Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 45 : Akhir Pertempuran Di Perbatasan


__ADS_3

Sementara yang lainnya mengalahkan musuh Shina mengambil peran untuk mengalahkan pemimpinnya, dia menciptakan banyak lingkaran sihir suci yang menembak deretan panah cahaya.


Musuhnya melompat ke belakang selagi menepis semuanya dengan satu tebasan.


"Tak kusangka ada seorang yang bisa menggunakan sihir sebagai serangan."


"Aku masih banyak sihir yang ingin kutunjukan padamu."


Pria itu melesat ke arah samping meski begitu kakinya telah terhentikan oleh sihir cahaya dan tali mengikat seluruh tubuhnya.


"Rasakan ini, Holy Secret."


Dan ledakan melenyapkan segalanya.


Marisa yang berdiri di sampingnya hanya bisa menghela nafas panjang.


"Paling tidak tanya dulu siapa namanya."


"Ugh.. aku lupa."


Elizabeth menebaskan pedangnya dan dalam sekejap membelah tanah menciptakan dinding es luar biasa.


Noel juga sudah selesai dengan bagiannya.


"Kurasa sudah selesai."


Marisa dengan bangga membusungkan dadanya.


"Melawan 10.000 rasanya sangat mudah."

__ADS_1


"Aku juga berfikiran sama," tambah Noel yang disetujui anggukan Shina.


Mereka kembali ke ibukota dan menjadi kelompok pertama yang kembali ke sana, ratu Venuzuela melompat ke arah Elizabeth dan itu jelas membuatnya tidak nyaman.


"Bisakah kita tidak berpelukan saat kita bertemu."


"Itu jelas mustahil."


"Ratu juga sudah merasakan sensasi dari Elizabeth bukan, dia sangat lembut dan empuk."


"Benar sekali, aku pasti akan tidur nyenyak kalau membawa Elizabeth ke kamarku."


"Ali jelas tak akan menyerahkannya," jawab jahil Marisa.


Shina dan Noel menunjukkan wajah bermasalah tapi tak ingin berkomentar apapun lagi. Mereka mandi bersama kemudian mendapatkan jamuan mewah.


Elizabeth sudah pernah memakannya saat perayaan kotanya meski begitu itu waktu yang sangat lama ia bahkan hampir melupakan rasanya.


"Daging yang lembut meleleh di mulutku."


"Hora Shina, wajahmu penuh dengan saos."


Marisa dengan tenang membersihkannya dengan tisu, sedangkan Noel sudah masuk ke dunianya sendiri hingga tidak mendengarkan apapun kecuali merasakan kenikmatan daging yang dimakannya, efek bunga menyebar di sekeliling wajahnya.


"Jadi bagaimana dengan pasukan yang lainnya?"


"Mereka sudah menang sekarang kita hanya harus menunggunya mereka kembali, namun sayangnya tim unit dragon slayer mengalami luka parah mereka tengah dirawat di rumah sakit sekarang."


"Apa mereka berhasil mengalahkan naganya."

__ADS_1


"Tidak, itu hanya membuatnya melarikan diri... Semenjak kita tahu ada naga yang dikendalikan kami tidak bisa sembarangan membunuh lagi."


Elizabeth bisa melihat keraguan dari sorot mata Venuzuela, dia tadinya hanya fokus untuk membunuh naga namun sekarang berbeda, ia juga harus bisa menyelesaikan beberapa konflik yang terjadi dari sejak dahulu kala.


Untuk naga yang melarikan diri bisa diurus nanti.


"Leviathan apa kau ingin makan juga?"


"Aku hanya sebuah roh aku tidak masalah jika tidak makan."


"Meskipun begitu kau bisa mencoba makanan seperti ini."


"Kalau begitu aku akan menerimanya."


Leviathan berubah ke wujud manusianya dan dengan senang memakan apapun yang diberikan yang lainnya.


"Dia terlihat imut, ambil punyaku juga," ucap Venuzuela.


"Ini terlalu banyak."


Semua orang malah mencoba menjahilinya, perlu sehari lagi para komandan kembali maka dari itu istana menjadi cukup nyaman ditinggali bagi Elizabeth.


Dia duduk di kursi taman selagi memperhatikan langit berbintang sebelum Leonardo muncul dan duduk di sebelahnya.


"Kerja bagus hari ini, melawan 10.000 pasukan hanya berempat itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan kebanyakan orang, malah lebih jauh dari rekor."


"Mereka saja yang terlalu lemah."


"Begitu."

__ADS_1


__ADS_2