Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 22 : Desa Di Dekat Dungeon


__ADS_3

Di dekat dungeon ada sebuah desa kecil yang masih berdiri dengan baik, beberapa orang yang bertugas menjaga keamanan mengintrogasi ketiganya.


Mereka hanya pria dari desa yang menggunakan tombak dan pedang yang memiliki kualitas rendah.


"Siapa kalian dan apa mau kalian?"


"Kami dari guild dan datang untuk menyelesaikan masalah di sini," jawab Marisa menunjukkan kartu petualangnya.


"Kau pasti bercanda, kami butuh petualang rank A untuk menyelamatkan desa kami, kalian tidak mungkin bisa melindungi kami."


Elizabeth mencengkeram kerah pakaian pria tersebut.


"Kau terlalu banyak bicara, jika bukan kami siapa yang mau mengambilnya, bayaran yang kalian berikan terlalu kecil untuk pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa, dan jelas mereka tidak mau mengambilnya karena itulah berterima kasihlah bahwa kami masih mau melakukannya."


Asap dingin menyebar ke sekelilingnya.


"Owh, hentikan Elizabeth kau membuat semua orang takut."


Seorang pria tua dengan tongkat datang untuk menenangkan.


"Maafkan salah satu warga desa kami, maukah kau melepaskannya."

__ADS_1


Elizabeth mendorongnya jatuh, wajahnya memang cantik namun tidak ada kelembutan di dalamnya.


"Tak masalah."


"Terima kasih, hari sudah sore.. silahkan, kami akan menunjukkan kamar untuk beristirahat."


"Baik."


Kepala desa memberikan mereka ruangan yang biasanya diberikan pada tamu, dan mulai menjelaskan keadaan yang menimpa desanya.


"Pada dasarnya dungeon yang tidak jauh dari sini sudah lama tidak aktif namun semenjak seminggu terakhir para undead mulai bermunculan menyerang desa ini, awalnya seorang Lich mengunjungi desa dan dia meminta satu pengorbanan dari gadis setiap bulannya namun jelas kami menolaknya hingga hal ini terjadi."


"Jika begitu kenapa kalian tidak pergi dari tempat ini?" ucap Marisa.


"Dia mengambil keuntungan tapi paling tidak dia melakukannya."


Shina yang tahu pergerakan Lich menunjukan wajah bermasalah.


"Lich itu mencoba untuk memiliki tubuh lagi dengan mengambil darah para gadis secara bertahap, kita jelas tidak boleh membiarkannya."


"Elizabeth bagaimana pendapatmu?"

__ADS_1


"Dia sengaja melakukan ini, jika dia mencoba menyerang kota kemungkinan besar dia harus berhadapan dengan petualang kuat jadi ia memilih jalan seperti ini, membuat desa ini mengalami keputusasaan sehingga mereka secara suka menyerahkan anak mereka, jika suatu hari habis dia akan mencoba menyuruh penduduk ini mengambil gadis di tempat lain."


"Mustahil?"


"Yang dikatakan Elizabeth benar desu, perlu 100 gadis untuk membuatnya memiliki tubuh kembali."


Wajah kepala desa lebih memucat lagi.


"Tolong selamatkan desa kami."


"Tentu saja, tapi baguslah kalian belum menyerahkan satu gadis pun padanya, karena meski kalian lakukan semuanya percuma saja."


Para Undead akan lebih kuat saat malam hari tiba jadi ketiganya akan bergerak keesokan harinya dan untuk sekarang mereka hanya akan melawan para Undead yang mencoba menyerang desa ini.


Shina mengarahkan tongkatnya dan sebuah lingkaran cahaya muncul di bawah kaki para tengkorak yang menerobos masuk kemudian hancur menjadi serpihan cahaya.


Tak hanya tengkorak para zombie juga muncul dan dengan mudah dibakar oleh Marisa ataupun dibekukan oleh Elizabeth menjadi serpihan debu.


"Jadi itu sihir suci?"


"Hebat bukan, aku ini pendeta paling kuat desu."

__ADS_1


"Aku penasaran jika kau kuat kenapa kau harus pergi menjadi petualang?"


Perkataan Marisa tepat menusuk di hati Shina.


__ADS_2