
Elizabeth berkata setelah keheningan terasa diantara keduanya.
"Bagaimana keluargamu?"
"Mereka baik-baik saja haha tapi aku dimarahi," balas Leonardo selagi menggaruk kepalanya.
"Aku belum mengatakan hal ini dengan benar, terima kasih sudah melatihku saat di hutan itu."
"Kenapa tiba-tiba, kau membuatku takut atau sejujurnya kau tidak seperti dirimu sebelumnya."
"Aku mendengar ketika kau melatihku saat itu istrimu sedang sakit, seharusnya kau menemuinya tapi kau malah terjebak denganku."
"Jadi kau sudah tahu, saat itu situasinya tidak bisa dikendalikan," jawab ringan Leonardo masih dengan senyumannya.
"Jika begitu harusnya kau meninggalkanku dan lari, bagaimana jika itu adalah saat terakhir kau bertemu istri dan anakmu."
Leonardo mendesah pelan lalu meletakan tangannya di kepala Elizabeth.
"Ini bukan apa-apa, aku selalu menempati janjiku... terlebih keluargaku baik-baik saja, seharusnya aku yang mengucapkannya. Terima kasih, jika kau tidak menolongku aku tidak mungkin berada di sini dan bertemu keluargaku lagi."
Elizabeth menepis tangan Leonardo.
"Jauhkan tanganmu."
"Haha aku minta maaf, tapi ngomong-ngomong kau sedikit berubah apa bersama temanmu membuatmu sedikit lembut."
"Aku benci mendengar kata lembut."
__ADS_1
Itu hanya pertemuan singkat diantara keduanya.
Pagi berikutnya para komandan telah kembali dari medan perang hal itu disambut banyak orang di kota bahkan menjadi sejarah tak terelakkan bagi kerajaan Tarnes, dengan pasukan jauh lebih sedikit dari Wisteria mereka semua berhasil memukul mundur musuh hingga perayaan di ibukota diadakan meriah, meski begitu pertarungan sesungguhnya belumlah selesai.
Shina menggigit tusuk sate di tangannya selagi memperhatikan orang-orang yang sedang memenuhi jalanan dengan kemeriahan.
"Mereka terlalu bersemangat."
Di sampingnya Noel hanya berdiri mengawasi.
"Hari ini kita bertugas untuk mengawasi dan besok kita bisa merasakan festivalnya."
"Tiga hari untuk pesta seperti ini aku pikir sebuah pemborosan."
"Aku juga berfikiran sama tapi melihat kebahagiaan di wajah mereka kupikir itu tidaklah buruk, tapi rasanya kita malah menjadi bagian kesatria sesuatu seperti itu."
"Tak apa kan, yang penting mereka membayar kita dengan harga tinggi."
Shina menaruh tusuk sate yang telah dimakannya kemudian mengambil tusuk sate baru.
"Kamyu tahyu uyang ityu sangat berhargya."
"Telan dulu jika mau berbicara."
Shina menuruti apa yang dikatakan Noel kemudian melanjutkan.
"Desa tempat tinggalku sangatlah kecil dan terpencil, kami harus hidup saling membantu untuk membuat kami tetap hidup. Dan karena Itulah aku bertekad untuk menjadi orang kaya kemudian mengirimkan banyak uang untuk mereka agar mereka tidak perlu menderita lagi dan membangun desa menjadi lebih baik."
__ADS_1
"Nama desa itu?"
"Desa Fury."
Noel diam untuk memikirkannya.
"Aku selama ini tinggal di pasti asuhan."
"Apa kau yakin tinggal di sana?"
"Memangnya kenapa?"
"Kudengar desa itu telah hancur sejak lama."
"Hehe berhentilah bercanda aku baru tiba di sini dan mengenal Elizabeth dan yang lainnya, itu jelas tidak mungkin harusnya beritanya sudah terdengar padaku juga."
"Beritanya sudah ada, tapi desa itu hancur 100 tahun yang lalu, aku tahu ini karena pernah disewa arkeologi untuk pergi ke sana."
"Itu jelas tidak mungkin, aku hidup di sana beberapa tahun yang lalu bahkan mereka memiliki makanan yang enak."
Elizabeth muncul bersama Marisa di belakangnya yang tampak sedih.
"Kenapa kalian ada di sini?"
"Aku ingin memberitahukan satu hal padamu, aku berniat ingin mengirimkan bonusku ke desamu namun."
Elizabeth menunjukkan sebuah gulungan di tangannya dan itu adalah berita tentang sebuah desa bernama desa Fury yang tiba-tiba saja penduduknya menghilang dengan misterius.
__ADS_1
"Mustahil, desaku tidak mungkin?"
Ini adalah sebuah rahasia besar yang belum terpecahkan.