
Bunyi pertarungan pedang mulai terdengar lebih jelas dari sebelumnya, Leonardo dan Raider mulai menyebar pasukannya lebih ke dalam kota tanpa membuat penduduk sipil menjadi korbannya.
Untuk Elizabeth dan kelompoknya akan mencoba menyelinap menuju istana yang berada jauh di belakang kota.
Marisa merapalkan sihir angin menghempas beberapa pasukan yang menghadang mereka, agar Shina tak tertinggal Noel menggendongnya di pinggang layaknya seekor kucing.
"Ya ampun, aku benar-benar tidak keren jika dibawa seperti ini."
"Kamu harus banyak minum susu, agar jadi lebih tinggi."
"Kuharap begitu."
Elizabeth menebas beberapa orang yang menyergapnya, jika disebut orang mereka terlihat seperti iblis dengan tanduk dan sayap serta mengenakan jubah hitam.
Ketika mereka mampu melewatinya sebuah api menyembur dari sisi tempat berbeda.
"Itu sihir yang besar," ucap Marisa kagum dengan warna merah yang dihasilkannya.
Elizabeth tahu betul bahwa itu perbuatan Leonardo, dia mungkin sedang bertarung dengan musuh yang kuat dan tidak aneh jika Raider juga sedang dalam posisi yang sama.
Untuk Elizabeth dia hanya akan bertarung dengan seorang yang telah mengambil tahta Wisteria.
Kini kelompoknya telah memasuki istana setelah mengalahkan banyak musuh, tepat mereka berada di singgasana tidak ada siapapun yang duduk di atasnya.
"Apa dia melarikan diri?" tanya Shina dan Noel mengangkat bahunya selagi menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin seorang High Elite Demon melakukan hal itu."
__ADS_1
"Itu benar, cepat kita keluar dari sini."
Bersamaan itu langkah kaki mereka terhenti oleh sebuah lingkaran sihir yang tiba-tiba muncul, bersamaan itu.
Bam.
Seluruh Istana telah diledakan oleh sihir mengerikan hingga hanya tersisa sebuah kawah raksasa setelahnya.
Noel, Shina dan Marisa membuka matanya.
Sebelum ledakan terjadi Elizabeth merubah dirinya menjadi seekor naga kemudian menggunakan sayapnya untuk melindungi ketiganya.
"Kami tertolong Elizabeth."
"Ah iya," jawabnya singkat pada Marisa sebelum kembali ke wujud manusianya dan melihat sesosok wanita baru mendarat dari atas langit.
"Sudah kuduga kalian bisa menghindarinya tapi sayangnya ledakan itu telah dicampur dengan racun hanya menunggu waktu sampai kalian mati."
Shina mendaratkan kakinya kemudian membuka grimore miliknya untuk menciptakan lingkaran sihir penyembuh hingga racun di tubuh semua orang dihilangkan dengan mudah.
"Sayang sekali racun bukan apa-apa bagiku."
"Kurasa aku harus membunuhmu lebih dulu."
Maiden melesat maju ke depan, di saat yang sama Noel dan Elizabeth memberikan tendangan silang hingga memaksa tubuh Maiden terdorong ke belakang.
"Memangnya akan kami biarkan begitu saja," kata Noel mengintimidasi.
__ADS_1
"Aku juga tidak berharap pertarungan ini mudah dimenangkan, hibur aku dengan kemampuan kalian," balas Maiden.
Empat lawan satu adalah yang terjadi sekarang, Noel mengayunkan pedang yang mana ditangkap baik oleh Maiden, sementara Noel berusaha melepaskan diri sosok Elizabeth telah muncul dari punggung Maiden dan bersiap menebasnya, namun Maiden yang menyadarinya melemparkan pedang di tangannya sebelum berbalik untuk memberikan tendangan berputar pada Elizabeth.
Elizabeth memuntahkan darah sebelum menabrak beberapa bangunan di belakangnya, Noel juga bernasib sama.
Dia kemudian mengarahkan serangan pada Marisa yang sudah menciptakan bola raksasa.
"Rasakan ini."
Bola dengan api membara muncul dari garis pandangan Maiden, dia tidak menghindarinya melainkan memakan bola api itu kemudian memukul wajah Marisa hingga terlempar jauh.
"Marisa?"
"Ini bukan waktunya kau mengkhawatirkan orang lain, matilah."
Maiden hendak mengayunkan tangan pada Shina jika Elizabeth telat menahannya dengan pedang, Shina jelas sudah mati.
"Kau bukan iblis seutuhnya bukan, kau seekor naga."
"Tepat sekali naga kecil."
Elizabeth dan Maiden saling membenturkan serangan cukup lama sebelum mereka melompat untuk menjaga jarak.
Iblis dengan inti naga sepertinya.
Ini pasti pekerjaan elf itu.
__ADS_1