
Tiga hari berikutnya Marisa dan Elizabeth berada di kawasan hutan untuk melawan sekumpulan Orc yang mengepung mereka.
Marisa mengulurkan tongkatnya selagi merapalkan sihir untuk menembakkan bola api berulang kali hingga satu Orc dapat dijatuhkan.
Sihir apinya tidak sekuat yang dipikirkan Elizabeth sementara sisanya Elizabeth menyerangnya melalui pedang miliknya.
"Ini yang terakhir... Fuah."
Marisa membaringkan tubuhnya di tanah selagi mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Benar-benar melelahkan."
"Aku pikir sihir api tidak selemah itu?"
"Apa yang kau katakan, sihir api adalah sihir yang mudah dipelajari, Elizabeth lah yang menggunakan sihir yang sangat langka bahkan melakukannya tanpa rapalan."
"Jadi pak tua itu memang melakukannya untukku agar bisa mengalahkan naga."
"Pak tua?"
"Lupakan saja, mari bereskan semua ini dan pergi ke sungai untuk membersihkan diri."
"Baik."
Elizabeth merasa sedikit lega karena Marisa tidak melihatnya sebagai seorang yang menakutkan lagi.
Mereka membersihkan diri sebelum sesuatu menempel di kaki Elizabeth, itu adalah sebuah telur berukuran cukup besar.
"Telur naga."
"Benar, telur naga," tambah Marisa terkejut.
__ADS_1
"Akan kuhancurkan."
Marisa buru-buru mengambilnya untuk melindunginya dalam dekapannya.
"Anak ini tidak bersalah, aku akan membesarkannya sebagai ibu."
"Hah."
"Ugh."
"Naga tetap naga saat mereka besar mereka hanya akan menghancurkan kota dan membunuh banyak orang tanpa ampun menjadikan kota sebagai lautan api bersama kolam darah setelahnya."
Marisa merengutkan tubuhnya meski begitu dia tidak ingin menyerah.
"Aku tetap akan merawatnya."
"Terserah saja tapi jika dia tumbuh menjadi monster aku tidak segan untuk membunuhnya."
"Aku tidak akan membiarkannya seperti itu."
Elizabeth cukup keras padanya namun sesekali dia juga bisa bersikap lembut. Mereka telah memesan satu kamar di penginapan dengan dua ranjang.
"Aku harus mulai menghangatkannya di dalam selimut, aku yakin dengan begitu telurnya akan menentas."
Elizabeth tak ingin memperhatikan hal itu jadi dia melepaskan pakaiannya untuk mandi lalu menggantinya dengan baju tidur.
Hari ini mereka cukup lelah dan mereka belum sempat melaporkan soal perburuan tadi, paling tidak Elizabeth berfikir dia mungkin bisa mendapatkan tidur nyenyak hari ini.
Sesekali ia selalu bermimpi buruk soal kenangan dimana tempat tinggalnya yang diratakan oleh naga dan itu cukup menyakitkan baginya.
"Elizabeth bangun, Elizabeth."
__ADS_1
"Ada apa Marisa."
"Lihatlah ini, cepatlah."
"Apa telur itu lagi, kukatakan itu tidak akan menetas hanya dalam waktu satu ha.."
Sebelum Elizabeth melanjutkan perkataannya, dia mendapatkan hal yang mengejutkan dihadapannya. Di tempat tidur Marisa ia melihat seekor naga putih meraung ke arahnya, ada cangkang telur di kepalanya jadi Marisa melepaskannya.
"Lihat, bukannya dia imut."
"Bagiku dia sama berbahaya dengan yang besar."
"Kau terlalu mewaspadainya, aku akan menamainya Glacies."
Seolah mengerti apa yang dikatakan Marisa, Glacies meraung kecil seperti menyukainya.
"Glacies coba keluarkan nafasmu."
"Marisa itu berbahaya, dia bisa membakar sesuatu."
Bukan api yang keluar dari Glacies melainkan nafas es yang seutuhnya membekukan pot bunga yang diletakkan di sudut jendela.
"Dia memiliki kesamaan denganmu Elizabeth, tapi tentu saja aku tidak akan membiarkan kau mengambil Glacies dariku."
"Aku jelas tidak akan melakukannya."
"Mulai sekarang aku mamamu, Glacies."
Elizabeth mendesah pelan.
"Suamimu di masa depan jelas akan terkejut saat tahu dia akan memiliki anak tiri seekor naga."
__ADS_1
"Jangan khawatir, Glacies gadis yang imut dia akan menyukainya."
Elizabeth melirik ke arah buku yang menjelaskan tentang naga dan bergumam, jadi dia tahu kelaminnya dari sana.