Cara Membunuh Naga

Cara Membunuh Naga
Chapter 59 : Meninggalkan Katedral Suci


__ADS_3

Kabar tentang kematian Zero telah sampai ke telinga Maiden, ini adalah berita mengejutkan sekaligus berita buruk pada mereka.


"Bagaimana seorang bisa mengalahkan Zero?" bagi Maiden itu sulit dipercaya, tak lama ia mengarahkan pandangan tajam ke arah seorang yang berjalan mendekatinya.


Dia adalah seorang pria elf dengan jubah hitam yang pernah dihadapi Elizabeth dulu.


"Apa yang kau inginkan?"


"Aku tahu siapa yang telah mengalahkan rekanmu, aku bisa membantumu."


Elf itu menunjukkan sebuah kristal di tangannya sebelum melanjutkan.


"Makanlah kristal ini dan itu akan merubahmu menjadi seekor naga, tentu ada resikonya akan tetapi aku rasa kau bisa mengatasinya."


"Kenapa kau membantuku?"


Pertanyaan Maiden dipenuhi kecurigaan.


"Karena aku juga membenci manusia, jika kau membantuku maka semuanya jauh lebih mudah."


Elizabeth terbangun di atas ranjang untuk beberapa jam saja sebelum akhirnya tidur kembali, ia telah menyadari bahwa di luar sudah gelap dan tidak ada alasan untuk terjaga. Luka ditubuhnya telah tersembuhkan dan semua orang yang dia kenal berada di ruangan yang sama.


Shina, Noel dan juga Marisa mereka semua tidur nyenyak di tempat masing-masing.


Elizabeth menyadari dia terbangun lagi dan memutuskan untuk keluar, paling tidak dia ingin melihat matahari terbit.

__ADS_1


Ia naik ke sebuah menara tinggi kemudian menemukan seorang wanita yang duduk di sana juga, tubuhnya begitu putih sesuai wajahnya yang cantik jelita, Elizabeth mengakui hal itu jauh dari lubuk hatinya bahkan rambut peraknya seperti apa yang dia lihat sebelumnya.


"Elsa kah."


"Ugh, Elizabeth? Kau bangun lebih awal. Aku harus memakai topengku."


"Kau tidak harus khawatir aku tidak punya dorongan seperti itu terhadapmu."


"Jadi kau memiliki kekuatan untuk menahan pesonaku hehe, aku datang terlambat tapi syukurlah bahwa kalian tidak terluka parah."


Elizabeth menghela nafas panjang dan duduk di sebelahnya.


"Apa kau yang menyembuhkan luka kami?"


"Um... banyak orang yang mati dalam pertarungan kemarin, tidak kusangka bahwa iblis sudah jauh lebih berkembang dari yang kuingat."


"Saat raja iblis mulai menginvasi, aku selalu mengikuti pahlawan Artemis untuk menyelamatkan dunia."


Sebenarnya berapa umur Arc Priest ini?


Elizabeth ingin melihat sosok Artemis kembali sayangnya patungnya sendiri sudah roboh bersama yang lainnya.


Elsa melanjutkan.


"Padahal seharusnya elf memiliki kehidupan yang lebih baik dari kita namun sayangnya mereka malah harus tersebar dimana-mana, dan beberapa malah menyimpan kebencian terhadap kita."

__ADS_1


Elizabeth menyadari bahwa Elsa sudah tahu tentang apa yang terjadi, jadi dia hanya diam dan bersama-sama melihat bagaimana matahari telah terbit dari balik pegunungan.


"Kurasa sudah waktunya kami melanjutkan perjalanan kembali."


"Sayang sekali, padahal kami tidak keberatan jika kalian lebih lama untuk tinggal."


"Kami juga memiliki misi yang lain."


"Begitu."


Setelah ikut sarapan, kelompok Elizabeth menyiapkan barang bawaan ke dalam kereta. Shina sudah berpamitan ke semua orang yang dikenalnya dan jika ada yang menangis karena perpisahan ini adalah Venuzuela yang dipegangi oleh Raider.


"Aku juga ingin ikut, bawa aku Elizabeth."


"Tidak boleh, Anda masih banyak pekerjaan di sini," ucap Raider.


"Kalau begitu kami pergi," atas perkataan Elizabeth semua orang melambaikan tangan padanya.


Mereka hanya melihat bagaimana kereta itu berjalan semakin menjauh, Raider lebih dulu masuk untuk menyiapkan dirinya untuk pergi juga. Di saat itu juga Elsa bergumam.


"Dengan adanya mereka masa depan dari semua orang pasti bisa terlindungi."


"Sudah pasti bukan, aku juga memiliki harapan besar pada mereka."


"Kau mendengarnya?"

__ADS_1


"Jangan remehkan diriku, aku adalah putri raja iblis suara sekecil pun bisa terdengar olehku."


"Iya, iya."


__ADS_2