
Bab 6.
“Keluarlah,” Akram membuka pintu kamar tamu yang telah semalaman mengurung Aruna disana.
“Tunggu,” panggilnya, saat Akram berbalik badan, hendak pergi.
“Ada apa?”
“Apa setiap malam aku harus terkurung disini?”
“Ya, kenapa? kau mau mengadu pada papa lagi?”
Aruna menggeleng.“Aku kadang haus dan ingin ketoilet,” ucap Aruna, polos. Bagaimna tersiksanya dia saat harus menahan haus dan ingin ketoilet didalam kamar yang terkunci.
Akram mengambil ponsel Aruna di nakas.“Kirim pesan padaku jika kau ingin keluar,” Akram memasukan nomornya pada ponsel Aruna dan berlalu pergi.
Aruna kembali memulai aktifitasnya, membereskan rumah dan membuat sarapan.“Aruna, kenapa kamu masih memakai pakaian itu?” tanya pak Setya saat melihat Aruna menyiapkan sarapan.
“Pakaian?” Aruna tampak bingung.
“Mulai besok jangan pakai pakaian itu lagi,” menunjuk seragam asisiten rumah tangga yang dikenakan menantunya itu.“Dan jangan lagi memasak, biar asisiten yang lain yang mengerjakanya,” tambah pak Setya.
“Pah, kamu itu terlalu berlebihan, itu memang sudah tugasnya,” protes bu Risna mendengar ucapan suaminya.
“Berlebihan? apa kau fikir dia asisten rumah tangga, dia sudah menjadi menantu kita, itu bukan tugasnya lagi,” bela pak Setya.“Aruna, makanlah bersama kami,” ajak pak Setya pada Aruna yang masih diam mematung.
“Tidak usah tuan, saya sarapan dibelakang saja.” tolak Aruna, sungkan.
“Aruna, kebiasan keluarga kami adalah sarapan bersama, kamu sudah menjadi bagaian keluarga ini jadi harus mengikuti kebiasaan keluarga kami,” tegas pak Setya.
Aruna pun akhirnya menurut, duduk disamping Akram dan menyantap sarapan bersama. Ibu Risna berdecih kesal melihat menantu yang tidak disuakinya.
“Besok akan ada premier film baruku, aku harap kalian bisa datang,” ucap AKram disela sela sarapanya.
Aruna tertengun, memandang wajah Akram disisinya, pantas saja wajah Akram tak asing untknya, ia baru menyadari jika suaminya itu seorang aktor yang sering dilihatnya ditelevisi.
__ADS_1
“Jangan memandangku seperti itu, selera makanku bisa hilang,” ketus Akram, saat Aruna masih menelisik wajahnya.
“Kami tidak akan datang keacara premiermu, tapi Aruna yang akan menemanimu,”
“Apa?” Akram dan bu Risna tampak terkejut dengan ucapan pak Setya.
“Jangan berbuat konyol, media akan curiga jika aku pergi bersamanya,” tolak Akram mentah mentah.
“Iya, kamu itu sudah gila,” umpat kesal bu Risna pada suaminya itu.
“Dia hanya akan menemanimu, sudahlah papa ingin Aruna pergi denganmu,” tegas pak Setya menyudahi sarapanya.
“Astaga,” Akram mengusap kasar wajahnya.“Ikut aku,” Akram menarik kasar tangan Aruna keluar rumah, kemudian memberi isyarat pada supir pribadinya mendekat.“Bawa ia kesalon dan butik, ubah penampilanya, aku tidak ingin melihat penampilan kampunganya diacara ku nanti malam,” titah Akram penuh penekanan.
“Baik tuan,” supir pribadi itu mengangguk patuh dan membawa Aruna menuju salon dan butik.
***
Malam hari Akram sudah menunggu dengan gelisah disebuah hotel tempat lauching primier filmnya itu dilaksanakan. Akram memutar pandanganya, sampai matanya tertuju pada gadis cantik mengenakan dress yang membalut tubuh indahnya.“Tetap saja kampungan,” cibir Akram melihat Aruna yang tampak bingung .
Aruna hanya mengangguk pelan, tak ada pilihan lain selain mematuhi suaminya itu.
“Akram,” suara seorang pria mengagetkan keduanya.
