
Ciel memberikan kartu petualang baru pada keempatnya yang dilapisi tulisan tinta emas.
"Ini luar biasa," ucap Marisa.
"Dan juga ini izin kalian untuk memasuki gurun pasir merah."
"Ini yang kuinginkan, dengan begitu kekuatan Marisa akan jauh lebih kuat."
Marisa tampak memucat membayangkan bagaimana pelatihan yang akan diterimanya, saat dia melihat Shina dan Noel ia kembali tercerahkan.
"Paling tidak bukan hanya aku saja."
Keduanya menggigil.
"Aku merasakan firasat buruk."
"Aku juga."
Ciel tersenyum lalu melanjutkan.
"Kebanyakan party selalu terdiri dari satu pria dan beberapa wanita, senang bahwa melihat party yang berisikan seluruh wanita di dalamnya, soal tadi... tolong berhati-hatilah, banyak petualang kuat yang dibunuh bahkan di rumahnya sendiri."
"Apa maksudmu mata-mata Wisteria?"
"Iya, kurasa ini cara lain untuk mengurangi orang-orang kuat dari pihak kita, terkadang kerajaan juga merekrut anggota dari guild untuk berperang."
"Jadi begitu, apapun mereka jika mereka muncul aku tidak segan menebasnya."
"Sesuai gayamu."
Mereka menyewa penginapan untuk digunakan bersama, di dalamnya ada dua ranjang dan setiap ranjang bisa diisi dua orang.
"Elizabeth sangat lembut, rasanya seperti memeluk ibuku."
"Berhentilah memelukku Marisa."
"Tidak akan."
__ADS_1
Dua orang yang lagi sedang mengintip dan berharap ada pemandangan menegangkan setelahnya namun bahkan sampai tengah malam tidak terjadi apapun.
"Mereka berdua benar-benar PHP."
"Tidur saja."
Keesokan paginya Elizabeth mengunjungi toko ramuan untuk mensuplai barang bawaannya nanti.
"Kau rupanya Elizabeth, apa yang kau butuhkan?"
"Ramuan yang bisa menyembuhkan secara instan."
"Itu lagi, bukannya harganya mahal... kau bisa bangkrut loh."
"Kalau begitu turunkan harganya untukku."
"Jelas tidak mungkin, aku punya memiliki salep untuk menyembuhkan luka, kau mau?"
"Kurasa aku akan beli beberapa."
"Oke."
"Aku selalu heran, sebenarnya kau ini seorang master pengguna pedang atau penyihir tingkat atas."
"Kupikir aku keduanya."
"Sesekali carilah pacar atau sesuatu agar kau terlihat imut."
"Itu akan kupikirkan nanti."
"Semoga beruntung."
Elizabeth menutup pintu dan melihat kerumunan orang-orang yang berlalu lalang di jalan, ini bukan acara festival atau sebagainya namun semua orang berkerumun di depan beberapa gadis yang sedang menari dengan indahnya.
Mereka bergerak ke sana kemari mengikuti musik dan tak sedikit orang bertepuk tangan ataupun memberikan uang pada mereka.
"Damai sekali, inilah sesuatu yang ingin kulindungi," gumamnya demikian.
__ADS_1
Sementara itu Shina tampak kebingungan saat beberapa pria menggodanya.
"Apa kau mau permen, aku bisa memberikannya padamu tapi bisakah kau ikut denganku, nanti akan kuberikan."
"Bagaimana yah?"
"Ikut denganku saja, kau pasti akan senang."
"Cukup sampai di sana para Lolicon mesum, tak akan kubiarkan kalian mengganggu anggota petualangku."
"Hah, siapa kau? Jangan berani sok jagoan, kami ingin bersenang-senang bersama dengan si adik kecil ini."
"Kalian membuatku muak, menggoda gadis kecil adalah kejahatan tak termaafkan akan kumasukkan kalian ke penjara."
"Marisa."
"Serahkan padaku."
Marisa mengulurkan tongkatnya dan ia menciptakan lingkaran sihir api yang menerjang ke arah mereka hingga meledak dan gosong.
Mereka menangis sebelum dibawa oleh penjaga.
"Aku sangat tertolong, hampir saja aku menerima tawaran mereka dengan uang."
"Kau ini? Pantas saja kau tidak langsung menyerang mereka tadi."
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku ingin latihan di luar kota, jika aku masih terlihat lemah di depan Elizabeth mungkin aku akan menerima latihan lebih berat."
"Um... sepertinya aku akan mendapatkan latihan juga nanti."
"Walau begitu aku senang bisa bersama Elizabeth."
"Boleh aku ikut."
"Tentu."
__ADS_1
Keduanya berjalan dengan tenang.