
"Soal itu, sebenarnya aku membutuhkan banyak uang jadi terkadang aku menipu para jemaah untuk mendapatkannya dengan menjual air suci palsu ataupun alat lainnya."
"Lanjutkan," desak Marisa.
"Suatu hari aku ketahuan dan semua seniorku mulai melarangku untuk melakukannya lagi."
"Mereka ternyata masih baik."
"Aku memang dilarang tapi karena butuh uang untuk dikirimkan ke tempat tinggalku yang miskin maka aku melarikan diri dari sana dan bertekad untuk menjadi petualang, paling tidak kurasa aku bisa bekerja dan menipu orang lagi."
Marisa menunjukkan wajah bermasalah selagi membalas dengan nada datar.
"Sebelum menyucikan undead lebih baik kau menyucikan dirimu dulu."
"Ugh, apa kau akan mengeluarkanku dari party?"
"Tentu saja tidak, semua orang di sini memiliki tujuan juga. Jika kau membutuhkan uang maka kau memilih tempat yang benar. Kami berniat untuk pergi ke gurun pasir merah dan kuyakin monster di sana akan berharga tinggi."
Mata Shina bersinar terang.
"Itu luar biasa desu."
"Tapi kita harus menjadi peringkat S dulu."
"Itu akan merepotkan."
Elizabeth membunuh undead terakhir dengan mudahnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Bukan apa-apa."
"Kalau begitu mari kembali."
"Baik."
__ADS_1
"Aku berkeringat aku ingin mandi, mari mandi bersama Elizabeth."
"Tidak usah, aku mandi sendiri."
"Jangan begitu, aku akan menggosok punggungmu."
"Apa hubungan kalian semacam itu?"
"Apapun itu kami tidak seperti itu."
"Mencurigakan."
Siang harinya ketiganya telah sampai di mulut gua yang menjadi lokasi Lich itu berada, dengan langkah pelan mereka memasukinya dan menjatuhkan musuh dengan mudahnya.
"Holy Javelin."
"Fire Bolt."
Akan bagus jika seseorang meneriakkan jurus yang mereka keluarkan, tapi Elizabeth tidak ingin melakukannya dan hanya menembak dengan sihir esnya.
"Kurasa semua orang menganggapnya seperti itu."
Dungeon ini hanya memiliki lima lantai dan ketika di ujungnya mereka bisa melihat seorang Lich mengenakan jubah pendeta dengan tubuh seutuhnya tengkorak.
"Jubah itu, dia dari gereja yang sama denganku."
"Kalian berani mengacaukan rencanaku maka terimalah hukumannya."
Sebelum dia bergerak es sudah menyelimuti tubuhnya lalu sebuah tebasan memenggal kepalanya.
"Sialan, mana mungkin aku bisa dikalahkan dengan mudah... aku Lich."
"Kau tidak terlalu kuat."
Elizabeth menginjak kepalanya.
__ADS_1
"Shina, bisa kau sucikan makhluk ini?"
"Tentu saja."
"Bukannya kau Shina."
"Kau tahu tentangku."
"Sudah jelas, aku sering melihatmu beberapa kali di kota suci."
"Jadi kau benar-benar berada di sana lalu kenapa kau malah berubah jadi sepertinya ini?"
"Soal itu karena aku ingin mencoba sihir untuk membangkitkan orang dari kematian, istriku meninggal karena sakit aku berusaha menghidupkannya namun malah berakhir seperti ini."
"Kau jelas dikutuk."
"Demi bisa kembali ke sana, aku mencoba untuk memiliki tubuh lagi."
Elizabeth menunjukkan wajah kesal.
"Cepat lakukan Shina, kita tidak perlu mendengarkannya... saat dia berfikir untuk mengambil nyawa seseorang dia bukanlah manusia lagi, kita tidak perlu bersimpati padanya."
"Aku mengerti."
Dengan sihir Shina seluruh tubuhnya berubah jadi cahaya dan menghilang.
Elizabeth sangat mengerti bagaimana perasaan seseorang saat kehilangan orang yang berharga baginya, meski itu menyakitkan, itu bukan berarti dia harus membangkitkan mereka kembali terlebih berakhir dengan mengambil nyawa orang tak berdosa.
Elizabeth menyarungkan kembali pedangnya dan meninggalkan dungeon bersama yang lainnya, dengan kematian Lich kutukannya sudah menghilang hingga desa telah kembali sedia kala. Demi merayakannya sebuah pesta digelar bersama pada malam harinya.
"Tambah lagi nona Elizabeth, kau harus minum yang banyak."
"Aku tidak terlalu suka alkohol."
"Jangan sungkan, silahkan."
__ADS_1
Marisa dan Shina sudah tidur lebih dulu karena terlalu banyak minum.