
Bab 36.
“Akram?!” bola mata ibu Risna membulat sempurna saat melihat Akram dan Aruna masuk ke rumahnya, tampak kedua tangan mereka saling bertautan.“Kalian?”
“Ya, aku dan Aruna memutuskan untuk memulai semuanya dari awal,” sahut Akram dengan senyum yang tersunging di wajahnya.
“Apa?” ibu Risna menatap Akram tak percaya.
“Syukrlah Akram, kalau hubungan kalian sudah membaik, papa senang mendengarnya,” timpal pak Setya yang mengahampiri keduanya dengan wajah yang senang.
“Akram, kamu lupa apa yang sudah dia lakukan padamu? kerena dia karirmu hancur, untuk apa kamu kembali padanya?!” seru bu Risna yang terlihat tak terima.
“Karir ku hancur bukan karena Aruna, lagipula sudah seharusnya aku melindungi istriku,” balas Akram, semakin mengenggam erat telapak tangan Aruna, melihat Aruna yang menunduk sedih mendapat penolakan dari ibunya.
“Sudahlah, kamu tak seharusnya bicara seperti itu!” pak Setya menatap kesal kearah istrinya.
“Tapi apa yang kamu bisa lakuakan sekarang? tak ada tawaran perkerjaan lagi untukmu Akram?!” wajah risau ibu Lili terlihat jelas.
“Akram, kamu bisa membantu usaha papa untuk saat ini,” tawar pak Setya yang memang membunyai beberapa usaha di bidang kuliner.
“Terima kasih pah,” Akram tersenyum senang, setidaknya ia tidak menganggur dan tetap bisa menafkahi Aruna.
“Kalian ini benar benar gila!” ibu Risna berdecak kesal dan meninggaalkan mereka.
“Tidak usah di fikirkan,” imbuh pak Setya berharap Akram dan Aruna tak mengambil hati atas sikap istrinya itu.
“Yasudah, kalau begitu aku pulang dulu.” pamit Akram yang bergegas keluar dari rumah orang tuanya, melajukan mobilnya menuju rumaahnya.
***
“Sayang,” gumam Akram dengan mata yang masih terpejam, jemarinya tak merasakan kulit halus Aruna yang semalam terus dipeluknya. Akram membuka matanya, melihat Aruna yang sedang bercermin merapihkan sulur rambut panjangnya.“Kamu mau kemana?” Akram bersandar di ranjang menatap Aruna yang sudah rapih dan cantik pagi itu.
“Kamu sudah bangun?” Aruna menoleh, berjalan kearah ranjang,“Aku mau berkerja,” jawabnya duduk disamping Akram.
“Berkerja?” Akram mengerutkan kening.“Aku kan tidak menganggur, sebaiknya kamu tidak usah berkerja,” titah Akram, merasa masih bisa menafkahi Aruna walau tak lagi berkecimpung di dunia entertaiment.
__ADS_1
“Tidak, aku ingin berkerja saja, lagi pula aku pasti akan bosan sendiri dirumah,” tolak Aruna merasa setidaknya berkerja tidak membuatnya jenuh harus mengahbisakan waktu sendiri dirumah sampai Akram pulang.“Percaya padaku,” bujuk Aruna meliha wajah ragu Akram.
“Yasudah, kalau itu mau mu,” Akram mengelus pucuk rambut Aruna.
”Aku pergi dulu,”
“Tunggu, biar aku antar,”
“Aku bisa pergi sendiri,”
“Aku antar, tunggu aku mandi sebentar,” Akram bergegas beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Setalah selesai meraka pun bergegas keluar rumah dan masuk kemobil. Beberapa kali Akram menyalahkan mesin mobilnya tapi tak juga menyalah.
“Kenapa?” Aruna menatap wajah Akram yang tampak bingung.
“Tau nih, bentar ya aku cek dulu,” Akram keluar dari mobilnya mencoba mengecek mesin mobil tersebut.“Aduh, mogok lagi,” keluh Akram sedikit bergumam kesal.
“Aku pergi naik angkutan umum saja,” sahut Aruna menghampiri.
“Tunggu, aku antar naik motor saja ya,” Akram menunjuk motor matic yang terparkir di sudut bagasinya.“Enggak apa apa kan naik motor?” tanyanya melihat Aruna yang diam mematung.
“Ayo naik,” titahnya, Aruna pun dengan semangat mendudukan tubuhnya di motor tersebut.“Sudah siap?”
“Sudah,” Akram meraih kedua tangan Aruna, melingkarkan di pinggangnya.
