Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 75 : Rumah Baru Untuk Semua Orang (Tamat)


__ADS_3

Leonardo, Raider, Ymir, Shina, Marisa saling bahu membahu melawan iblis yang keluar dari gerbang, di saat yang sama Noel yang telah bangkit turut membantu juga.


"Noel, aku akan menyembuhkanmu dulu."


"Terima kasih Shina."


Ymir mendesah pelan selagi menembakan senapannya, satu persatu iblis dia ledakan dengan mudah.


"Tidak ada habisnya, kita harus menutup gerbangnya."


"Itu benar, tapi bagaimana caranya?" tanya Marisa dan Raider menjawab.


"Dengan tangan kita."


"Ugh... aku tidak ingin mendengar hal melelahkan seperti itu," kata Shina. Namun tidak ada jalan lagi.


Leonardo memusatkan kedua tangan dengan sihir api, begitu juga Ymir dan Marisa dengan seluruh elemen yang bisa dia kuasai, mereka menembakan sihir tersebut menyapu seluruh iblis yang keluar dari gerbang, ketika ada jeda mereka bergegas maju kemudian membagi diri untuk mendorong gerbang agar menutup.


Marisa menciptakan lima golem raksasa untuk membantu dan Shina menggunakan sihir penguat untuk semua orang.


"Ayo dorong."


"Aaaaaaaaaaaaa."


Para iblis meronta-ronta untuk bisa keluar hingga sebuah panah cahaya menghujani mereka.


"Kerja bagus Shina."


"Serahkan padaku, kalian terus dorong gerbangnya."


"Oke."


Shina terlalu kecil untuk mendorong jadi dia hanya berada di garis belakang.


Setelah perjuangan lama, gerbang tertutup sepenuhnya.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tepat saat Noel mengatakannya sebuah Grimore melayang di dekat gerbang.


Itu adalah buku milik Elizabeth, cahaya kegelapan muncul lalu dalam sekejap buku itu menelan seluruh gerbang ke dalamnya sebelum jatuh ke tanah dan diambil Marisa.


Elizabeth yang melihat selagi bertarung bisa menarik nafas lega.


"Baguslah itu berkerja dengan baik."


"Kau?" teriak Maiden.

__ADS_1


"Sayang sekali tapi bukuku bisa menelan apapun termasuk iblis ke dalamnya gerbang iblis bukanlah sesuatu yang sulit juga."


Maiden meraung dan selanjutnya mendorong tubuh Elizabeth ke bawah menghantam permukaan tanah sebelum melemparkannya menabrak sebuah gunung.


Mereka berdua bertarung dalam wujud naga maka dari itu kerusakannya bertambah dua kali lipat. Elizabeth menembakan bola-bola salju ke arah Maiden yang berlari dengan kecepatan tinggi selagi menghindarinya.


Ketika berada di depannya dia menekan wajah Elizabeth membuat kepalanya masuk ke dalam tanah dengan bunyi memekakkan telinga.


"Matilah."


Maiden bersiap mengeluarkan bola hitam namun sebelum dia bisa melakukannya bola api menebaknya dari samping.


Bola api itu berasal dari naga berbeda dan dia adalah naga hitam Kanade. Kanade menendang wajah Maiden hingga terlempar jauh.


"Elizabeth kau baik-baik saja? Aku kebetulan lewat sini dan merasakan hawa naga, tak kusangka bisa bertemu denganmu."


"Iya terima kasih sudah datang... aku tidak ingin mengatakannya namun dia benar-benar kuat."


Elizabeth tahu bahwa Kanade bukan kebetulan lewat sini, dari awal dia memutuskan mengasingkan diri di tempat terpencil namun karena dia merasakan hawa berbeda ia memutuskan untuk melihat.


Naga iblis adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.


"Mari serang bersama-sama."


"Aah."


"Dua naga tidak akan bisa mengalahkanku, rasakan ini."


Maiden menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi mulutnya dengan bola hitam raksasa, Kanade dan Elizabeth melakukan hal sama dengan kekuatan penuh.


Ini adalah serangan akhir.


Serangan mereka saling bertubrukan di udara lalu saling dorong mendorong satu sama lain, kekuatan Maiden terlihat akan menang namun bagi Elizabeth dan Kanade mereka tidak boleh kalah.


"Maju."


Perlahan serangan Maiden terdorong hingga kemudian menghantam dirinya lalu meledak.


"Mustahil? Tidak mungkin. Gwaaaaaah."


Dia lenyap bersama ledakan besar, Elizabeth dan Kanade berubah menjadi manusia setelahnya, tepat mereka akan jatuh ke tanah Noel dan Marisa menangkapnya.


"Kita menang," ucap Elizabeth dengan senyuman kecil yang dibalas hal sama oleh semuanya.


"Kanade kau benar-benar kuat loh."

__ADS_1


"Tentu saja, aku ini seekor naga hitam."


"Jika kau mengatakan identitasmu kau akan dikejar lagi loh."


"Sebaiknya aku pergi."


"Kurasa setelah melihatmu membantuku, tak perlu ditakutkan lagi."


"Benarkah."


Beberapa Minggu berikutnya, Elizabeth mengadakan sebuah pesta di kediamannya, dia mengundang staf guild, Raider dan keluarganya, Ratu Venuzuela dan juga kesatria lainnya. Mariabel juga turut bergabung bersama Lulu serta tiga naga Kanade, Virsa dan putrinya.


Elizabeth mengangkat gelasnya dan berkata.


"Bersulang," yang diikuti semua orang.


Elizabeth duduk di kursi selagi mengamati semua orang yang saling mengobrol satu sama lain dalam tawa.


Venuzuela yang melihatnya ikut duduk di depannya.


"Selamat, berkatmu semuanya telah kembali damai."


"Aku pikir ini berkat semuanya juga."


"Berarti berkat aku juga."


"Kau tidak dihitung."


"Eh, aku juga bekerja keras loh, aku bahkan menyatukan wilayah Wisteria dengan kerajaanku dan mengelolanya dalam kepemipinanku."


"Baik-baik, kau paling berjasa."


"Puji aku."


"Bukannya kau terlalu dekat denganku."


"Tak masalah kan, kita sesama gadis."


Gadis tidak menekankan dadanya satu sama lain.


Elizabeth sebelumnya telah kehilangan rumahnya namun sekarang dia menemukan rumah baru untuknya. Dari sini dia berfikir petualang seperti apa lagi yang akan menantinya, meski itu kehidupan damai yang sebagian orang sebut membosankan dia sama sekali tak keberatan yang terpenting ia ingin bisa selalu bersama orang-orang yang berharga untuknya.


"Mari makan," kata Elizabeth.


"Maksudmu kau ingin memakanku, Elizabeth tunggu."

__ADS_1


Elizabeth hanya menghela nafas panjang lalu bergabung bersama yang lainnya.


-Tamat.


__ADS_2