Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 63 : Pulang


__ADS_3

Tepat di pesisir pantai Elizabeth merubah dirinya kembali lalu berlari bersama yang lainnya menuju orang-orang yang tampak kesusahan karena harus berhadapan dengan para ular.


Jack yang lebih dulu menyadarinya.


"Kalian semua."


"Kita akan langsung pergi dari sini, Marisa."


"Serahkan padaku."


Marisa menggunakan sihir api untuk menjauhkan seluruh ular tersebut dan kemudian disusul sihir air untuk mendorong kapal lebih cepat ke tengah laut.


Walau bisa berenang para ular memutuskan untuk tidak mengejar melainkan kembali ke pulau. Itu pengalaman yang cukup menegangkan khususnya bagi para kru Jack sendiri.


"Pulau ini jelas telah menjadi pulau ular, aku yakin ular-ular ini hidup di dalam air dan kemudian memutuskan hidup di daratan sayangnya penduduk pulau ini menjadi korbannya."


Tidak ada yang tahu pasti tapi itu adalah sebuah kemungkinan besar. Beberapa hari berikutnya mereka telah kembali ke pelabuhan, Jack dan kru-nya memutuskan untuk berhenti melaut dan hanya menjalani hidup santai dengan uang yang mereka miliki.


"Aku sudah lelah untuk menantang maut lagi, sudah waktunya aku pensiun dan membuka toko kelontong atau sebagainya."


"Semoga berhasil," begitulah bagaimana Elizabeth berpamitan pada semuanya untuk kembali ke tempat Lulu berada lewat kereta kudanya.


Jauh hari kisahnya akan dikenang oleh seluruh orang di pelabuhan sebagai pembunuh Kraken.

__ADS_1


Lulu tampak senang saat artifak yang didapat dari Blue Ocean ditunjukkan padanya.


"Kalian berhasil, syukurlah... dengan ini kita bisa mengembalikan orang-orang itu sedia kala."


Shina mengangguk dengan senang, ia pernah dirawat oleh para penduduk desa Fury, akan senang jika dia bisa berkumpul mereka lagi.


Pertama kali ia meninggalkan desa karena untuk bergabung dengan katedral suci dan menghasilkan untuk demi membantu desa.


Walau ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkannya paling tidak tujuannya tidak jauh berbeda dari sebelumnya.


Dengan jatah yang didapatkan dari peti harta karun dia dapat melakukannya.


"Sebelum itu apa aku boleh pinjam dapurnya? Aku sangat lapar," Marisalah yang berkata demikian, dia terlalu lelah untuk bergerak sekarang sebelum makan.


Lulu berdiri paling depan selagi mengatur huruf-huruf kuno yang tertera di sepanjang artifak sampai akhirnya benda itu bersinar kemudian menembakan cahaya ke langit.


Noel menutup wajahnya dengan tangan untuk melihat seberapa tinggi cahaya itu pergi, dia bisa melihat bagaimana di atas sana ada artifak lain yang berukuran sama dan kemudian tertimpa cahaya dan jatuh secara perlahan yang mana ditangkap baik oleh Lulu sendiri.


"Artifak ini sangat berbahaya jika jatuh pada tangan yang salah jadi lebih baik dihancurkan, Elizabeth."


"Tentu."


Lulu membuangnya ke udara dan pedang Elizabeth membelahnya tanpa kesulitan, para penduduk yang sebelumnya menghilang secara ajaib bermunculan dan tampak menangis penuh suka cita.

__ADS_1


Shina berlari ke arah mereka kemudian memeluk seorang wanita yang mungkin dikenalnya.


"Shina."


Semua orang memangilnya juga.


"Syukurlah kalian baik-baik saja, kupikir aku tidak bisa bertemu dengan kalian."


"Kami selalu bersamamu Shina, terima kasih sudah menyelamatkan kami."


"Tidak, harusnya akulah yang berterima kasih."


"Kami sudah terjebak sangat lama kurasa desa ini perlu banyak perbaikan, kalian semua saatnya bekerja."


"Baik."


Elizabeth berkata pada Lulu.


"Bukannya waktu di dalam sana tidak berjalan, seharusnya Shina tidak bertambah besar bukan."


"Tidak, dari awal Shina dari luar jadi saat artifak diaktifkan hanya orang-orang yang tersinari olehnya saja yang masuk ke dalam dunia cermin, dia bisa hidup dengan memakan apapun di dalam sana juga sebuah keajaiban."


"Boleh dikatakan bahwa Shina adalah sebuah takdir yang mengubah desa ini," atas pernyataan Elizabeth, Lulu mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Sebuah perayaan telah diadakan malam harinya, dan itu berarti sudah waktunya kelompok Elizabeth juga kembali ke rumah mereka keesokan harinya.


__ADS_2