
Bab 1
“Bagus bagus, aktingmu sangat bagus disini, aku ayakin film mu kali ini akan kembali melejit dipasaran,” puji pak Reno selaku pendiri JAP entertaiment agensi yang menaungi beberapa artis dan aktor ternama.
Salah satunya adalah Akram Nicole Sanjaya, Aktor berusia 25 tahun tengah naik daun namanya , di usianya yang masih terbilang muda Akram telah berhasil mencetak beberapa prestasi berkat kepiawaianya berakting, membuat namana semakin melambung tinggi. Akram saat ini tengah menjadi idoala para kaum hawa terutama ramaja yang mengagumi bakat serta paras tampanya.
“Karirmu benar benar sedang menjulang tinggi saat ini, aku bangga padamu,” puji kembali pak Reno pada aktor andalanya itu, Akram hanya tersenyum tipis menanggapinya.“Akram, kamu bisa tetap menjaga ketnaranmu, asal kau juga tetap menjaga image mu, jangan biarkan berita buruk menghampirimu, dan ingat jangan menjalin hubungan asmara dengan siapapun, saat ini kau telah menjadi konsumsi publik, kamu milik fansmu seutuhnya, ingatlah meraka akan sangat kecewa jika kamu menjadi milik wanita lain, kamu tentu tidak mau kan karirmu terganggu untuk satu wanita?” pria itu kembali memperingati aturanya sendiri pada Akram.
Baginya Akram saat ini seperti sebuah berlian yang menghasilkan banyak keuntungan untuk agensinya, sangat penting baginya untuk menjaga privasi aktornya itu terutama dari berita buruk yang mungkin bisa menghancurkan karirnya, Akram untuknya saat ini seutuhnya milik penggemarnya dan dia melarang keras Akram berhubungan dengan wanita, takut jika itu akan menurunkan konsntrasi dan ketenaran Akram saat ini.
“Tenanglah, asal aku bisa selalu mendapatkan bayaran yang tinggi, aku tidak akan membiarkan namaku buruk, terlebih menjalin hubungan dengan wanita yang tidak jelas.” balas Akram, mengerti jika sebenarnya hidupnya saat ini sangat terkekang dengan popularitasnya sendiri, tapi Akram menikamati itu, mengingat sangat sulit hidupnya dulu membuatnya tidak ingin kehilangan semua yang sudah diraihnya saat ini.
“Tenaglah, selalu ada bayaran tinggi untukmu,” Pak Reno menepuk bahu Akram dan berlalu pergi.
Akram menyandarkan tubunya di kusri kerjanya, merenggangkan otot otot di tubunhya yang terasa cukup lelah usai berkutat dengan naskah skenario yang menuntut harus di perankanya.
“Aku tidak ingin kehilangan ini semua, aku tidak ingin di pandang sebelah mata lagi seperti dulu.” gumam Arkam, mengingat ingat masa lalunya.
Flashback, beberapa tahun lalu.
“Mah, mama.” seorang pria memasuki rumah sederhanya, mencari keberadaan Ibunya.
Mama sedang menncuci di rumah ibu Ratih, sore mama pulang. Akram membaca secarik kertas yang ditinggalkan mamanya.
__ADS_1
Terdengar samar suara perutnya yang keroncongan.“Lapar sekali,” keluhnya, usai pulang kuliah, Akram membuka tudung saji di meja makan, tak ada makanan yang tersaji disana. Hanya ada beberapa mie instan dilemari makan.
Akram kembali manyantap mie instanya, sudah seminggu terakhir ini ia menahan hasratnya untuk membeli makanan yang lebih enak, untuk sekedar menabung dan membayar uang semesternya yang masih kurang, ayahnya yang hanya punya toko kelontong dan ibunya yang kadang menjadi buruh cuci membuat Akram masih merasa kesulitan untuk membayar uang kuliahnya.
Akram menyantap malas mie instan yang masih mengeluarkan asap tipis dimangkuknya, rasanya bosan menyantap makanan berkuah itu.“Siapa ini?” Arkam meraih ponsel di sampingnya saat melihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kenalnya.
[ Akram, kemarin kata Ana kamu ingin bicara denganku? ada apa? Hellena.]
Uhuk uhk.
Sontak saja Akram sedikit tersendak membaca pesan dari wanita yang telah lama disukainya itu. Hellena Samanta, gadis berkulit putih, bermata bulat dan paras cantiknya membuat Akram merasa jatuh cinta dan selalu memprhatiknya di kampus. Akram tau Hellena dari keluarga terpandang tapi itu tidak menyurutkan perasaanya, Akram justru berniat hendak menyatakan perasaanya pada gadis itu.
[ Iya, aku memang ingin bicara denganmu, apa kamu ada waktu?]
Senyum merekah di bibirnya saat membaca balasan pesan Hellena yang bersedia menemuinya.
[ Baiklah, aku ke taman kota sore ini. ] balas Akram penuh semnagat.
Sore itu Akram sudah bersiap dengan pakaian terbaiknya, tak lupa Akram menyempatkan untuk membeli bunga cantik yang akan di berikanya pada Hellena, hari ini Akram berniat akan menyatakan perasaanya pada gadis yang telah lama disukainya itu. Tak lama Akram sampai di taman kota. Matanya langsung tertuju pada gadis cantik yang tengah duduk sendiri di bangku taman, Arkam tersenyum dan berjalan menghampirnya.
“Hellena,” panggilnya.
Gadis itu menoleh, melihat pria bermata teduh itu sudah berdiri di sisinya.“Akram,” Hellena tersenyum simpul.
__ADS_1
“Sudah lama?” Akram mencoba duduk disisinya.
”Belum,”
“Oh,” keduanya terlihat canggung.
“Kata Ana, ada yang ingin kamu bicarakan denganku? mau bicara apa?”
Arkam yang hendak menyatakan perasaanya tiba tiba merasa gugup, Arkam menghela dalam, mencoba mengurangi kegugupanya.“Aku..”
“Hellena,” suara wanita mengagetkan keduanya, membuat Akram terpaksa menghentikan ucapanya.
“Ana?” Hellena melihat temanya itu berjalan kearahnya.
“Hellena sedang apa kamu disini?” tanya Ana.“Jadi kamu menemui dia?” Ana melirik Akram yang duduk di sebelah temanya.
“Iya katanya ada yang ingin Akram bicarakan.”
“Kita pergi saja,” Ana tiba tiba menarik tangan Hellena untuk beranjak dari duduknya.
“Kenapa sih?” Hellena terlihat bingung.
”Hellena seharusnya kamu enggak usah dekat dengan pria ini, kamu tau dia ini pria temiskin di kampus kita, memang wajahnya tampan tapi untuk apa, dekat denganya sangat memalukan,” Cercaan itu terdengar lugas dari bibir Ana.“Kita pergi saja, kalau orang tuamu tau pasti mereka akan marah kalau kamu dekat dengan pria miskin ini.” Ana kembali melanjutkan hinaanya, Helllena hanya terdiam, tidak berusaha membela atau mengucapkan apapun dan pergi bersama temanya itu.
__ADS_1
Akram membeku, meremas geram setangkai bunga yang di pegangnya. Hinaan itu sungguh sangat melukai hatinya, Akram sudah sering mendengar orang ornag menghina keluarganya, kali ini hinaan itu tertuju padanya, rasanya sangat memuakan.“Argggahh,” Arkam membuang kasar bunga yang di pegangnya.“Lihat saja nanti jika aku sukses, kalian lah yang akan bertekuk lutut padaku!” batin Akram, merutuki orang orang yang telah menghinanya di masa itu.