
Bab 53.
Aruna beringsut dari tidurnya, matanya melirik sinar matahari yang mulai masuk melalui celah celah kamarnya, Aruna melihat Akram yang masih tertidur disisinya. Melihat paras tampan itu terlelap dengan tenangnya membuat Aruna kembali teringat adegan hot divideo suaminya semalam.
“Ya, ampun kenapa aku terbanyang video itu terus,” Aruna memukul pelan keningnya frustasi.
Aruna segara turun dari ranjang, memutuskan untuk mandi, ia membiarkan air shower membasahi seluruh tubuhnya, berharap bayang bayang video mesum itu enyah dari fikiranya yang sempat terkontaminasi. Cukup lama Aruna menguyur tubuhnya tapi ia tetap saja terbanyan, membuatnya kembali merindukan sentuhan Akram saat ini.
“Aku harus memintanya, tidak usah malu !” batinya.
Aruna segera mengenakan kimono handuknya, ia masih memperhatikan wajahnya dicermin toilet, Aruna bahkan memakai lipstik dengan warna merah yang cetar pagi itu.
“Aku rasa aku sudah gila,” gumamnya yang tak mengerti kenapa ia seperti ini.
Selasai menyemprotkan parfum dengan aroma yang menggoda Aruna segera keluar dari dalam toilet, dilihatnya Akram yang masih terlelap, langkah kakinya yang anggun perlahan mendekat kearah Akram dan duduk ditepi ranjangh.
Aruna mengehela nafas dalam dan menghebusakanya pelan, mengurangi rasa groginya.“Sayang,” panggilnya mesra, seraya mengusap lembut rambut Akram, tapi Akram tak bergeming.
“Sayang,” panggil Aruna kembali, kali ini telapak tanganya yang halus mengusap wajah Arkam.
“Heemmm...” desis Akram, perlahan melemabarkan matanya. Aruna pun memberikan senyum semanis mungkin.“Kamu sudah mandi?” Akram melirik Aruna yang masih mngenakan kimono handuk, tak seperti biasanya.“Tumben enggak langsung pakai baju?” Akram mengerutkan keningnya.
“Memangnya kenapa? kan biar mudah dibuka,” sahut Aruna yang refleks membungkam mulutnya sendiri.
“Dibuka? apanya yang dibuka?” Akram justru melontarkan pertanyaan polos padahal wajah Aruna sudah merah padam kerena malu.“ Astaga,” Akram spontan segera bangun dari tidurnya.
“Kenapa?” melihat wajah Akram yang sangat panik.
“Aku terlambat datang kelokasi syuting,” Akram segera turun dari ranjang bergegas untuk mandi, 10 menit kemudian Akram keluar dari kamar mandi dengan terburu buru ia mengenakan pakaian dan sepatunya.“Aku pergi dulu,” Akram mencium kening dan perut buncit Aruna dan begegas pergi.
Dengan bibir yang mengecrut Aruna terduduk lesu disudut ranjang, Akram pergi begitu saja tanpa memperhatikan lipstick merah atau parfumnya yang menyengat.
“Sayang, aku pulang,” suara Akram terdengar nyaring, jam 10 malam Akram pulang.“Sayang,” Akram membuka pintu kamar melihat Aruna yang sedang berbaring diranjang.
__ADS_1
“Sudah pulang?” Aruna turun dari ranjang, mencium punggung tangan suaminya itu.
“Ini aku bawakan makanan kesukaanmu,” dengan wajah sumringah Akram memberikan makanan kesuakaan istrinya itu.
“Makasih ya, tapi aku sudah kenyang, aku makan besok saja,” Aruna tersenyum tipis.
“Yasudah aku mandi ya,” Akram segera membersihkan dirinya, sedang Aruna keluar dari kamar. Beberapa menit kemudian Aruna kembali kedalam kamar, tak ada Akram dikamar mandi, Aruna berjalan menuju ruang keluarga, terlihat Akram yang sedang menonton televisi.
