
Di dalam bar Raider memesan minuman untuk dirinya sendiri, dia datang ke kota sebelah untuk memastikan sesuatu sayangnya sejauh itu dia tidak mendapatkan hal yang berharga.
"Kau banyak minum sekarang Raider."
"Lupakan soal itu, informasi seperti apa yang kau bawa?"
"Kerajaan Wisteria telah mengibarkan bendera perang dan kurasa kau akan tahu pimpinan di garis depannya, Slovakia Refuse."
"Wanita itu... aku tidak tahu apa yang membuat mereka terhasut tapi jika mereka menginginkan peperangan maka aku akan membunuhnya."
Raider memberikan uang pada infomannya.
"Ini adalah transaksi terakhir dari sini aku pergi."
"Aah."
Raider berjalan ke luar, setelah memeriksa sekelilingnya aman dia bergerak ke arah gang sepi, sebuah ayunan pedang melesat dari belakangnya tanpa melihat dia menembuskan pedangnya melewati tenggorakan musuh hingga tumbang ke tanah. Beberapa orang mulai bermunculan dari sekelilingnya.
"Cih... ternyata Wisteria sudah mengirim tentara untuk menyusup."
"Tentu saja, kami harus melihat bagaimana kemenangan kami akan terjamin, bunuh pengkhianat ini."
Raider menembakan pengait yang dia sembunyikan di pinggangnya lalu melesat ke arah depan.
Dia berayun dan berputar di perempatan jalan.
"Cih, kau masih menggunakan alat seperti itu."
__ADS_1
"Bos, sekarang bagaimana?"
"Kejar dia, hari ini kita harus bisa membunuhnya."
"Okay."
Di antara rumah-rumah yang berderet rapih Raider bergelantungan seperti biasanya, para pengejarnya tak tinggal diam mereka menggunakan sebuah alat peluncur dari papan yang ditambahkan roda di bawahnya serta batu sihir yang bisa membuat mereka terbang di udara.
Ada dua sabuk yang bisa diikatkan di kaki mereka jadi mereka tidak akan jatuh dengan mudah.
"Cih... Wisteria menyebalkan."
Raider menahan dua orang melalui pedangnya kemudian membanting mereka ke bawah sebagai serangan balasan, di saat yang sama satu persatu dari mereka mengirimkan serangan secara berturut-turut.
Darah menyembur ke udara dan suara benda logam terdengar jelas mengisi hal itu.
Alat peluncur itu menembakan sebuah tali mencengkeram kaki Raider kemudian membantingnya ke bawah menembus atap pedagang yang berjualan.
Raider berguling kemudian berlari untuk membawa mereka ke tempat yang lebih sedikit orang.
"Kau pikir kau bisa lari, jangan khawatir dia tidak bisa menggunakan sihir, terus kejar."
Raider telah terpojok di gang sempit dan melihat musuhnya masih tersisa banyak, menghitung cepat, semuanya tersisa 10 orang.
"Kau ini memang hebat sayangnya kau kalah jumlah saat kau mati."
Tepat saat pemimpinnya berkata demikian sebuah bayangan melintasi mereka, bayangan itu tidak turun melainkan terus bergerak dengan sayap lebar dengan sosok sekeras besi.
__ADS_1
Itu adalah penampakan dari seekor naga hitam.
"Di saat seperti ini."
Raider yang mendapatkan celah langsung melesat maju, dia menebas mereka tanpa ampun termasuk pemimpinnya sendiri seolah menari-nari di udara.
"Gaaak."
"Sepertinya aku yang menang."
"Dasar pengkhianat."
Ujung pedang menembus kepalanya.
Raider melirik ke arah naga yang terbang tersebut, jika dilihat dari arahnya ia bisa memastikan bahwa tujuannya adalah kota Geoville.
Di sana ada Ymir yang berlibur namun mengingat waktunya pasti dia telah meninggalkan tempat itu, Raider akhirnya memutuskan untuk kembali ke ibukota dan memberikan laporan pada sang ratu.
Di sana ratu menunjukan ekpresi yang sulit.
"Itu sangat berbahaya, apa kita bisa mengirim Dragon Slayer ke sana?"
"Tentu saja yang mulai, yang sudah siap bertugas adalah unit Jeanny," balas Leonardo demikian.
"Kalau begitu Raider akan mencari para penyusup wisteria di kota lainnya dan kirim Jeanny ke kota Geoville."
"Kami mengerti."
__ADS_1
"Kita tidak boleh membiarkan insiden itu terjadi lagi."