Celebrity Husband

Celebrity Husband
Aku tidak ingin melakukanya


__ADS_3

Bab 16.


“Diminum obatnya sayang,” ibu memberikan obat yang barusan dibelinya diwarung.


“Makasih ya bu,” Aruna tersenyum meraih obat tersebut.“Biar Aruna saja yang berjualan,”


“Kamu kan masih sakit, kamu istirahat saja,” memasukan banyak sayuran kedalam karung yang dipetik dari kebunya sendiri untuk dijual dipasar.


“Biar Aruna saja bu,” menahan tangan ibu yang tampak sibuk merapihkan sayuran tersebut.


Ibu tersenyum tipis.“Yasudah kalau begitu ibu kekebun dulu ya,” diusia senjanya ibu tak tinggal diam, ia selalu ingin mengerjakan apa saja untuk menghasilkan uang.


“Jangan capek capek ya bu nanti siang pulang,” Aruna selalu khawatir pada ibu yang dicintainya itu terlebih semenjak penyakit paru yang dideritanya membuat ibunya tak bisa beraktifitas seperti biasanya.


“Iya sayang,” ibu tersenyum dan bergegas keluar rumah.


Aruna kembali melanjutkan memasukan sayur sayur tersebut untuk segera dibawa kepasar.“Obat apa ini?” Akram melihat obat yang tergeletak dimeja.


“Itu ibu yang membelikanya tadi diwarung,” sahut Aruna tanpa menoleh.


Akram melempar obat tersebut keluar rumah.“Kenapa dibuang?”


“Kau ini sedang hamil, apa boleh minum obat sembarangan,”


Aruna tak mneghiraukan ucapan Akram yang terdengar aneh ditelinganya, bukankah ia tak mengakui janinya sendiri tapi kini ia bersikap seolah perduli.“Kamu mau kemana?” melihat Aruna yang menyeret karung tersebut keluar rumah.

__ADS_1


“Kamu fikir aku disni hanya untuk bersantai santai saja? aku harus kerja,”


“Kerja?” Akram mengertkan keningnya melihat Aruna yang terus menyeret karung tersebut kearah jalan besar.


“Aku saja yang bawa,” Akram merampas karung tersebut dari tangan Aruana.“Mau berkerja apa memangnya?” Akram memandnag jalanan kampung yang sudah ramai padahal langit masih sangat pagi.


“Menjual sayur ini dipasar,” sahut Aruna datar.


“Berjualan?” Akram tampak terkejut.


“Iya, sudah aku katakan kamu pulang saja sana kekota,”


“Aku tidak akan pulang jika kau tidak ikut denganku,”


“Aku tidak mau ikut lagi denganmu!” tegas Aruna yang langsung menaiki angkutan umum yang melintas dan membawanya menuju pasar. Tak lama angkutan itu terhenti didepan pasar tradisional yang sudah cukup ramai, dengan cepat Aruna segera menata sayuran yang dibawanya pada lapak sederhanya disana, Akram pun tak sungkan membantunya.


Aruna hanya mengangguk pelan. Setelahnya tak ada percakapan diantara mereka, Akram hanya duduk santai sedang Aruna terus mengoceh menawari sayuran yang dijualnya.“Sepi sekali hari ini,” keluhnya.


Akram melirik sedikit peluh didahi gadis cantik itu, ia segera mengeluarkan tissu disakunya dan hendak mengusapnya.“Aku bisa melakuaknya sendiri,” Aruna menahan lengan Akran yang akan menyentuh dahinya. Akram berdecih kesal.


Hampir 30 menit mereka dipasar, tenggorakan Aruna sudah terasa kering rasanya menawari sayuran yang dinjualnya tapi tetap saja sepi pembeli. Akram tersenyum lucu melihat wajah Aruna yang merengut murung menatap jualanya yang sepi.“Payah sekali dia,” ledeknya dalam hati.


Akram berdiri dari duduknya.“Sayurannya masih segar, harga murah silakan dilihat,” ujar Akram setengah berteriak membuat beberapa pasang mata tertuju padanya, Akram terus mengoceh dengan semangat membuat Aruna hanya melongo melihatnya.


