Celebrity Husband

Celebrity Husband
Menyalakan diri sendiri


__ADS_3

Bab 44.


Akram dan Aruna masuk ke dalam mobilnya, Akram mengusap kasar wajahnya.


“Aaaarrgggghh!” ia memukul keras stir mobilnya/


Aruna pun terlonjak kaget, tanganya beretar takut, Akram pasti sedang meradang karena perbuatan Arga.“Maafkan aku.” lirih Aruna tertunduk. Ia hanya dapat merutuki dirinya sendiri niatnya ingin membantu Akram mencari uang yang lebih besar kini berbuntut rumit.“Biarkan saja Arga membawaku ke meja hijau, aku yakin ia tidak akan taga melakukan itu.” ujar Aruna.


“Apa katamu?” Akram menatap Aruna tajam.“Apa ia masih terlihat baik dimatamu? sampai kamu menganggap ia tak akan tega melakukan itu padamu?”


“Tidak, bukan seperti itu maksudku,” tatapan dingin Akram penuh dengan kemarahan, jemari Aruna yang bergetar mencoba meraih punggung tangan Akram, berharap emosi Akram mereda.“Ini semua kerenaku, biarkan aku yang menyelesaikanya.” ujar lembut Aruna.


“Menyelesaikan bagaimana? kau akan mengiba belas kasihanya? sudahlah aku akan memberikan uang yang diinginkanya.”


“Tapi bagaimana kita mendapatkanya?” Aruna menatap Akram tak mengerti, uang yang diminta Arga sangatlah besar, sedang perekonomin keluarga saat ini justru sedang kekurangan.


***


“Kita sudah mendapatkan uangnya.” Akram menyerahkan amplop berwarna coklat pada Aruna, hasil dari menjual mobilnya. Aruna hanya mematung, kedua bola matanya yang terasa panas menahan air mata membuat suaranya tercekat tak dapat berkata apapun.“Uang ini masih kurang, mungkin aku harus menjual rumah keluarga ku, dan kita bisa tinggal ke rumah yang lebih kecil.” sambung Akram.


Aruna menggeleng.“Jangan, jangan lakukan itu,” air mata yang berusaha di tahanya akhirnya terjatuh juga.“Aku tak mau kelurga mu ikut susah keranaku,” ucap Aruna dengan terbata bata.


Jemari Akram menyeka air mata Aruna yang semakin mengalir deras.“Itu lebih baik dari pada aku harus melihatmu bersama dengan pria lain, jika aku tak melakukan itu pria itu pasti akan menganggapku tak mampuh beratanggung jawab dan dia akan mecari kesempatan untuk merebutmu dari ku.” jelas Akram dengan pemikiranya, Akram menarik tangan Aruna, merengkuhnya tubuhnya.


“Maafkan aku.. maafkan aku,” uajr Aruna yang semakin menagis terisak di pelukan Akram.


Setelahnya mereka pun pulang.“Dari mana saja kalian kenapa pulang selarut ini?” ibu Risna yang sedang menikamati teh hijau di ruang keluarga segera melontarkan pertanyaan untuk putra dan menantunya itu.“Apa mobilmu mogok?” ibu Risna yang merasa tak mendengar suara mesin mobil Akram pun kembali bertanya.“Mobilmu sedang di bengkel?” kini matanya melihat kearah kaca di sisi pintu utama, tak ada mobil Akram yang terparkir dihalaman.

__ADS_1


“Akram jawab!” ibu Risna meninggikan suaranya, tatapanya menuntut jawaban dari Akram yang hanya diam mematung.


“Ada apa ini ribut ribut?” pak Setya yang menedegar keributan dilantai bawah pun segera menuruni anak tangga, melihat suasana panas dibwah sana.


“Maaf, aku terpaksa menjual mobilku,”


Akram akhirnya menjawab pertanyaan ibunya, namun ucapan Akram seoalah mengehentikan detak jantung ibu Risna.“Apa katamu?” nalarnya masih tak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan putranya.


“Maaf, tapi aku harus menjual mobil itu, dan kemungkinan aku akan menjual runmah ini, Aruna tertipu dengan agensi yang menaunginya harus melindunginya dari hukum.” jelas Akram.


“Apa? tertipu?” lagi lagi ucapan Akram membuat ibu Risna tak percaya dan kepalanya mendadak terasa pusing, pendanganya pun seketika mejadi gelap.


