
Sementara itu Leonardo harus melawan sosok High Elite Demon bernama Hollow.
Hollow memiliki kemampuan untuk menghancurkan apapun yang dia inginkan. Dia mengarahkan tangannya dan dalam sekejap jaring kotak-kotak yang terbuat dari angin meluncur ke arah Leonardo.
Leonardo memiliki insting kuat, meski dia tidak melihatnya ia dengan tepat berguling untuk menghindarinya.
Tepat dia berbalik, dia bisa melihat bagaimana seluruh bangunan itu, terpotong-potong menjadi kubus kecil.
Tak tinggal diam Leonardo bangkit dengan pedang di tangannya.
"Seorang kesatria memang merepotkan."
"Ini hanya bagian awalnya," balasnya demikian.
Dengan lihai Hollow menghindari tebasan diagonal dari Leonardo, itu terkesan cepat dan mematikan tapi baginya semua gerakan Leonardo dengan mudah dia prediksi.
Leonardo mendapatkan sebuah pukulan di perut yang membuatnya memuntahkan darah dari mulutnya.
"Sungguh lemah."
Jurus sebelumnya mengincarnya kembali dan Leonardo berlari ke samping, Hollow mengikuti dan keduanya saling memberikan serangan.
Pedang Leonardo terbang ke langit memaksa keduanya untuk saling bertarung dengan tangan kosong.
"Kau terlihat santai."
"Setelah melihatmu menggunakan kemampuanmu aku tahu bahwa kau tidak bisa secara terus menerus menggunakan kekuatanmu barusan."
__ADS_1
"Itu tidak akan merubah apapun."
Pukulan Leonardo menghantam wajah Hollow begitu juga sebaliknya hingga keduanya terlempar ke belakang.
"Hell Fire."
Api yang dilesatkan Leonardo terbelah dadu, itu tidak bisa ditahan oleh apapun kecuali menghindarinya dengan baik.
Leonardo tak sempat melakukannya hingga pergelangan tangan kirinya terpotong-potong, selagi mengerang kesakitan Leonardo masih terus bergerak dan bersembunyi di balik bangunan.
"Aku sudah tidak muda untuk melakukan ini lagi," katanya.
"Aku memujimu, sebagai manusia kau tidak panik walaupun telah kehilangan satu tangan."
"Ini bukan masalah dibandingkan mati."
Leonardo melihat pergerakan Hollow dari jendela di depannya dan ketika jaraknya semakin dekat dia menembakan api dari tangan kemudian berlari ke tempat lain, itu bukan hal sulit bagi Hollow terlebih dia bisa melihat darah yang menetes di lantai batu hingga kemanapun Leonardo pergi dia akan dengan mudah ditemukan.
Hollow dengan santai berdiri di depannya.
"Tak perlu menggunakan kekuatanku, hanya dengan tanganku aku bisa langsung membunuhmu."
"Coba saja."
Tepat saat itu sebuah lingkaran sihir merah muncul tepat di bawah kaki Hollow, itu membakarnya bagaikan sebuah pilar yang menembus langit.
Leonardo menatapnya dengan senyuman sinis.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan jebakan itu sejak tadi, tak kusangka akan kugunakan secepat ini... kudengar kalian tidak bisa mati jika jantung kalian tidak dihancurkan tapi dengan api ini semuanya pasti tidak tersisa."
"Sialan kau, manusia aaaaaargh."
Sebuah kepala dan tangan yang terbakar keluar dari api, sebelum bisa mendekat ke arah Leonardo, tubuh itu lenyap menjadi debu.
Melihat itu Leonardo hanya bisa terdiam, baru setelah apinya padam dia menghembuskan nafas lega.
"Yang barusan hampir saja."
Ymir yang baru tiba melayang di udara selagi membawa senapan di tangannya, dia mendarat dengan anggun.
"Yare, yare, kau sungguh tidak baik Leonardo."
"Seperti itulah, kau terlambat."
"Aku masih banyak pekerjaan di kota elf namun karena khawatir aku putuskan datang ke sini secepatnya dan kurasa keputusanku memang tepat."
Ymir melemparkan ramuan ke arah Leonardo, saat dia meminumnya, tangan yang terpotong muncul kembali dengan mudah.
Ramuan ini hanya bisa didapatkan dari Arc Priest Elsa, beruntung bahwa Ymir bisa memilikinya walaupun dia kehilangan banyak koin emas untuk membelinya.
"Begini lebih baik, terima kasih... akan kuganti uangnya dua kali lipat."
"Kau memang harus melakukannya."
Leonardo tersenyum masam, seperti biasa Ymir selalu bersikap baik pada gadis dibandingkan pria, terlebih pada pak tua sepertinya.
__ADS_1
"Mari pergi."
Ymir mengangguk mengiyakan.