
Di sebuah deretan pohon yang menjulang tinggi pasukan Raider mulai menyebar, mereka menggunakan area hutan sebagai tempat peperangan memungkinkan mereka menyelinap dengan mudah.
Sebelum pasukan berjumlah 10.000 muncul, Raider bersama pasukannya sudah menyiapkan berbagai jebakan yang digunakan sebagai serangan pertama yang melibatkan tali, lubang, dan juga bambu.
Hanya menuju waktu bahwa mereka akan mati sendiri.
Raider berayun dan mendarat di dahan pohon selagi mengawasi sekitar.
"Komandan, kami sudah siap kapanpun."
"Baiklah, bunuh semuanya."
"Okay."
Raider menyerang dari atas, dia menebas beberapa orang sebelum mengincar pemimpinnya yang merupakan pria dengan tombak.
Tebasannya bisa ditahan, dan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Pengkhianat Wisteria, Raider."
"Servan, ternyata kau yang memimpin pasukan ini."
"Aah, semenjak kau meninggalkan kerajaan akulah yang berada menjadi pemimpin semuanya."
"Begitu."
"Kurasa ini kesempatan bagus untuk tahu kenapa kau meninggalkan kerajaan."
"Hal seperti itu tidak perlu ditanyakan lagi."
__ADS_1
Dengan gerakan berputar di udara Raider mengirimkan tebasan berputar, Servan menggunakan tombaknya yang mana saling berbenturan di udara.
Tebasan masuk secara horizontal dan Servan menangkisnya ke samping, sebelum memberikan tusukan yang mampu dihindari dengan melompat ke belakang.
"Raja Wisteria hanya seorang sampah yang mengumpulkan wanita di tangannya, dia membunuh ayahku hanya ingin mendapat Ibuku, namun Ibuku lebih memilih mengakhiri hidupnya dan akhirnya sejak itu aku sendirian, jika tahu hal ini aku tidak akan masuk ke dalam militer."
"Bukannya ayahmu kalah dalam perang."
"Itulah apa yang dikarang olehnya, dia berdalih ingin membantu orang-orang yang telah kehilangan suaminya dengan merangkul mereka sebagai keluarga dengan menikahi istrinya, namun sejujurnya dia adalah orang yang busuk, dia menyuruh seseorang untuk membunuh ayahku yang sudah menang perang."
"Jadi begitu, apapun itu aku tidak peduli selagi aku bisa hidup dengan kemewahan aku akan mengikuti siapapun."
"Aku sudah tahu kau akan bilang begitu karena itulah aku mengatakannya padamu, hasilnya kita akan saling membunuh di tempat ini."
Servan menyeringai senang.
Dia adalah orang yang haus akan uang dan mampu melakukan apapun demi tujuannya.
Sebuah tombak di arahkan ke depan, Raider lebih memilih bertarung di darat untuk mengalahkan musuh di depannya.
"Kau tidak menggunakan alat anehmu itu."
"Ini sudah cukup."
Trang, Trang, Trang.
Mereka terus menjual belikan serangan, goresan muncul di wajah Raider begitu juga sebaliknya.
Pedang dan tombak siapa yang akan mengambil kemenangan di tempat ini. Ujung tombak diselimuti oleh petir yang mana menyeruak keluar menghancurkan sekelilingnya dengan ledakan.
__ADS_1
"Lightning Spear."
Tombak menembakkan petir ke arah Raider membuatnya terlempar selagi menyemburkan darah dari mulutnya.
"Hanya segini kekuatanmu. Kudengar karena tidak bisa menggunakan sihir kau dikatakan ahli dalam bertarung, tapi aku kecewa."
Sekeliling hutan terbakar meski begitu Raider tampak tersenyum.
"Kenapa dengan dirimu apa kau sudah gila dengan kekalahanmu."
"Tidak, kalian belum tahu tentang area ini bukan."
"Apa maksudmu?"
"Lebih baik kau perhatikan bagaimana pasukanku bertarung."
Setelah Raider mengatakannya akhirnya Servan menyadarinya.
"Kalian berusaha untuk tidak merusak hutannya."
"Tepat sekali, pada dasarnya ini adalah kawasan roh hutan, jika seseorang merusaknya maka mereka akan dianggap sebagai musuh."
Bertepatan saat itu sebuah akar tanaman telah menembus tubuh Servan, tak hanya dirinya seluruh pasukannya juga mengalami hal sama.
"Mustahil, bagaimana kami kalah dengan cara seperti ini? Aku juga tidak pernah mendengar soal wilayah ini."
"Itu wajar saja karena sejak dulu kerajaan selalu menyembunyikannya."
"Aaaargh."
__ADS_1
Akar yang lain menembus tubuhnya hingga darah menyembur ke udara.