
Bab 4.
Arkam perlahan melebarkan matanya, mendengar samar samar isak tangis didekatnya. Arkam memuatar pandanganya.“Kenapa kamu disini?” tanyanya terkejut, melihat wanita yang besadar diranjang dengaa air matanya.
“Kenapa tuan tega melakukan ini? tuan sudah menodia saya,” ucap lirih Aruna, masih dengan isak tangisnya.
“Menodai? jangan asal bicara kamu?!” sangkal Akram tak percaya.
“Untuk apa saya berbohong, semalam tuan mabuk dan melakukan itu pada saya,” jelas Aruna.
Akram tertengun, mencoba mengingat kembali jika semalam dirinya memang mabuk, sekilas teringat samar saat Akram merudapaksa gadis dihadapanya itu.“Lupakan semuanya, jangan pernah beritahu hal ini pada siapa pun,” jawab Akram dengan entengnya dan beranjak dari ranjang.
“Tuan, apa serandah ini anda memperlakuakan wanita?” Aruna menahan lengan majikanya itu, mencoba menatapnya dengan perasaan setengah takut.
Akram tersenyunm kecut.“Jadi kau ingin apa? kau ingin aku menikahimu? jangan bermimpi!” tegas Akram menepis tangan Aruna dari lenagnya.
“Apa? apanya yang jangan bermimpi?!” suara lantang itu terengar begitu mengelegar, beriringan dengan terbukanya pintu kamar yang tak terkunci, menbuat mereka berdua terlonjak kaget dibuatnya.
“Papa?!” Akram kaget bukan kepalang melihat papanya yang sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah murkanya.
__ADS_1
Pria dengan wajah tegas itu berjalan mendekati putranya.
PLAAKK!!
Tamparan keras justru mendarat di sebalah pipi Akram.“Papa sudah mendengar semuanya, apa benar yang dikatakan gadis ini? kau sudah menodainya?!” sentak pak Satya Sanjaya pada Akram yang hanya diam mematung, tak menyangka jika kecurigaanya mendengar isak tangis dari arah kamar Akram ternyata membuatnya mendengar hal yang cukup mengejutkan untknya.
“Ada apa ini?” ibu Risna yang mendengar kegaduhan dari kamar putranya itu segera masuk, terihat wajah suaminya yang sudah memerah kerena menahan amarah.
“Ini putra yang kau banggakan ternyata telah menodai gadis ini,” pak Setya menunjuk Aruna yang hanya tertunduk takut.
“Apa? ini tidak mungkin, jangan memfitnah putraku!” bu Risma justru terlihat tak terima dan menatap kesal kearah Aruna.
“Akram, benar kau sudah menodai gadis ini, JAWAB!!” sentak pak Setya kearah putranya yang masih diam seribu bahasa.
“Iya, semalam aku mabuk dan tanpa sadar menodainya.” Akram akhirnya mengakui perbuatanya.
“Dasar anak bodoh!” pak Setya mengambil ancang ancang untuk kembali menampar putranya.“Jangan tampar dia,” Sang istri lebih cepat menahan gerakan tangan suaminya.
“Nikahkah dia, kau harus bertanggung jawab!” tegas pak Setya kemudian.
__ADS_1
“Apa? nikahkan?” bak tersambar petir mendengar peryataan papanya itu.
“Pah dia ini hanya asisten rumah tangga?” bela bu Risma yang justru keberatan dengan keputasan suaminya.
“Memangnya kenapa kalau dia hanya asisten rumah tangga? apa kau mengajarkan putramu untuk tidak bertanggung jawab?” balas pak Setya yang tidak ingin putranya menjadi lelaki yang pecundang, meskipun dahulu dirinya hanyalah seorang penjual toko kelontong dan berkat putranya kini usahanya bisa lebih maju tapi pak Setya menjunjung tinggi arti sebuah tanggung jawab.“Kalau kau tidak mau bertanggung jawab biar papa yang akan membrikan pernyataan pada media tentang kejadian ini,” ancam pak Setya kemudian.
“Pah, itu bisa menghacurkan karir anakmu!” seru bu Risma yang mulai geram dengan suaminya.
“Lebih baik dia kehilangan karirnya dari pada kehilangan tanggung jawabnya sebagai lelaki,” balas pak Setya tak mau kalah.
“Baiklah, aku akan menikah denganya,” jawab Akram kemudian, membuat pak Setya merasa lega mendengarnya.“Tapi dengan syarat pernikahan ini tak boleh tersebar luas, jika berita ini sampai tersebar luas, aku akan langsung menceraikanya.” sambung Akram dengan permintaanya.
“Baiklah, Aruna, kau harus menikah dengan Akram, dia harus mempertanggung jawabkan perbuataanya,” pak Setya menyetuji permintaan putranya, melirik ke arah Aruna yang masih menduduk takut dan berlalu keluar kamar bersama istrinya.
Aruna mengahapus sisa air mata yang masih membasahi wajahnya.“Tunggu,” Akram menahan lengan Aruna yang hendak keluar kamar.“Ini mungkin sebuah keberuntungan untumu, tapi ini jelas mimpi buruk untuku,” ucap Akram menatap tajam penuh emosi. Aruna membeku, perkataan pria itu terasa cukup pilu didengarnya, keberuntungan seperti apa yang dimaksud jika kesucianya di renggut paksa begitu saja.
“Dengarkan aku, jangan pernah beritahu tentang pernikahan ini pada siapa pun sekalipun keluargamu sendiri, jika kamu berani memberitahkanya, aku tak segan segan menceraikan dan membuat hidupmu lebih menderita.” ancam Akram, mencengkaram erat lengan Aruna yang masih di pegangnya dan berlalu pergi keluar dari kamarnya.
Aruana meringis memegangi lenganya yang sedikit memerah, cairan bening perlahan kembali membasahi pipi mulusnya, entah seperti apa kehidupanya kedepan, Aruna tak snaggup membayangkanya, jika akhirnya harus menikah dengan pria yang tidak mencintainya.
__ADS_1