Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 67 : Water Fall


__ADS_3

Di depan mereka adalah sebuah tebing curam yang semua orang selalu hindari, di bawahnya hanya diisi kegelapan saja bahkan dengan hanya melihat kau tidak akan bisa menemukan apapun tanpa turun ke bawah.


Itu adalah sebuah jurang raksasa yang begitu besar dan tak pernah terlihat ujungnya ataupun menebak jauhnya, seolah jurang ini memang membelah benua.


Beruntung bahwa hari ini cerah karenanya party Elizabeth bisa turun dengan hati-hati, mereka mendarat dan melihat bahwa ada beberapa batu bercahaya yang mampu menerangi langkah mereka.


Batu cahaya itu menghasilkan cahaya kebiruan namun jika diselidiki lebih jauh bukan batulah yang bersinar melainkan lumut-lumut yang menempel padanya yang mengeluarkan cahaya.


Hal itu bisa mereka kesampingkan, jurang biasanya memiliki aliran sungai di bawahnya dan itu memang benar walaupun tak sebesar yang mereka bayangkan mengingat jarak jurang ini yang begitu lebar, jika dikatakan mirip seperti sebuah solokan tentu itu hanya ukurannya saja, untuk airnya tetaplah jernih dimana itu berasal dari celah-celah dinding bebatuan.


Beberapa makhluk menyerupai goblin bermunculan dari lubang, masing-masing dari mereka membawa gada di tangan mereka dan melompat secara serempak, Noel lebih dulu maju, jika goblin memiliki warna hijau mereka memiliki warna hitam.


Gerakan mereka lincah meski begitu bagi semuanya itu bukan sesuatu yang sulit ditangani.


Pedang menyayat dua di antara mereka melalui tebasan Noel, disusul lima lagi dari tebasan Elizabeth.


Beberapa muncul untuk menyerang Marisa dan Shina yang berada di belakang. Marisa menggunakan sihir petir untuk membuat mereka berjatuhan sementara Shina dengan panah cahaya.


Itu bahkan lebih kuat dari sebelumnya diingat Elizabeth, latihan memang membuat seseorang menjadi bertambah kuat.


Mengetahui mereka lawan yang sulit para makhluk itu memutuskan untuk mundur, paling tidak mereka mengerti soal kesenjangan kekuatan.

__ADS_1


Noel berlutut setelah menyarungkan kembali pedangnya.


"Apa ada yang kau temukan?"


"Sepertinya kita berada di jalan yang benar," balasnya selagi menunjukan jepit rambut yang telah rusak.


"Mari lanjutkan perjalanan."


Marisa dengan bangga menunjukkan peningkatannya dan Shina juga tak mau kalah untuk memberikan penjelasan pada Elizabeth.


Mereka seperti bocah yang mencoba menarik perhatian ibunya, terhadap Elizabeth yang kesulitan Noel memalingkan wajahnya untuk menahan tawanya.


Mereka beristirahat sejenak untuk meminum air.


"Air yang segar, aku membawa beberapa nasi kepal untuk perjalanan kalian mau?" ucap Shina.


"Buatan tangan kah, aku mau."


"Marisa dan Elizabeth."


"Thank U."

__ADS_1


Nasi kepal itu telah diberikan garam dan diberikan daun nori sebagai pembungkus, rasanya enak terlebih di dalamnya juga dimasukan beberapa olahan daging dan kentang.


Sangat cukup untuk mengisi perut mereka.


"Ngomong-ngomong Elizabeth bagaimana kalau kita tidak menemukan mereka?" tanya Marisa.


"Itu bukan masalah, kata Ciel kita hanya datang untuk memeriksa maka jika tidak ditemukan mereka bisa dianggap mati dan kita masih dibayar."


"Begitu."


"Mau bagaimana lagi, resiko menjadi petualang seperti itu," potong Shina sebelum akhirnya mereka merasakan seseorang mendekat.


Elizabeth menempatkan tangan di pedang terhadap sebuah bayangan hitam yang muncul secara tiba-tiba.


"Siapa di sana?"


"A-apa kalian petualang?"


Yang muncul adalah seorang pria yang dipenuhi luka, dia hampir ambruk namun Noel segera memeganginya.


"Keadaannya buruk."

__ADS_1


"Akan kusembuhkan," ucap Shina mendekat.


__ADS_2