
"Wind Cutter."
"..."
"Water Cannon."
"..."
"Storm Tornado."
"...."
"Shining Arrow."
Semua yang digunakan Marisa semuanya lemah hingga bahkan tidak bisa melukai slime sedikitpun.
"Bagaimana mengatakannya, kau mungkin tipe orang yang akan langsung mati saat berhadapan dengan naga."
"Kejamnya... mungkinkah Elizabeth berniat membawaku juga bertarung."
"Sudah jelas kan, aku tidak akan memaksamu namun paling tidak aku ingin kau bisa menjaga dirimu sendiri, aku tidak ingin kehilanganmu saat pertempuran jika memungkinkan aku bisa selalu melindungimu tapi terkadang ada waktu aku tidak bisa melakukannya."
Itu perkataan yang sangat menyentuh bahkan diantara para gadis.
"Elizabeth, kau menyayangiku bukan."
"Berhenti memelukku."
__ADS_1
Sifat Elizabeth jelas lebih lembut dari pertama kali mereka bertemu, jika saja rekannya bisa melihat ini mereka pasti bisa tersenyum bersama.
Elizabeth menjentikkan jarinya dan dia menciptakan tombak-tombak dari es yang meluncur ke setiap slime kemudian meledak dengan bongkahan es yang menyeruak ke atas.
"Luar biasa Elizabeth."
"Dengan ini aku pasti bisa membunuh naga, ngomong-ngomong apa penyihir selalu memakai tongkat saat mereka menggunakan sihirnya?"
"Tidak juga, ada beberapa orang yang menggunakan item berbeda tapi kebanyakan tongkat karena ini berada di tingkat menengah dan tidak sulit menggunakannya. Singkatnya tongkat ini mampu meningkatkan penggunaan sihir selain rapalan itu sendiri."
"Menengah dengan kata lain ada item yang lebih kuat bukan."
Elizabeth mencondongkan dirinya dengan mata yang mengancam.
"Seharusnya aku tidak mengatakannya."
"Cepat beritahu aku?"
"Sepertinya itu barang yang langka."
"Benar, beberapa menemukannya di kedalaman dungeon namun yang paling kuat berada di perpustakaan terlarang."
"Perpustakaan terlarang kah?"
Marisa menyadari bahwa dia telah menginjak ranjau.
"Di mana perpustakaan itu berada?"
__ADS_1
"Di padang gurun merah, sebuah tempat yang dihuni monster kuat yang tidak pernah siapapun bisa kembali setelah mencoba masuk ke dalamnya."
"Sepertinya itu akan menjadi tujuan kita selanjutnya."
"Sudah kuduga," teriak spontan Marisa tapi ia tahu tidak semudah itu melakukannya, ada prosedur tertentu yang diterapkan di sana.
"Jika memasukinya kita harus berada di peringkat S, maka izin tidak akan diberikan saat pergi ke sana."
"Kita tidak perlu izin bukannya kita bisa menyelinap."
Elizabeth jelas memberikan perlawanan keras untuk pergi sekarang tapi Marisa berfikir terburu-buru tidak baik terlebih jika mereka memasuki tanpa izin itu akan buruk dengan karir mereka sebagai petualang meksipun mereka masih berada di Rank terendah.
"Kalau kita menyelinap kita akan kesulitan menjual monster yang kita kalahkan, kudengar harganya cukup mahal terlebih, apa Elizabeth tidak mau tinggal di mansion?"
Serangan balasan Marisa sangat kuat.
Selama ini mereka tinggal di penginapan sederhana tidak aneh jika Elizabeth juga menginginkan kediaman yang nyaman untuk dihuni.
Awalnya dia hanya akan berpetualang ke sana kemari dari satu tempat ke tempat lainnya namun karena keberadaan guild master ia tidak bisa melakukannya dan harus tetap berada di kota ini.
"Baiklah, lagipula aku juga ingin punya kamar untuk diriku sendiri."
"Hehe, walau punya rumah kita bisa sekamar juga loh."
"Tidak mau. Kau selalu menyelinap ke dalam selimutku rasanya tidak nyaman."
"Elizabeth hangat dan lembut aku tidak bisa menahan diri untuk memeluknya."
__ADS_1
"Kau hanya menjadikanku sebagai bantal guling."
Beberapa orang mungkin akan salah paham dengan hubungan keduanya.