“Sayang,” panggil Aruna manja yang langsung duduk disisi Akram dan menyandarkan kepalanya dibahu suaminya itu.
“Kamu belum tidur?” Akram mengecup dan membelai rambut Aruna.
“Belum,” Aruna melingkarkan sebelah tanganya dipinggang Akram, rasanya hastarnya belum juga reda sudah beberapa hari ini mereka juga tak berhubungan intim membuat Aruna sangat merindukan sentuhan suaminya itu.
Aruna memeluk mesra pinggang Akram tapi mata Akram justru sangat fokus menonton televisi, Aruna bahkan meraba lembut paha Akram, tapi tetap saja Akram fokus menonton televisi seraya mengomentari pertandingan sepak bola yang sedang ditontonya.
“Astaga, dia menyebalkan sekali, masa tidak peka !” batin Aruna meradang.
Aruna melepaskan peluknya dan beranjak dari duduk.
“Heemmm !” balas Aruna tanpa menoleh dan masuk kedalam kamarnya memilih untuk tidur.
***
Pagi hari Akram terbangun, jemarinya mencari kulit halus yang seharusnya berada disisinya. Akram membuka matanya.“Dia sudah bangun?” tak melihat Aruna diranjang.
Akram bergegas mandi, setelahnya ia keluar kamar, tampak Aruna yang sedang menyiapakan sarapan dimeja makan.“Sudah bangun cinta?” goda Akram yang langsung duduk dikursi makan.
Aruna tak merespon, dengan wajah acuh ia mengambilkan sarapan untuk Akram, mereka pun menyantap sarapan bersama. Tak ada percakapan diantara keduanya hanya ada suara dentingan alat makan yang terdengar sangat nyaring, terutama sendok yang di gunakan Aruna. Akram melirik Aruna yang menyantap sarapan dengan wajah masamnya tak seperi Aruna yang biasanya yang selalu memberikan senyum manis untuknya.
“Kamu sakit?” Akram memperhatikan wajah Aruna yang tidak pucat.
“Enggak!”
__ADS_1
Akram melirik Aruna yang tampak kesal menatap sarapanya.“Uang yang aku kasih kurang?” tanya kembali Akram yang merasa sudah cukup memberi uang.
“Enggak!”
Akram menggelengkan kepalanya tak mengerti, dengan perubahan sikap istri manisnya itu.“Yasudah aku pergi dulu ya,” Akram menyudahi sarapan, Aruna tetap mencium punggung tanganya, meski tanpa senyum manis di bibirnya.
***
Sepanjang syuting wajah masam Aruna terus terbanyang dibenaknya, Akram berfikir keras kesalahan apa yang sudah dilakukanya, ia merasa tak melakukan kesalahan apapun.
[Kamu sudah makan?] tulis Akram dipesanya siang itu.
[Sudah,] Aruna terus membalas singkat tanpan bertanya balik.
[Kamu kenpa sih? Aku rindu kamu, rindu bercinta denganmu,] goda Akram
[Bercinta sendiri saja dengan video diponselmu,] ketus Aruna.
Sontak saja Akram dibuat terkejut dengan balasan Aruna, ia tak menyangka jika Aruna tau ia menyimpan video panas diponselnya.
[Kamu tau?]
[Tau, aku sudah mennontonya sampai habis]
“Astaga, istriku ternyata tak polos lagi,” gumam Akram tak percaya.
[Nanti malam kita praktekan ya,] goda Akram kembali.
[ Tidak mau, sudah dua hari aku menginginkanya, tapi kamu tak meresponya.]
Balasan Aruna sontak saja membuat Akram langsung mengerti dibalik wajah masam istrinya itu.“Ya ampun dia pasti marah karena itu?”
[Kenapa tidak bilang langsung saja?]
__ADS_1
Pesan Akram tak lagi dibalas, membuat ia gundah gulana dan merasa bersalah, sepenajang hari itu Arkam hanya ingin cepat cepat menyelesaikan syutingnya dan pulang kerumah !