“Pak Reno?” Akram sedikit gugup, berharap atasanya itu tidak mendengar ucapanya barusan pada Aruna.
“Acranya akan dimulai,” ucap pak Reno menghampiri.“Oia siapa ini?” menunjuk Aruna disisi Akram.
“Oh ini, asisten pribadi baruku,” Akram berusaha terlihat tenang.
“Oh,” pak Reno pun melirik Aruna sekilas dan berlalu pergi.
“Diam disini, jangan pergi kemana pun,” bisik Akram yang langsung menuju tempat acara dilangsungkan. Sorot lampu kamera tampak begitu terang menyoroti Akram. Pria berparas tampan itu tampak dengan lugas menjawab pertanyaan para wartawan tentang film terbarunya. Sedang Aruna hanya dapat memandanginya dari kejauhan, tak sedikit pun Akram melirik kearahnya, ia benar benar hanya seperti asisiten pribadinya.
Acara itu berjalan cukup lama, Aruna yang bosan pun memutuskan keluar, menuju taman hotel. Aruna meraih ponselnya, berusaha menghubungi seseorang.
__ADS_1
[Halo assalamualaikum nak,] terdengar lembut suranya wanita dibalik telepon.
[ Walaikusalam, bu.] Suara Aruna terhenti saat merasa ada tangan kasar yang merampas ponselnya.
“Tuan Akram?” Aruna terlonjak kaget melihat Akram yang sudah ada di belakangnya.
“Sudah kubilang jangan pergi kemanapun, dan jangan menelepon siapapun bagaimana jika ada media yang mendengar percakpamu,” ucap Akram, geram.
“Aku hanya menelopon ibuku,” Aruna merasa tidak ada yang salah dengan yang dilakukanya. Akram tak menaggapi dan hendak berlalu pergi.“Tunggu, kembalikan ponselku,” Aruna menahan lengan Akram.
“Kau tak butuh ponsel,” Akram enggan memberikan ponsel Aruna yang di pegangnya.
“Cukup! aku tidak ingin terkeang seperti ini, aku hanya ingin ponselku,” ucap Aruna setengah berteriak, merasa tak sanggup dengan aturan aturan aneh yang dibuat Akram.
Akram menoleh.“Jadi kau berani melawanku?” menatap Aruna dengan sorot mata menakutkan.
“Aku hanya ingin ponselku, aku ingin menghubungi ibuku,” Aruna mendongkakan wajahnya , mencoba menatap wajah angkuh itu.
“Aku tidak suka ada yang membangkang perintahku,” Akram menyeret kasar tangan Aruna masuk kedalam mobilnya, meninggalkan hotel. Tak lama dirinya sampai dirumah, Akram terus menyeret kasar tangan Aruna menuju kamar kosong yang berada didekat gudang, menghempaskan tubuhnya kasar keranjang.
“Ini tempatmu sekarang!” Aruna memutar pandanganya pada kamar kecil yang seperti sudah lama tak terpakai.
“Tidak, aku tidak ingin disini,” Aruna menggelengkan kepalanya, hendak keluar tapi Akram lebih cepat mencegahnya.
“Ini hukuman untukmu.” Akram segera mengunci kamar tersebut. Tak menghiraukan Aruna yang menangis mengetuk pintu berulang kali beraharap Akram mengeluarkanya dari runagan pengap itu.
Pagi harinya Akram melakukan perkerjaan seperti biasanya, ia berangkat lebih pada untuk jadwal syutingnya hari itu.“Astaga, aku lupa membawa propertiku,” gumamnya merasa ada yang kurang dibawanya, saing hari saat syuting itu hampir selesai.“Oya, lebih baik aku suruh si pembantu itu membawakanya,”
Akram meraih ponselnya.[ Halo mah, tolong beritahu Aruna bawakan barangku yang tertinggal dikamar,] titah Akram saat menelepon bu Risna.
[Aruna? mama enggak lihat gadis itu sejak pagi? mama fikir dia bersamamu?] bu Risna balik bertanya.
[Dia tidak ada di rumah?] Akram segera menutup teleponya.
“Kemana dia?” batinya, mengingat ingat.“Astaga, bukankah semalam aku menguncinya dekat gudang?” Akram tertengun, dirinya lupa jika telah mengurung Aruna semalam.“Dia tidak akan mati hanya karena aku mengurungnya,” batin Akram yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1