
"Dan mereka pantas untuk dibunuh."
Seluruh bandit kecuali pemimpinnya menyerang secara frontal, Elizabeth bahkan tak perlu bergerak dari tempat dia berdiri.
Selain pemimpinnya tubuh mereka membeku menjadi es kemudian retak dan hancur menjadi serpihan.
Pemimpin itu mulai ketakutan dan berbalik untuk berlari.
"Jangan bunuh aku, jangan."
Langkahnya terhenti.
Dia merasakan udara dingin menjalar ke tubuhnya dan ia memeriksa bahwa sebuah bongkahan es besar telah tertancap di sana.
Elizabeth menyarungkan pedangnya kembali.
"Sudah beres, mari lanjutkan perjalanan kembali."
"Ah iya."
Marisa mengikuti dari belakang bersama naga di tangannya, dengan pemandangan mengerikan itu hanya keheningan setelahnya.
Marisa berterima kasih pada para pedagang lalu bergegas mengikuti rekannya dari belakang selagi memeluk Glacies dalam dekapannya.
"Jadi ini kita Geoville, udara di sini sangat bersih."
Geoville hanya sebuah kota di bawah pegunungan gunung merapi, bangunannya hanya dibuat dari potongan kayu dan tidak terkesan menunjukkan kemewahan dari kota, ada beberapa toko serta banyak penginapan yang ditawarkan termasuk diisi oleh pemandian air panas di dalamnya.
__ADS_1
"Mari pilih penginapan ini, dikatakan ini khusus untuk wanita."
"Itu pilihan bagus."
Bagaimana semua pria menatap Elizabeth dan Marisa dengan tatapan mesum itu cukup mengganggu.
Di dalam kolam Marisa dan Elizabeth saling menggosok punggung mereka, Marisa cukup terkejut bahwa tubuh Elizabeth benar-benar bersih dan mulus bahkan setelah banyak pertarungan itu sama sekali tidak meninggalkan bekas apapun.
Lebih dari itu.
"Kenapa dadamu sangat besar bahkan lebih dariku."
"Tenanglah Marisa, kadang aku kesulitan bergerak dengan dada ini aku lebih bersyukur jika itu sedikit lebih kecil."
"Seluruh wanita akan menjadi musuhmu jika mendengar hal barusan."
"Eh, jangan memainkannya Ahn... ahn."
Elizabeth mengarahkan tangannya untuk membekukan beberapa pria yang mencoba mengintip mereka berdua dari balik tembok luar.
"Hehe pria memang seperti itu."
Elizabeth hanya menghela nafas atas pernyataan Marisa, sebagai gadis Elizabeth juga memikirkan soal pernikahan namun dia benar-benar harus selektif memilih pasangannya setelah semua ini berakhir.
Glacies yang sudah lama menyelam dari air muncul ke permukaan air, mengibaskan sayapnya sebelum mendarat di atas kepala Marisa yang berendam bersebelahan dengan Elizabeth.
"Kamu bilang ingin membunuh seekor naga, naga seperti apa yang ingin dikalahkan olehmu?"
__ADS_1
Elizabeth diam untuk mengingat soal bentuknya dalam pikirannya.
"Tubuhnya lebih besar dari naga lainnya, ia berwarna merah juga."
"Sulit menebak naga apa itu, tapi aku yakin naga yang berukuran besar adalah naga yang disebut sebagai naga agung mereka naga yang sangat kuat melebihi kekuatan naga lainnya."
Tanpa sadar Elizabeth tersenyum tipis.
"Jika begitu pasti akan menarik."
"Maniak bertarung."
Mereka berhenti bicara saat seorang wanita memasuki kolam juga, ia membersihkan dirinya sebelum bergabung dengan keduanya setelah menggulung rambut hitamnya.
"Ya ampun, kolam ini diisi dengan gadis-gadis berdada besar pantas saja banyak pria yang kulihat di luar tempat ini, syukurlah aku memukul mereka hingga pingsan sebelum datang kemari."
Elizabeth tersenyum masam sebagai tanggapan.
"Bukannya kau juga seperti itu."
"Namaku Ymir komandan ke-3 pasukan kerajaan Tarnes, kalian berdua?"
Elizabeth menutup mulut Marisa untuk menggantikannya dalam berbicara.
"Seorang komandan kah, kenapa kau bisa dengan mudahnya mengatakan dirimu di tempat umum seperti ini," balas Elizabeth sedikit tersenyum.
"Tentu saja aku harus sopan santun terlebih kalian memiliki seekor naga... mungkin saja kalian mencurinya dari kerajaan."
__ADS_1
Marisa tampak panik selagi mengalihkan pandangan ke arah keduanya secara bergantian.