Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 28 : Pertemuan Kembali


__ADS_3

Di atas perahu itu, Noel membungkuk ke arah Elizabeth selagi berkata.


"Mohon izinkan aku bergabung dengan party kalian, aku yakin jika bersama kalian aku bisa melakukan hal yang lebih baik untuk melindungi banyak orang."


Marisa memotong.


"Kau yakin ingin bergabung dengan kami, kau tahu perjalanan kami akan berbahaya."


"Itu tidak masalah, keinginanku sejak kecil adalah menjadi pahlawan, menjadi seseorang yang mampu melindungi banyak orang, sekali lagi aku mohon."


"Sekarang bagaimana Elizabeth?"


"Kurasa tidak masalah, aku pikir kemampuanmu pasti cukup kuat hingga bisa bertahan cukup lama di pulau itu."


"Terima kasih banyak."


"Jika mereka dua setuju maka aku juga tidak keberatan, sebagai seniormu tolong pijat bahuku," tambah Shina.


"Dengan senang hati."


"Shina telah terjerumus dengan jabatan senior aku harus menyadarkannya, aku juga akan memijatnya."


"Tidak, jangan memijat dadaku."


"Ukurannya pasti akan besar nanti."


"Kyaaa."


Elizabeth mengalihkan pandangan ke arah pulau selagi tersenyum kecil. Mereka telah kembali ke kota dan melihat bagaimana resepsionis dengan senang menyambut kedatangan mereka.


"Kalian sudah berhasil, syukurlah."


"Kami sudah siap dipromosikan sebagai petualang Rank S."


"Begitu, lalu gadis di sana?"


"Anggota baru kami, kami menemukannya di pulau itu."


"Anak hilang lagi."

__ADS_1


Resepsionis berdeham sekali sebelum melanjutkan.


"Guild master sedang ada tamu, jadi tunggulah sebentar lagi."


"Tamu?"


"Ia dari kerajaan, beberapa waktu banyak petualang yang dibunuh secara misterius dan kemungkinan besar pelakunya berasal dari kerajaan Wisteria."


"Masalah perang kah."


Tak lama kemudian dua sosok menuruni tangga, satu orang jelas adalah Ciel dan satu lagi orang yang benar-benar dikenal oleh Elizabeth, berbeda dari sebelumnya dia kini memakai seragam militer menggantikan armor yang selalu dipakainya.


Dia adalah Leonardo.


Mata mereka saling bertemu.


"Ternyata kau pak tua."


"Elizabeth, jadi kau jadi petualang di sini... tunggu sebentar, kalau kau di sini dengan kata lain pembunuh peringkat A itu?"


"Tentu saja aku."


Leonardo memegangi kepalanya frustasi.


"Apa kalian saling kenal?"


"Elizabeth adalah muridku, aku yang mengajarinya cara bertarung."


Keheningan terasa diantara mereka semua.


"Kesampingkan soal kemampuannya, yang lebih penting lagi ternyata kau yang membuatnya menjadi seperti ini," kata Ciel.


"Aku tidak tahu akan jadi seburuk itu, aku tidak pernah mengajarinya untuk menahan diri."


"Tidak, meski dia guruku aku memilih jalanku sendiri."


"Ugh... seperti biasa kepribadianmu buruk, aku ingin tinggal dan ngobrol sayangnya masih banyak yang harus aku lakukan, Elizabeth seperti yang pernah kukatakan kau bisa datang ke ibukota aku tidak keberatan jika kau menjadi seorang komandan."


"Aku tidak tertarik dengan hal itu pak tua."

__ADS_1


"Begitu, jika kau datang kami pasti akan terbantu jadi bagaimana cara aku bisa membujukmu."


"Suruh ratu datang sendiri dan aku akan memikirkannya."


"Itu pasti sulit, yah kalau begitu sampai nanti."


Leonardo menghilang dari balik pintu.


Ciel bertepuk tangan untuk mencairkan suasana.


"Kalian pasti sudah menyelesaikan ujian kenaikan Rank S kalian, silahkan naik biar kita bicarakan di ruanganku saja."


"Aku mengerti."


"Ngomong-ngomong guild master, apa aku tidak masalah mendapatkan kenaikan rankku di sini?"


"Kau pasti dari guild kota lain, kurasa tidak masalah pada dasarnya setiap guild merupakan cabang yang sama."


"Itu melegakan, mulai sekarang aku akan bergabung dengan kelompok Elizabeth."


"Fufu kurasa kalian akan menjadi kelompok terkuat mulai sekarang."


"Kau seperti mengenal Noel guild master?" tanya Shina.


"Kalian tidak tahu, dalam pertandingan ilmu pedang Noel adalah juaranya."


"Eh."


Mereka terkejut.


"Bukannya saat itu yang memenangkannya gadis berusia 5 tahun."


"Pertandingannya sendiri sudah lama sudah jelas sekarang dia sudah dewasa."


"Ahaha, itu hanya masa lalu tapi sekarang aku tidak yakin menyebutku juara, aku bahkan kehilangan temanku yang berharga."


Elizabeth menepuk bahunya.


"Mari masuk."

__ADS_1


"Ah iya."


__ADS_2