ke tempat sebelumnya itu terlalu jauh, pilihan terbaik bahwa kita langsung memanjat dari sini."


"Itu memang benar, kurasa aku bisa membuat tangga es agar kita bisa keluar... tapi sebelum itu paling tidak mereka harus bisa berjalan sendiri."


Marisa mengangguk mengiyakan sebelum pria itu datang menyela.


"Lalu bagaimana soal naganya? Jika kita keluar naga itu pasti akan menemukan kita."


"Sudah kubilang aku akan membunuhnya, dan sejujurnya aku sudah tahu keberadaannya."


"Nona Elizabeth?"


"Kalian tunggu saja di sini."


Pria itu secara bergiliran bolak-balik ke arah anggota Elizabeth dengan panik.


"Kalian tidak ingin menghentikannya?"


"Di kehidupan ini selalu ada satu hal yang hanya bisa diselesaikan seorang diri."


Marisa jelas memberikan pernyataan yang sulit dimengerti untuk orang luar.

__ADS_1


__ADS_2