Beberapa orang pun mulai menghampirinya terutama para ibu dan gadis desa yang tentu saja terpesona dengan paras tampan Akram, mereka dengan sukarela membeli banyak sayuran hanya untuk dilayani dengan Akram. Senyum Aruna merekah saat melihat daganganya perlahan mulai menipis dan habis.“Alhandulillah semuanya habis,” Aruana tersenyum senang, menghitung beberapa uang yang didapatnya hari itu.

__ADS_1


***


Dini hari Akram tak juga bisa memejamkan matanya, berulang kali ponselnya berdering, saat pak Reno mencoba menghubunginya Akram berusaha tak menghiraukanya ia sadar banyak perkerjaan yang terbengkalai kerenanya. Akram keluar dari kamarnya, terlihat suasana rumah yang sepi, dengan langkah kaki yang sangat pelan Akram menuju kamar Aruna yang ternyata tidak terkunci.


Akram masuk kedalam mengendap ngendap bak seorang maling, matanya tertunju pada Aruna yang sedang tertidur lelap. Akram duduk disisi ranjang sejenak ia memandangi wajah istrinya itu yang memang tak pernah dipandangnya dengan lembut. Wajah cantik, hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah muda itu seakan menghinoptisnya, ia baru menyadari jika istrinya itu punya paras yang cukup menawan walaupun tanpa polesan make up.


Jemari Akram perlahan mengusap wajah Aruana, menyingkirkan sulur rambut yang sedikit menutupi wajah cantiknya. Baju tidur Aruna yang tersingkap dan sedikit memperlihatkan paha mulusnya membuat Akram menelan silvanya, rasanya ia menginginkan tubuh istrinya itu saat ini.


Jemari Akram kini beralih kepaha mulus itu, mengusapnya dengan lembut. Membuat Aruana mengeliat geli dan spontan membuaka matanya.“Akram?!” Aruana setengah berteriak, refleks Akram mencium bibir ranum itu, Aruan memberontak, mnendorong tubuh Akram sekuat tenaga.


“Apa yang kamu lakukan?” lagi lagi Akram melakukanya degan kasar, dan Aruna tak menyukai itu.


“Jangan berteriak, nanti ibumu bisa bangun,” mengingat kamar ibunya yang tepat berada disebelahnya. Aruana terdiam. Akram kembali mendekat kearah Aruna.“Aku menginnkamu,” bisik Akram, merasa hasrat ditbuhnya sudah menanas. Ia mencium daun telinga tipis Aruan dan pipi mulusnya.


“Aku tidak mau,” tolak Aruan memalingkan wajahnya saat Akram hendak kembali mencium bibirnya.


Akram tersenyum kecut.“Aku ini suami mu, aku berhak meminta hak ku,” geram Akram, baru kali ini ada wanita yang menolak sentuhanya.


“Kau selalu melakukanya dengan kasar, aku tidak suka,” balas polos Aruna yang tidak pernah mendapatkan kenikmatan dalam hubungan intmnya karena Akram selalu memaksa dan melakukanya dengan kasar.


Akram beranjak dari tubuh Aruna yang kini ada dibawahnya, mengusap kasar wajahnya.“Baikalh, aku akan melakukanya dengan lembut,” bujuknya, meraih tangan Aruna.


“Aruna, kamu sudah bangun nak,” suara ketukan pintu mengagetkan keduanya.“Aruna, kamu mau kepasar enggak?” panggil ibu, sebelum matahari meninggi mereka harus sudah sampai dipasar untuk kembali berjualan.


“Iya bu, tunggu,” sahut Aruna dari dalam kamar, melepaskan tangan Akram yang masih menggenggamnya dan bergegas keluar kamar, meninggalkan Akranm dengan kegusaranya.

__ADS_1


“Nak Akram sudah bangun belum, coba ketuk suruh sarapan,” titah ibu melirik kekamar Akram yang tertutup.


“Mungkin dia masih tidur, biarkan saja, nanti kalau sudah bangun dia pasti sarapan kok,” jawab Aruna sedikit gugup menutupi kebohonganya.


__ADS_2