“Mah, mama!” seru Akram dan Aruna mendapati ibu Risna yang mendadak pingsan saat itu juga, mereka pun segara membawanya ke kamar.


“Mah, sadar mah,” Aruna kembali menangis, ia terus mengolesi mertunya itu dengan minyak angin berharap ibu Risna segera sadar.


“Ini salahku, lebih baik tidak usah menjual rumah ini,” ujar Aruna dengan isak tangisnya, ia tau ibu Risna pasti tak akan dapat menerima ini terlebih ini terjadi karena dirinya.


“Aruan kita ini sudah satu keluarga, jika kamu terkena masalah kami wajib membantumu nak,” suara lembut pak Setya berusaha menenagkan, ia langsung bisa menyimpulkan jika putra dan menantunya itu pasti sedang mengahdapi masalah besar.


Aroma minyak angin yang dioleskan Aruna di sekitar indra penciuman ibu Risna pelahan mampu membuat kesadaran wanita itu kembali pulih.“Mah, mama sudah sadar?” seru Aruna melihat ibu Risna yang perlahan mulai membuka kelopak matanya.


Sebelah tangan ibu Risna memegangi kepalanya yang masih terasa berat.“Aku kenapa?” ia menatap linglung suami dan putranya yang berdiri disisinya dan Aruna yang duduk diranjang.


“Mama tadi pingsan,” jawab Akram.


“Pingsan?” ibu Risna mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya, ia langsung kembali teingat dengan kata kata Akram yang cukup membuat aliran darahnya terasa terhenti sesaat.“Akram apa maksud perkataan mu tadi?” ibu Risna kemabali menatap Akram penuh pertanyaan.

__ADS_1


“Sudahlah, kita bahas itu nanti, sekarang mama istirahat saja,” balas Akram yang takut jika ibunya kembali jatuh pingsan .


“Jelaskan pada mama! jelaskan semuanya!” ibu Risna justru berteriak menuntut jawaban.


“Tenang mah, tenang.” Aruna mencoba menenangkan, memegang bahu mertunya itu namun dengan cepat ibu Risna menepis kasar tanganya.


“Akram cepat jelasakan!” desak ibu Risna.


“Aruna tertipu dengan agensi yang menaunginya, dan ia harus membayar ganti rugi, saat ini aku sedang tak punya uang, jadi aku terpaksa harus menjual mobil dan rumah kita agar Aruna terbebasa dari tuntutan hukum,” jelas Akram.


“Apa katamu? menjual rumah? lalu dimana kita akan tinggal? dimana kita akan tinggal?!” ibu Risan kemnbali berteriak yang kini diringi dengan isak tangis yang terdengar memilukan, ini seperti mimpi buruk untuknya, telah lama iya ingin terbebas dari jerat kemiskinan, baru saja ia menikmati nikmatnya menjadi orang yang berada namun kini semuanya seakan ditarik paksa, semuanya hilang.“Mama tidak mau hidup miskin lagi, tidak mau!” ibu Risna menangis sejadi jadinya ia bahkan meraung meluapkan kesedihanya.


“Tenang mah, tenang,” Aruna kemabali berusaha menenagkan.


PLAAKK!


Tamparan keras pun tiba tiba dilayangakan ibu Risna pada pipi menatunya itu,


“Mah! apa yang mama lakukan!” sontak Akram mendadak kesal melihat perbuatan mamanya itu.


“Risna apa yang kamu lakukan! Aruna tak bersalah!” timpal pak Setya yang juga langsung meradang.


“Tak bersalah katamu? dari awal semua ini kerana dia, dia yang membuat karir Akram jatuh, dan sekarang dia yang yang membuat kita semakin susah, seharusnya kamu tidak pernah masuk dalam keluarga ini!” ujar ibu Risna menatap Aruna penuh emosi.


“Cukup! jangan lagi salahkan istriku!” balas Akram yang semakin merasa geram, Akram meraih tangan Aruna, membawa Aruna keluar kamar.”Maafakan, maafkan mamaku,” Akram menatap Aruna yang hanya tertunduk diiringin dengan isak tangisnya. Akram tau perkataan ibunya pasti sangat melukai hati Aruna.


“Ini semua salahku, ini memang salahku,” Aruna kemabali merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Akram segera mendekap tubuh Aruna.“Bukan ini bukan salahmu, berhentilah berkata seperti itu.” ia mengusap lembut punggung Aruna, sampai isak tangisnya benar benar mereda.


__ADS_2