“Pegang yang erat ya,”
“Iya,” Aruna kembali mengulum senyum, dan memeluk erat pinggang Akram yang melajukan motornya dengan kecepatan lambat bak siput, menikmati udara pagi yang masih dingin tapi pelukan Aruna sedikit menghangatkanya, sesekali ia mengusap punggung tangan Aruna sepanjang perjalanan.
“Sudah sampai,” Akram memberhentikan motor maticnya di depan toko, dan membukaka helm yang dikenakan Aruna.
“Aku terlambat,” batin Aruna melihat jam di pergelangan tanganya, kecepatan motor yang dilajukan Akram mungkin jauh lebih cepat dari sepeda, tapi Aruna senang, rasanya ingin waktu berjalan lebih lambat. Dengan setengah berlari ia berjalan menju tokonya , beberapa detik kemudian Aruna membalikan tubuhnya, berjalan menuju Akram yang masih duduk dimotornya.
“Ada apa? apa ada yang lupa?”
“Pinjamkan tangamu,” Aruna menunjuk tangan kanan Akram.
__ADS_1
“Tangan?” Akram mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Emm,” Aruna meraih telapak tangan Akram dan tanpa ragu mencium punggung tangan suaminya itu. Sontak saja sikap Aruna itu membuat Akram mendelik kaget.
“Aruna, kenapa kau melakukan itu, apa kau tidak malu?” ujar Akram, melihat beberapa orang memandang kearah meraka dan kembali bergunjing tentang keduanya.
“Malu? kenapa aku harus malu?” Aruna justru tak mengerit dengan respon Akram.
“Aku, aku hanya merasa mungkin kamu malu mempunyai suami sepertiku,” kepercayaan diri Akram kembali menurun, mengingat masih banyak orang yang mencaci tentangnya atas perbuatanya dulu pada Aruna dan juga dirinya yang sudah tak lagi dapat berkarir membuat kepercyaan dirinya semakin hilang.
“Tidak, aku tidak pernah malu bagiku kamu tetap suami yang tetap harus ku hormati,” jawab Aruna dengan lugasnya.
Akram pun tak dapat menahan senyum yang merekah di bibirnya, mendengar ucapan Aruna yang cukup menyejukanya, Aruna memang istri idaman, Akram tak henti hentinya merutuki dirinya sendiri, mengingat betapa bodohnya dirinya dulu yang sempat meniyia nyiakan bahkan menyakiti wanita sebaik Aruna.
“Begitu, kalau begitu mendekatlah,” titah Akram kemudian.
“Mendekat?” Aruna pun memnajukan langkah kakinya satu langkah mendekat kerah Akram.
Cup.
Kecupan mesra mendarat beberapa saat di kening Aruna.“Aku sayang kamu,” bisik Akram seraya mengecup pipi Aruna yang sudah merah merona seperti tomat.
“Aku, aku masuk dulu,” ujar Aruna tersipu malu terlebih orang orang disekitarnya masih terlihat memperhatikan mereka. Aruna pun beregegas masuk kedalam tokonya. Di dalam toko Aruna masih kerap mendengar beberapa rekan kerjanya yang bergunjing tentangnya dan Akram. Aruna pun berusaha menutup telinga dan tak menghiraukan tentang orang orang yang kadang bergunjing tantang citra buruk Akram, baginya Akram sudah lebih baik membuat Aruna semakin mencintainya.
Malam hari Aruna keluar dari tokonya.“Akram?” matanya tertuju pada Akram yang sudah menunggu diluar toko dengan sepeda motornya.
“Kenapa kamu disni?” tanya Aruna menghampiri.
“Jelas aku mau menjemput istrinku,” balas Akram yang cukup gemas dengan ucapan polos Aruna.
“Oh, yasudah ayo pulang,” Aruna tanpa ragu menaiki motor Akram bahkan memeluk tubuh suaminya itu.
“Sudah berani ya,” goda Akram melihat lengan Aruna yang memeluk erat tubuhnya padahal mesin motornya pun belum menyala.
“Enggak boleh ya aku peluk suami aku?” Aruna hendak melepaskan peluknya.
__ADS_1
“Boleh, peluk semakin erat semakinb bagus.” Akram mengusap lembut punggung tangan Aruna dan melajukan motornya meninggalkan area toko, meskipun udara dinginya malam cukup menusuk kulit tapi keduanya tetap menikamtinya, merasakan kehangatan hubungan selama ini mendingin dan kaku, perlahan mencair dan semakin intens.